Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

UIN Adalah Universitas Paling Nanggung: Menjadi Sumber Rasa Malu, Serba Salah, dan Tidak Pernah Dipahami

Rendi oleh Rendi
16 November 2025
A A
Sudah Nanggung, UIN Bikin Mahasiswa Menanggung Malu Pula (Unsplash)

Sudah Nanggung, UIN Bikin Mahasiswa Menanggung Malu Pula (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada satu hal yang saya sesali setelah empat semester menginjakkan kaki di Universitas Islam Negeri, itu bukan soal UKT atau dosen hobi ghosting. Bukan. Keresahan terbesar saya bersifat sosial, kultural, dan spiritual. Keresahan yang membuat saya ingin mencopot label “UIN” dari kehidupan, kalau saja itu mungkin.

Menjadi mahasiswa UIN adalah sebuah seni menanggung malu yang paripurna. Kami adalah wujud nyata dari pepatah “maju kena mundur kena”. Kami adalah middle-child dalam sistem pendidikan Indonesia. Terjepit, serba salah, dan tidak pernah dipahami sepenuhnya.

Membedah keresahan lapis pertama: fenomena sakral bernama “Pulang Kampung”

Bagi kawan saya yang kuliah di kampus umum mentereng, sebut saja UI, UGM, atau ITB, libur semester adalah healing. Mereka pulang, pamer foto di kafe aesthetic, ditanya soal prospek karier di startup unicorn, atau paling banter disuruh jadi panitia 17-an. Hidup mereka normal.

Sedangkan, bagi saya yang anak UIN, libur semester adalah fit and proper test keulamaan. Mereka tidak peduli Anda di kampus banting tulang di jurusan apa. Mau Anda jungkir balik di Komunikasi Penyiaran Islam belajar framing media, atau pusing tujuh keliling di Ekonomi Syariah menghafal akad mudharabah. Di mata Bude, Pakde, dan Pak RT, semua itu tidak relevan.

Yang relevan adalah tiga huruf sakti: U, I, dan N.

Di benak masyarakat, UIN adalah Pesantren Plus yang kebetulan ada gedung rektoratnya. Lulusannya otomatis bersertifikat SNI (Standar Nasional Imam-tahlil).

Maka, jangan kaget. Malam pertama Anda di rumah, baru saja melepas rindu dengan kasur yang bau apek, tiba-tiba Pak RT sudah mengetuk pintu. “Mas, ngapunten. Nanti malam ada tahlilan tujuh hari di rumah Pak Bejo. Sampeyan yang mimpin, nggih? Sekalian kultum sedikit. Kan mahasiswa UIN.” Dunia Anda serasa berhenti berputar. Keringat dingin mulai menetes.

Anda mau bilang apa? Mau jujur kalau di kampus kerjaan Anda cuma nongkrong di basecamp UKM sambil ngopi dan gitaran? Bahwa satu-satunya bacaan Arab yang Anda kuasai di luar kepala adalah menu di warung nasi kebuli. Apa ya mau jujur kalau di mata kuliah Filsafat Islam, Anda baru saja diajari dosen cara meragukan eksistensi Tuhan?

Baca Juga:

3 Alasan Maba Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian ke UIN Palembang, Takutnya Nanti Kecewa

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan

Tidak bisa. Itu semua adalah aib.

Maka, dengan pasrah, Anda mengambil peci bapak yang kebesaran. Berbekal Google yang dibuka diam-diam di bawah sarung, Anda memimpin tahlil dengan suara gemetaran. Anda adalah Ustaz Karbitan yang dipaksa keadaan dan korban ekspektasi.

Anda adalah kiai di mata tetangga. Sebuah gelar kehormatan yang terasa seperti tamparan.

Mahasiswa UIN bisa menjadi ancaman bagi umat

Itu baru masalah pertama. Masalah kedua jauh lebih pelik. Ini terjadi ketika saya bertemu dengan kiai beneran.

Jika di kampung saya dicap sebagai “Harapan Umat”, maka di hadapan kiai sepuh jebolan Lirboyo, Ploso, atau Sarang, saya adalah “Ancaman Umat”.

Saya adalah biang kerok liberalisme. Saya adalah agen JIL. Mahasiswa UIN adalah generasi yang rusak karena terlalu banyak membaca buku. Kenapa? Sebab, di UIN inilah, saya disodori racun paling mematikan bagi pikiran lurus seorang santri: Teori Kritis.

Di UIN, saya tidak hanya diajari cara membaca kitab kuning. Saya diajari cara membongkar kitab kuning. Dosen saya, yang biasanya bergelar Doktor lulusan Australia atau Belanda, dengan santainya masuk kelas dan berkata, “Oke, hari ini kita akan dekonstruksi konsep nusus (teks) menggunakan pemikiran Hassan Hanafi.” Mampus.

Di UIN saya berkenalan dengan nama-nama yang kalau didengar kiai kampung, beliau bisa langsung istighfar seharian. Nama-nama seperti Fazlur Rahman, Asghar Ali Engineer, Amina Wadud, dan tentu saja, biang keladi segala keresahan intelektual: Hermeneutika.

Saya diajari bahwa tafsir itu tidak tunggal, fiqh adalah produk sejarah yang bisa dinegosiasi, dan perempuan boleh jadi imam salat Jumat (setidaknya secara teoretis di dalam kelas).

Kepala saya yang dulu lurus-lurus saja, kini jadi penuh tanda tanya. Saya merasa tercerahkan dan tentu merasa progresif. Lalu, dengan semangat pencerahan yang meluap-luap, saya mencoba sowan ke kiai pesantren di dekat rumah. Saya mencoba berdiskusi.

“Mohon izin, Kiai,” saya memulai dengan sopan, “Terkait hukum waris, bukankah itu kontekstual zaman Nabi? Kalau kita pakai analisis gender-nya Fatima Mernissi…”

Belum selesai saya bicara, Pak Kiai sudah meletakkan cangkir kopinya. Wajahnya memerah.

“Le, Le,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Ngaji-mu itu ketinggian. Adab-mu mana? Kamu itu baru belajar secuil ilmunya orang Barat sudah berani membantah Qur’an. Itu pemikiran liberal! Sesat itu! Ndak ada sanad-nya! Cepat kamu istighfar!”

Selesai.

Mendapat cap sesat

Saya di-skakmat. Dicap sesat. Dianggap anak hilang yang terlalu sombong karena lebih hafal nama filsuf Prancis daripada nama rawi hadis.

Maka, inilah saya. Inilah takdir mahasiswa UIN. Kami adalah spesies amfibi yang paling gagal. Kami tidak bisa hidup di dua alam. Di hadapan masyarakat awam, kami dipaksa menjadi representasi Islam paling ortodoks. Di hadapan ulama ortodoks, kami dianggap sebagai representasi Islam paling liberal.

Kami terlalu Islami untuk bergaul dengan kawan-kawan kami di kampus sekuler yang bebas. Mahasiswa UIN terlalu liberal untuk diterima di lingkaran kawan-kawan kami yang salafi murni.

Kami adalah produk nanggung. Mau jadi kiai, hafalan kami pas-pasan. Mau jadi pemikir bebas, kami masih takut kualat.

Jadi, kalau lain kali Anda bertemu mahasiswa UIN, tolong jangan suruh kami memimpin doa. Ajak saja kami ngopi. Karena di situlah satu-satunya tempat kami bisa menjadi diri kami sendiri, tanpa harus menjadi kiai atau menjadi sesat.

Penulis: Rendi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Diejek Karena Kuliah di UIN: Dianggap Harus Selalu Suci dan Paling Agamis Padahal Hanya Mau Kuliah, Bukan Mendaftar Jadi Bidadari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 November 2025 oleh

Tags: fiqihislamkiailiberalUINUniversitas Islam Negeri
Rendi

Rendi

Mahasiswa yang lebih percaya diskusi spontan di warung kopi daripada sidang pleno yang isinya saling cari muka dan lupa tujuan awal.

ArtikelTerkait

Mitos Mahasiswa UIN yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

Mitos Mahasiswa UIN yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang

2 Februari 2024
Berdamai dengan Stereotipe Alumni UIN, Satu-satunya Cara Hidup Tenang Setelah Lulus Mojok.co

Berdamai dengan Stereotipe Alumni UIN, Satu-satunya Cara Hidup Tenang Setelah Lulus

20 Maret 2025
Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial

2 Mei 2020
lembaga dakwah kampus

Jadi Anak Pendakwah Itu Nggak Selalu Menyenangkan

24 Juni 2021
mahasiswa ilmu falaq uin bintang teleskop langit bintang bulan mojok

Sisi Nggak Enak selama Menjadi Mahasiswa Ilmu Falak

10 Mei 2020
fakultas adab dan humaniora

Fakultas Adab dan Humaniora UIN yang Dikira Belajar Adab Sopan Santun

16 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
Tebet Eco Park, Spot Hits Jakarta Selatan yang Sering Bikin Bingung Pengunjung Mojok.co

Tebet Eco Park Adalah Mahakarya yang Tercoreng Bau Sungai yang Tak Kunjung Dibenahi

20 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Vespa Matic: Tampilannya Keren, tapi Payah di Jalan Nggak Rata dan Tanjakan Mojok.co

Vespa Matic, Motor Mahal yang Nggak Masuk Akal, Harga Setara Mobil Bekas, Fiturnya Minim!

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa
  • Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah
  • Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah
  • 35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga
  • Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun
  • 7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.