Sebagai orang awam yang tidak paham Teknik Planologi, melihat kemacetan di jalan raya depan Stasiun KCIC Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, buat saya mikir, “Apa dulu bangun stasiun ini nggak dipikirkan lebar jalannya?”
Pertanyaan itu terlintas di kepala saat saya terjebak kemacetan parah di kawasan Padalarang, siang itu selepas shalat Jumat. Deretan kendaraan mengular panjang dan merayap pelan di bawah terik matahari. Antrean kendaraan yang berbelok keluar-masuk pintu utama stasiun ternyata penyebab kemacetan panjang.
Stasiun megah ini berdiri sangat gagah, tetapi akses jalan di depannya sungguh memprihatinkan. Pemandangan kontras ini membuat saya mengelus dada.
Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar
Berada di dalam area Stasiun KCIC Padalarang memberikan pengalaman yang serba modern, rapi, dan futuristik. Fasilitasnya sangat bersih, ruang tunggunya dingin dan nyaman, serta kereta Whoosh melaju sangat cepat dan tepat waktu.
Layanan di dalam stasiun ini benar-benar menghadirkan sensasi fasilitas transportasi kelas dunia. Namun, seluruh rasa kagum dan kepuasan itu langsung menguap begitu saya melangkah keluar dari gerbang stasiun menuju area jalan raya.
Perbedaan situasi antara bagian dalam dan bagian luar stasiun terasa sangat ekstrem. Di dalam, segalanya diatur dengan rapi dan canggih, sementara di luar, yang terlihat hanyalah kesemrawutan lalu lintas khas area macet yang tidak tertata.
Akses Jalan Raya Padalarang di depan pintu masuk stasiun terlalu sempit untuk menampung lonjakan kendaraan penumpang yang hendak melintas. Kontras yang mencolok ini membuat saya menyadari betapa timpangnya perencanaan fasilitas utama dengan infrastruktur jalan di sekitarnya.
Lupa pelebaran jalan nih?
Kondisi ini menjadi bukti nyata betapa pembangunan infrastruktur kita sering kali alergi memikirkan pelebaran jalan. Pihak perencana dan pemerintah sangat bersemangat membangun bangunan stasiun megah serta menghadirkan kereta canggih berstandar internasional, tetapi seolah menutup mata bahwa penumpang butuh akses jalan darat yang memadai untuk sampai ke lokasi tersebut.
Laju pertumbuhan kendaraan pribadi, taksi daring, dan angkutan pengumpan di wilayah Kabupaten Bandung Barat terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Sayangnya, ukuran lebar jalan utama di depan pintu masuk stasiun tetap stagnan dan tidak pernah diperluas secara proporsional.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana mobil pribadi, motor, taksi online, hingga angkutan umum saling berebut ruang di persimpangan pintu masuk Stasiun KCIC Padalarang. Penumpukan kendaraan yang hendak berbelok ini menciptakan sumbatan parah yang melumpuhkan arus lalu lintas dari kedua arah setiap harinya.
Dilema penumpang dan asal bangun yang merugikan warga
Kondisi semrawut dan macet di Padalarang sering kali membuat saya berpikir untuk beralih menggunakan Stasiun Tegalluar saja sebagai alternatif. Namun, lokasi Tegalluar terasa terlalu sepi, terisolasi, dan jauh dari pusat aktivitas kota. Sehingga menjebak penumpang dalam dilema yang serba salah, mau menghadapi kemacetan parah di Padalarang atau merasa kesepian dan terisolasi di Tegalluar.
Pihak perencana hanya fokus menyelesaikan bangunan fisik stasiun tanpa peduli pada dampak kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan di lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya, warga lokal dan pengguna jalan umum harus menanggung kerugian waktu, energi, serta bahan bakar akibat kemacetan harian ini.
Teknologi moda transportasi masa depan yang amat mahal tidak akan pernah berdampak maksimal jika fondasi akses jalan paling dasar di sekitarnya terus diabaikan begitu saja.
Jadi, Stasiun KCIC Padalarang adalah cermin betapa rapuhnya perencanaan infrastruktur di negeri ini. Kemegahan interior dan kecanggihan kereta cepat menjadi kurang bermakna ketika akses luarnya justru menyiksa warga dan pengguna jalan.
Selama pemerintah terus mengabaikan analisis dampak lalu lintas serta laju pertumbuhan kendaraan pribadi, proyek semewah apa pun hanya akan melahirkan titik kemacetan baru yang merugikan masyarakat luas.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
