Solo Tembus Jogja? Apakah Hanya Kekerasan yang Akan Kita Wariskan Kelak?

Solo Tembus Jogja Apakah Hanya Kekerasan yang Akan Kita Wariskan Kelak (Unsplash.com)

Solo Tembus Jogja Apakah Hanya Kekerasan yang Akan Kita Wariskan Kelak (Unsplash.com)

Senin (25/7) siang. Rombongan suporter Solo berhasil tembus Jogja. Mereka membuat video di depan Tugu Jogja. Di sebuah landmark, sebuah tanda, sebuah identitas. Tak lama, rombongan bergerak masuk ke Jalan Gejayan, sebelum menuju ke Jalan Magelang. Sebuah pameran aneh yang bikin hati saya ngilu.

Senin siang, saya yakin mayoritas suporter Jogja tidak ada yang tahu bakal kejadian seperti ini. Pertama, Persis Solo akan bermain di Magelang. Wajarnya, rombongan suporter akan menghindari gesekan di perbatasan, apalagi sampai nekat masuk ke wilayah Kota Jogja. Karena tidak terduga, maka suporter Solo “masih sehat bugar” ketika bikin video di Tugu. Kalau ketahuan, bisa kamu bayangkan Senin 25 Juli 2022 akan jadi Senin berdarah.

Kedua, mungkin ada yang tahu kalau rombongan suporter Solo akan “mencoba menembus wilayah lawan”. Namun, tidak disebarkan secara masif untuk menghindari gesekan berbahaya dan saya respect dengan keputusan ini.

Namun, bukan itu yang ingin saya tegaskan di sini. Entah ini bisa disebut penegasan atau apa. Yang pasti, sebetulnya saya lelah betul dengan sepak bola Indonesia, di mana kekerasan yang terjadi sudah berwujud kedaerahan. Malas. Capek. Sedih. Semua jadi satu.

Entah, apakah suporter Solo tidak belajar dari kejadian almarhum Haringga Sirla? Sangat jahat kalau kalian sudah lupa akan nama almarhum. Apakah meninggalnya Haringga Sirla tidak cukup mengajari bahwa nyawa itu segalanya?

Persetan dengan segala atribut klub yang kalian dukung. Mau Solo, mau Jogja, mau Sleman, Bantul, Semarang, Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, mana saja. Kalian mati, kalian membusuk di dalam tanah. Klub-klub kesayangan kalian itu akan move on dan melupakan kalian. 

Yang tersisa hanya dendam yang akan diwariskan lagi dan lagi. Tidak lelah dengan semua ini?

Jahat sekali suporter sepak bola Indonesia kalau hanya bisa mewariskan kekerasan ke generasi selanjutnya. Mending kita semua tidak ada yang mengenal sepak bola, kalau olahraga ini menjadi sumber penderitaan mereka yang kalian tinggal mati dan membusuk di dalam tanah.

Saya tahu tulisan hanya akan seperti air hujan di musim kemarau. Basah sebentar, lalu hilang dihirup bumi. Tidak akan berbekas. Saya juga tahu, akan ada yang membantah dengan gagah, baik dari Solo maupun Jogja, bahwa ini “membela kesayangan” atau menggunakan dalih permusuhan sejak zaman kerajaan Mataram yang konyol sekali.

Dan sekarang, Senin sore ketika artikel ini selesai ditulis, dendam itu akan terus bersambung. Siap-siap saja suporter Jogja melakukan aksi balas dendam di perbatasan, di jalur-jalur kepulangan, atau bahkan menembus langsung ke Kota Solo. Dan itu artinya bencana.

Saya tidak tahu lagi harus bersuara kepada siapa. Ke petinggi suporter? Ke manajemen klub? Ke kepolisian? Toh kematian suporter itu tidak pernah menjadi hal yang penting banget di sepak bola Indonesia. Lihat saja di Bandung kemarin. Apakah sudah ada yang menjadi tersangka dari meninggalnya 2 Bobotoh waktu mengantre masuk stadion? Apakah pengusutannya berjalan cepat?

Sudah begitu suporter sendiri tak pernah dewasa dan mau jaga jarak dengan kekerasan. Seakan-akan, semuanya senang sekali merayakan kekerasan dan mendoktrin generasi selanjutnya bahwa darah suporter lawan itu halal.

Saya masih ingat, Dex Glenniza, mantan managing editor Pandit Football pernah bilang begini:

“Bagi sebagian besar pendukung kesebelasan, nyanyian-nyanyian suporter juga bisa menanamkan pikiran di dalam bawah sadar orang yang mendengarnya… nyanyian yang terus diulang-ulang ini, apalagi jika sudah didengarkan sejak anak-anak, akan tertanam di pikiran alam bawah sadarnya.”

Isi nyanyian ini tidak memberikan dampak secara langsung di kehidupan suporter generasi baru karena terbentur hukum negara, hukum adat, dan ajaran agama. Ia bersemayam dan akan meledak muncul ketika mendapatkan ekosistem yang dibutuhkan.

Ekosistem yang dibutuhkan adalah ketika suporter generasi baru ini berkumpul bersama pendukung kesebelasan yang sama, dengan pemikiran yang sama. Apalagi ketika mereka bertemu dengan suporter lawan. Alam bawah sadar itu menyeruak dan menjadi dorongan besar untuk merusak. Ia mendapatkan ruang untuk diekspresikan.

Kata Sigmund Freud, dorongan dari alam bawah sadar yang sifatnya naluriah dari manusia pada dasarnya bersifat destruktif. Saya sangat setuju dengan pendapat ini, apalagi ketika menggunakan konteks suporter sepak bola Indonesia. Adanya kekerasan yang diwariskan, ditanamkan dengan sangat paripurna, seperti bibit badai yang siap disemai pada waktunya.

Ya, itulah yang terjadi di Tugu, Gejayan, dan Jalan Magelang. Warisan kekerasan dari suporter Solo dan mohon maaf harus saya tegaskan, suporter Jogja. Jangan kira ini hanya 1 arah saja. Ini hanya fragmen kecil dari sejarah kekerasan yang sudah terlalu panjang. Ini hanya 1 dari banyak kejadian yang saya yakin akan terulang lagi.

Akhir kata, saya hanya bisa titip salam untuk para petinggi suporter Solo, Jogja, dan semua suporter di Indonesia. Kekerasan itu seperti candu. Ia akan bertahan lama di dalam darah. Menjadi racun bagi otak, tapi memberi rasa nikmat yang tidak terbayangkan.

Dan, kejadian Solo tembus Jogja, bisa memantik kekerasan lain, entah dalam waktu dekat atau lama. Yang pasti, usaha membangun kedamaian itu ada dan pernah saya jelaskan di sebuah tulisan. Link tulisannya saya taruh di bawah tulisan. Silakan jika berminat untuk membaca.

Lalu, untuk sekarang dan nanti, semuanya bergantung kepada niat, hati, dan akal sehat.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Senjakala Suporter Sepak Bola Indonesia: Mari Memutus Warisan Kekerasan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

 

Exit mobile version