Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati (unsplash.com)

Kalau ditanya pusat Kota Yogyakarta, hampir semua orang akan menjawab Malioboro atau Titik Nol Kilometer. Kalau ditanya pusat Gunungkidul, Bantul, atau Kulon Progo, jawabannya juga relatif mudah. Namun, coba tanyakan di mana pusat Sleman. Jawabannya hampir pasti berbeda-beda.

Ada yang akan menunjuk Jalan Kaliurang karena dipenuhi kampus dan kafe. Ada yang merasa pusatnya ada di Condongcatur karena aktivitas ekonomi tidak pernah benar-benar berhenti. Sebagian lain memilih Gamping yang menjadi pintu masuk dari arah barat. Ada juga yang menyebut Denggung karena di sana berdiri kantor pemerintahan Kabupaten Sleman. Tidak ada jawaban yang benar-benar salah.

Itulah keunikan Sleman. Kabupaten ini tumbuh tanpa bergantung pada satu pusat kota. Kalau diperhatikan, kehidupan di Sleman tidak pernah terkonsentrasi di satu titik. Kawasan pendidikan berkembang di Pogung, Karangmalang, Babarsari, Seturan, hingga Jalan Kaliurang.

Pusat kuliner menyebar ke Gejayan, Seturan, Godean, dan Gamping. Kawasan perdagangan hidup di Condongcatur, Maguwoharjo, hingga Jalan Magelang. Sementara pusat pemerintahan berada di Denggung. Semuanya berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung.

Akibatnya, orang yang tinggal di Gamping belum tentu punya alasan pergi ke Denggung dalam satu bulan. Mahasiswa yang ngekos di Seturan bisa saja lulus kuliah tanpa pernah benar-benar mengenal kawasan Tempel. Warga Ngaglik pun bisa memenuhi hampir semua kebutuhan sehari-harinya tanpa harus mendekati kantor bupati.

Sleman memang beda

Fenomena seperti ini jarang ditemukan di kabupaten lain di DIY. Di Bantul, banyak aktivitas masih mengarah ke pusat kabupaten. Di Kulon Progo maupun Gunungkidul, pusat kota tetap menjadi titik berkumpul masyarakat. Sementara Sleman justru berkembang seperti kumpulan kota-kota kecil yang hidup berdampingan.

Model pertumbuhan seperti ini membuat kemacetan, investasi, hingga pembangunan ikut menyebar. Ketika Seturan penuh, orang membuka usaha di Gamping. Ketika Gejayan mulai padat, kafe bermunculan di Jalan Kaliurang. Dan ketika harga tanah Condongcatur melambung, pengembang bergeser ke Mlati atau Ngaglik. Sleman terus tumbuh tanpa harus memindahkan semua aktivitas ke satu kawasan.

Hal itu juga dipengaruhi keberadaan kampus. Kehadiran UGM, UNY, UPN Veteran Yogyakarta, UII, UAJY Kampus Babarsari, dan berbagai perguruan tinggi lain menciptakan kantong-kantong ekonomi baru. Mahasiswa tidak hanya datang ke satu lokasi. Mereka menyebar, lalu menciptakan permintaan akan kos, warung makan, laundry, fotokopi, hingga kafe di berbagai penjuru Sleman.

Belum lagi keberadaan Ring Road, Jalan Magelang, Jalan Kaliurang, Jalan Solo, dan berbagai jalan provinsi yang membentuk jaringan pergerakan. Orang tidak perlu masuk ke satu pusat kota untuk memenuhi kebutuhannya. Hampir setiap kawasan sudah memiliki pusat aktivitas sendiri.

Menguntungkan secara ekonomi

Dari sisi ekonomi, kondisi ini menguntungkan. Pertumbuhan tidak hanya dinikmati satu wilayah. Banyak kecamatan ikut berkembang karena memiliki perannya masing-masing. Depok menjadi kawasan pendidikan dan bisnis. Gamping berkembang sebagai kawasan permukiman sekaligus jasa. Ngaglik dipenuhi perumahan baru. Mlati menjadi penyangga aktivitas kota. Kalasan tumbuh bersama kawasan industri dan bandara.

Namun, pertumbuhan yang menyebar juga membawa konsekuensi. Kemacetan tidak lagi terjadi di satu titik, melainkan di banyak kawasan sekaligus. Ruang terbuka hijau terus terdesak karena pembangunan muncul di berbagai tempat. Sawah perlahan berubah menjadi ruko, kos-kosan, atau perumahan. Pemerintah juga menghadapi tantangan yang lebih rumit karena harus mengelola banyak pusat aktivitas dalam waktu bersamaan.

Meski begitu, justru di situlah identitas Sleman terbentuk. Kabupaten ini tidak pernah menjadi kota dengan satu jantung yang memompa seluruh aktivitas. Sleman bekerja seperti tubuh yang memiliki banyak organ vital. Jika satu kawasan sedang padat, kawasan lain tetap hidup. Jika satu wilayah melambat, wilayah lain masih bergerak.

Mungkin karena itulah banyak pendatang merasa Sleman begitu luas sekaligus membingungkan. Mereka terus mencari “pusat kota” yang sebenarnya memang tidak pernah ada. Sebab kekuatan terbesar Sleman bukan terletak pada satu kawasan yang paling ramai. Kekuatannya justru lahir dari banyak pusat kehidupan yang tumbuh bersamaan, saling menopang, lalu membuat kabupaten ini terus bergerak tanpa harus bergantung pada satu titik.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Membayangkan Betapa Menderitanya Jogja Jika Sleman Menghilang Pergi, Inilah 5 Hal yang akan Terjadi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version