Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit (Pixabay.com)

Belakangan ini, fyp TikTok dan reels Instagram saya dipenuhi oleh konten-konten aesthetic bertema “Gaya Hidup Minimalis”. Isinya visual kamar serba putih, lemari baju yang isinya cuma tiga potong kaos polos, dan meja kerja yang bersih tanpa kabel berserakan. Konon, gaya hidup ini bikin jiwa lebih tenang karena kita tidak diperbudak oleh barang-barang duniawi.

Melihat fenomena itu, saya cuma bisa tersenyum kecut sambil menatap isi dompet.

Setelah saya renungkan dalam-dalam, ada salah paham yang besar di sini. Banyak orang mengira anak muda zaman sekarang mulai sadar lingkungan dan menganut paham minimalis. Padahal realitasnya jauh lebih tragis: kami terpaksa minimalis karena isi rekening kami yang minimalis!

Coba kita bedah satu per satu aturan gaya hidup minimalis ini, dan mari kita cocokkan dengan realitas kemiskinan struktural yang kami alami.

Ya karena punyanya itu doang…

First, soal isi lemari baju. Influencer gaya hidup minimalis bilang, “Saya cuma punya 5 baju utama untuk mengurangi fatigue saat memilih pakaian.” Keren, ya? Terkesan seperti Steve Jobs. Tapi kalau buat kami, isi lemari yang cuma itu-itu saja bukan karena pengen efisiensi waktu, tapi karena jemuran kemarin belum kering!

Kalau dipaksa beli baju baru, anggaran buat beli beras taruhannya. Jadi, mohon maaf, kami memakai baju yang sama tiga hari berturut-turut itu bukan karena konsep capsule wardrobe, tapi karena deterjen di kosan lagi habis.

Second, soal dekorasi ruangan. Kamar kaum gaya hidup minimalis minimalis sejati biasanya minim perabotan. Cuma ada kasur lantai, satu tanaman hias, dan satu meja kecil. Estetik sekali, bukan? Nah, kamar kostan saya juga persis seperti itu. Nggak ada lemari besar, nggak ada TV, nggak ada sofa empuk. Tapi itu terjadi bukan karena saya sedang melakukan decluttering atau membuang barang yang tidak memicu kebahagiaan (spark joy). Alasannya cuma satu: kamar kosan saya ukurannya 2×3 meter! Kalau saya nekat beli lemari dua pintu, saya tidurnya harus berdiri di pojokan.

Gaya hidup minimalis adalah sebuah kemewahan

Gaya hidup minimalis yang asli itu sebenarnya adalah sebuah kemewahan (privilese). Kenapa? Karena orang kaya punya pilihan untuk membeli sedikit barang berkualitas tinggi yang mahal. Mereka beli satu kaos polos seharga satu juta yang awet lima tahun. Sedangkan kami?

Kami beli kaos tiga puluh ribuan di pasar malam yang kalau dicuci dua kali langsung melar mirip kain pel. Mau tidak mau, kami harus beli lagi. Jadi, kemiskinan justru membuat kami gagal jadi minimalis karena barang murah cenderung cepat rusak.

Jadi, untuk para influencer di luar sana, berhenti melabeli gaya hidup hemat terpaksa kami dengan istilah aesthetic yang muluk-muluk. Kami tidak sedang mengosongkan pikiran atau mencari kedamaian batin lewat ruangan yang sepi barang. Kami cuma sedang bertahan hidup di akhir bulan.

Bagi saya dan jutaan sobat miskin lainnya, gaya hidup minimalis bukanlah sebuah pilihan spiritual, melainkan sebuah adaptasi taktis terhadap tanggal tua. Jadi, kalau melihat barang-barang saya sedikit, tolong jangan puji saya bijaksana. Doakan saja semoga bulan depan saya bisa jadi kaum maksimalis—yang bisa belanja tanpa harus kalkulatoran di depan kasir.

Penulis: Novida Aristiyani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sulitnya Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version