Sekretariat UKM kampus sejatinya adalah ruang kerja sekaligus markas kebanggaan mahasiswa. Tempat gagasan besar lahir, ruang diskusi yang hidup, dan wadah di mana suara demokrasi keras berkumandang saat rapat tiba. Tapi, apa jadinya kalau suasana itu runtuh begitu saja akibat ego segelintir pengurus?
Tiap lihat sekretariat UKM kampus, saya selalu menggerutu, ini sekretariat UKM atau barak pengungsian? Kalau mau numpang tidur dan mandi sepuasnya, jangan fasilitas bersama yang dikorbankan!
Bayangkan, ruang yang harusnya memancarkan aura intelektual, kini justru menyuguhkan bau kaus kaki berjamur begitu pintunya dibuka, lengkap dengan pakaian-pakaian pribadi yang berserakan dengan cueknya di atas etalase dokumen organisasi.
Tempat menyimpan berkas yang berubah jadi jemuran baju
Fungsi utama sebuah sekretariat UKM kampus sejatinya adalah ruang administrasi. Di sana harusnya terdapat komputer, lemari arsip, papan tulis berisi jadwal kegiatan, dan tumpukan proposal. Tapi cobalah berkunjung ke beberapa sekretariat UKM pada jam-jam rawan, seperti pagi hari sebelum kuliah dimulai atau larut malam.
Pemandangan yang disuguhkan sering kali bikin mengelus dada. Lemari arsip berubah fungsi menjadi gantungan baju ganti, sudut ruangan dipenuhi bantal lepek, dan ada aroma khas mi instan bercampur kaus kaki lembab. Fenomena mahasiswa yang mandi, mencuci baju, hingga tidur telentang di tengah ruangan dengan dalih demi organisasi adalah pemandangan sehari-hari.
Ruang kerja yang dinamis telah bergeser menjadi zona nyaman privat yang abai pada estetika dan fungsi aslinya.
BACA JUGA: Dear Senior UKM Mapala, Kenapa sih Kalian Begitu Toxic?
Dari ruang publik kampus menuju kultur poskamling
Transformasi sekretariat UKM kampus ini perlahan-lahan mulai mirip dengan fenomena sosial di luar kampus, pos ronda alias poskamling yang lama-kelamaan diakuisisi oleh oknum ormas. Awalnya, poskamling dibangun untuk kepentingan bersama warga demi menjaga keamanan.
Namun, ketika ada sekelompok orang yang mulai nongkrong 24 jam di sana, membawa perlengkapan pribadi, dan merasa paling berhak atas wilayah tersebut, warga lain justru menjadi sungkan untuk mendekat.
Hal yang sama terjadi di kampus. Ketika sebuah sekretariat UKM dikuasai oleh segelintir fungsionaris yang menjadikannya tempat tinggal, mahasiswa lain terutama anggota baru atau mereka yang hanya ingin mengurus keperluan administrasi bakal merasa risi. Ada rasa sungkan ketika harus masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya ada orang sedang tidur mendengkur atau sibuk menjemur handuk. Ruang publik kampus yang dibiayai oleh UKT mahasiswa ini akhirnya mengalami privatisasi sepihak.
Kembalikan fungsi sekretariat UKM kampus!
Alasan kemalaman setelah rapat atau ngejar deadline acara sering kali dijadikan tameng pembenaran. Tentu saja, sesekali bermalam karena urusan darurat bisa dimaklumi. Namun, menjadikannya sebuah kebiasaan hingga menetap berminggu-minggu jelas merupakan bentuk penyalahgunaan fasilitas kampus.
Jika dibiarkan, kultur ini tidak hanya merusak fasilitas, tetapi juga menurunkan profesionalisme berorganisasi. Sekretariat UKM kampus harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang kerja yang inklusif, bersih, dan profesional. Mahasiswa perlu belajar memisahkan antara ruang pribadi dengan ruang publik organisasi.
Jadi, jika kalian memang butuh tempat tidur yang bebas digunakan kapan saja dan butuh kamar mandi untuk menaruh seluruh perlengkapan mandi pribadi tanpa perlu memicu kekesalan anggota lain, solusinya sudah sangat jelas, keluarkan modal untuk membayar kamar kos, bukan malah dengan egois mengakuisisi dan merendahkan muruah fasilitas bersama di kampus.
Kalau kayak gini, nggak ada bedanya dengan oknum ormas di luaran sana yang suka mengkapling-kapling tanah orang buat kepentingan pribadi. Benar, kan?
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ikut UKM Nggak Apa-apa, tapi Tugasnya Dikerjain dong, Bos!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
