Dalam tradisi rewang, membantu tuan rumah sebenarnya adalah bentuk solidaritas yang menyenangkan. Ada yang bagian memasak, mencuci piring, menata tempat, menyambut tamu, sampai mengurus makanan dan minuman. Masalahnya muncul ketika semangat membantu berubah menjadi kebiasaan membungkus makanan sebelum acara benar-benar selesai.
Niatnya mungkin supaya tidak mubazir atau supaya orang yang rewang kebagian. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa membuat tuan rumah kelimpungan. Makanan yang seharusnya masih tersedia untuk tamu tiba-tiba menyusut drastis. Rewang yang seharusnya meringankan pekerjaan justru berubah menjadi sumber masalah baru.
Bukan sekadar soal etika
Hal paling red flag dari rewang bukan cuma soal mengambil makanan terlalu banyak. Membungkus makanan dan minuman ketika tamu masih berdatangan jauh lebih problematis. Stok konsumsi belum tentu sudah aman. Apalagi kalau makanan yang tersedia memang dihitung berdasarkan perkiraan jumlah tamu. Tuan rumah akhirnya harus menghitung ulang makanan sambil menahan panik.
Bagian paling pahit dari persoalan ini adalah ketika makanan benar-benar habis sementara tamu masih datang. Tamu tentu tidak tahu bahwa sebagian konsumsi sudah dibungkus oleh orang-orang yang rewang. Yang terlihat hanyalah tuan rumah tidak mampu menyediakan makanan atau minuman dengan cukup.
Akhirnya, nama baik tuan rumah yang ikut terseret. Tuan rumah bisa dianggap kurang memperhitungkan jumlah tamu, pelit, tidak siap mengadakan acara, atau tidak becus mengurus konsumsi. Padahal realitas di belakang meja konsumsi bisa sangat berbeda.
Tuan rumah bisa keluar uang dua kali
Inilah bagian yang sering tidak terpikirkan oleh orang yang ikut rewang dan duluan membungkus makanan. Tuan rumah sudah mengeluarkan uang untuk membeli atau memasak konsumsi dalam jumlah tertentu. Ketika makanan berkurang sebelum acara selesai, tuan rumah terpaksa membeli lagi agar tamu tidak pulang dengan perut kosong.
Artinya, satu jenis konsumsi bisa membuat tuan rumah mengeluarkan biaya dua kali. Lebih menyebalkan lagi kalau tambahan makanan harus dibeli dalam kondisi mendesak. Harga bisa lebih mahal, pilihan makanan terbatas, dan waktu untuk mencari juga tidak banyak. Ada yang akhirnya harus menghubungi penjual makanan, meminta keluarga membeli ke pasar, atau mengeluarkan stok konsumsi cadangan.
Semua dilakukan dalam keadaan panik. Takut tamu tidak kebagian. Padahal kalau makanan tidak dibungkus terlalu cepat, masalah tersebut mungkin tidak pernah muncul.
Rewang memang membuat orang yang membantu sejak awal merasa memiliki hubungan khusus dengan acara tersebut. Wajar kalau ada konsumsi untuk orang-orang yang bekerja lebih awal. Apalagi, ketika harus memasak dan menyiapkan acara sejak pagi.
Tetapi ada perbedaan besar antara mendapat jatah rewang dan mengambil konsumsi tamu sebelum waktunya. Jatah untuk orang yang bekerja seharian biasanya disiapkan secara khusus tanpa mengganggu konsumsi utama. Tapi kebiasaan buruk ini bikin semua perkiraan tuan rumah jadi kacau.
Akhirnya, tidak jarang sekarang orang yang bikin hajatan harus menyiapkan budget berlebih untuk ini. Misalnya, 1000 pak cukup untuk tamu dan rewang, kini harus menyiapkan 1500 pak, atau tak jarang yang sampai 2000. Dananya membengkak, dan itu karena kebiasaan buruk yang dinormalisasi.
Tuan rumah memilih menyelamatkan muka ketimbang ekonomi. Ya, mau gimana lagi, kan mereka tidak punya opsi.
Rewang, tradisi baik berubah jadi kebiasaan yang merugikan
Rewang seharusnya menjadi simbol gotong royong. Esensi rewang adalah meringankan beban tuan rumah. Orang datang untuk membantu supaya pekerjaan lebih cepat selesai dan acara berjalan lancar. Tetapi kalau aktivitas rewang justru membuat tuan rumah harus membeli makanan tambahan, fungsi tersebut menjadi terbalik.
Tuan rumah bukan hanya mendapatkan bantuan tenaga. Namun juga mendapatkan tagihan tambahan yang tidak direncanakan. Rewang akhirnya terasa seperti bantuan yang datang bersama biaya tersembunyi.
Ironisnya, semua itu bisa terjadi di acara yang sejak awal disiapkan dengan perhitungan matang. Rewang katanya membantu, justru bikin pemilik hajatan kena batu. Kasihan, dong.
Sebaiknya, kejadian ini jangan dianggap normal karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Ketika tuan rumah keberatan, justru bisa dianggap pelit karena menghitung makanan untuk orang yang sudah membantu. Padahal persoalannya bukan tidak mau berbagi. Dan ini menghilangkan esensi gotong royong yang harusnya dilestarikan, bukan perkara konsumsinya.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
