Shopee VIP bisa dibilang memberi kita sensasi naik kelas sosial digital. Dapat diskon lebih besar, voucher gratis ongkir yang lebih banyak bahkan pengiriman same day secara cuma-cuma tanpa drama. Kita tidak lagi sekadar pengguna, tapi prioritas.
Masalahnya adalah, prioritas memberi kita kemudahan untuk apa pun, termasuk ke perkara pengeluaran.
Sebagai pengguna Shopee VIP, saya sempat merasa hidup lebih hemat. Pernah suatu waktu saya membeli alat cukur rambut elektrik merek Kemei dengan harga sekitar Rp67 ribuan—jauh lebih murah dari harga normal. Pernah juga belanja minuman sachet, siang pesan, sore itu juga sampai. Praktis, cepat, dan terasa efisien.
Semua itu membuat saya yakin satu hal: Shopee VIP itu menguntungkan. Setidaknya, begitu perasaan yang muncul. Tapi belakangan saya sadar, rasa “hemat” itu bukan selalu fakta ekonomi, melainkan ilusi psikologis.
Diskon yang membentuk siklus ilusi
Shopee VIP bekerja bukan hanya lewat potongan harga, tapi lewat rasa aman palsu: “Ini murah, lumayan banget, sayang kalau dilewatkan”. Diskon bukan lagi sekadar potongan angka, tapi katalis pemicu keputusan. Dan seringnya, keputusan yang buruk
Dalam kondisi barang sedang diskon besar, logika kita (hampir pasti) bergeser. Kita membeli bukan karena butuh, tapi karena kesempatan. Padahal tanpa membeli barang itu pun, hidup kita tetap berjalan normal. Tidak ada hal-hal yang berubah andai kita tidak pernah membeli barang tersebut.
Masalahnya, Shopee VIP membuat hampir semua barang terasa seperti kebutuhan mendadak.
Hari ini beli alat cukur karena diskon. Besok beli minuman karena same day gratis. Lusa beli barang lain karena “mumpung lagi murah”. Setiap transaksi terasa kecil, tapi akumulasinya besar. Dan yang membuatnya berbahaya ialah perasaan merasa bersalah.
Hemat di satu barang, boros di banyak kesempatan
Secara matematis, Shopee VIP memang menghemat di satu transaksi. Tapi secara ekonomi personal, ia berpotensi membuat kita lebih sering belanja. Diskon mengurangi rasa ragu, bukan kebutuhan.
Di titik ini, Shopee VIP bukan lagi alat bantu, tapi mesin penggoda yang rapi. Tawaran yang terus-menerus, ditambah status “VIP”, membuat pengendalian diri terasa seperti fitur premium yang tidak masuk dalam pembelian.
Shopee VIP bukan masalah, kontrol diri yang bocor
Perlu digarisbawahi, bahwa Shopee VIP bukan fitur jahat. Ia membantu banyak orang, terutama untuk kebutuhan mendesak atau belanja rutin yang memang dibutuhkan. Masalah muncul ketika diskon menggantikan kebutuhan sebagai alasan membeli.
Tanpa kontrol, Shopee VIP bisa mengacaukan perencanaan keuangan. Pengalokasian uang yang harusnya bisa dikelola lebih baik malah seakan-akan menjadi nomor dua dibandingkan kesempatan masa langganan, diskonan yang menjadi dalih untuk memperlancar pengeluaran.
Setelah menyadari ini, saya mulai menahan diri dengan pertanyaan sederhana sebelum checkout:
“Kalau ini tidak diskon, apakah saya tetap beli?”
Jika jawabannya tidak, biasanya barang itu memang tidak penting.
Shopee VIP tetap bisa digunakan secara sehat—asal kita sadar bahwa hemat bukan soal harga murah, tapi soal keputusan yang tepat. Diskon hanyalah alat, yang menentukan boros atau tidak tetap pengguna.
Dan pada akhirnya, status VIP paling mahal bukan di aplikasi belanja, melainkan kemampuan menahan diri ketika semua terlihat murah.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
