Membeli rumah adalah impian banyak orang, termasuk saya. Sebagai buruh pabrik yang merantau jauh dari kampung halaman, bisa memiliki rumah sendiri terasa seperti naik level dalam kehidupan. Setelah tabungan terkuras untuk membayar uang muka, hati terasa lega ketika menandatangani akad KPR di depan petugas bank.
Dalam bayangan saya, tantangan berikutnya tunggal satu: membayar cicilan tepat waktu setiap bulan. Sudah, itu saja, dan hidup akan lancar seperti apa yang ada di kepala.
Ternyata saya terlalu naif. Hidup kerap memberi kejutan dari titik tak terduga. Saya kira mencicil biaya KPR adalah satu-satunya tantangan, ternyata, tidak. Tak hanya bank, rumah saya sendiri juga jadi tantangannya.
Setelah akad KPR, baru sadar kalau rumah baru perlu renovasi dan diisi
Rumah yang saya ambil merupakan rumah baru dari developer dengan ukuran 6 x 6 meter di lahan 6 x 15 meter. Ternyata eh ternyata, rumah siap huni dari developer belum ada dapur dan kanopi untuk parkiran. Akad KPR sudah tanda tangan, eh ternyata segalanya belum kelar.
Sebab istri saya hobi masak, tentu proyek pertama saya adalah mengubah sebidang tanah di belakang berukuran 3 x 3 meter menjadi ruangan dapur. Penambahan kitchen set dan lampu sesuai keinginan istri ternyata membuat dompet megap-megap juga.
Belum selesai urusan dapur, datang proyek berikutnya: membuat kanopi untuk parkiran. Saya yang masih hijau ini didatangi oleh bapak-bapak yang mengaku ahli pemasangan kanopi. karena tergiur harga yang miring, saya sepakat menggunakan jasa Bapak tersebut. Kami juga membuat kesepakatan bahwa pembayaran akan dilakukan setelah kanopi terpasang dan jangka waktu penyelesaian hanya 1 minggu.
Ternyata apes tidak dapat ditolak, waktu pemasangan molor hingga 1 bulan. Belum lagi mandor terus-terusan minta dibayar walaupun proses pemasangan belum selesai. Setelah jadi malah dia dengan tidak punya rasa malu menawarkan diri bisa bikinkan sekalian untuk halaman belakang. Saya hanya bisa berdoa semoga kita selalu dijauhkan dari vendor-vendor yang tidak jelas seperti ini. Aamiin.
Setelah tanda tangan akad KPR dan renovasi selesai, saya baru sadar bahwa rumah baru saya masih kosong. Tidak ada kasur untuk merebahkan tubuh lelah, lemari pakaian, hingga gorden penutup jendela senderhana pun belum ada. Baru selesai renovasi, dompet tambah kempas-kempis ditambahi beban untuk beli perabotan.
Selama tinggal di mertua, saya tidak memikirkan hal-hal seperti itu karena semua barang sudah ada. Kasur sudah disediakan, lemari pakaianpun tinggal isi saja. Rasanya baru benar-benar menjadi dewasa ketika harus memilih membeli kasur dulu atau lemari pakaian.
Biaya iuran bulanan
Pengeluaran ternyata belum berhenti di sini. Muncullah tanggung jawab yang lain seperti: membayar iuran kebersihan, iuaran keamanan hingga token listrik yang harus diisi. Belum lagi kalau mau masang PDAM. Selain harus punya uang, kita harus menyediakan toren di dalam tanah agar ketika PDAM mati kita masih punya cadangan air. Aneh sekali bukan?
Lucunya tidak ada pasangan baru yang memikirkan biaya rutin yang harus dikeluarkan setiap bulan ini. Semua orang hanya bertanya: “Cicilan tiap bulannya berapa?” Seolah-olah setelah mampu membayar cicilan, hidup berjalan tanpa hambatan. Padahal biaya iuran ini merupakan salah satu konsekuensi memiliki rumah sendiri.
Meskipun begitu, saya tidak sekalipun menyesal mengambil KPR. Dari rumah mungil inilah saya belajar banyak hal. Belajar disiplin keuangan agar cicilan KPR dan biaya pengeluaran rutin dapat terpenuhi. Selain itu saya juga belajar bahwa memiliki rumah bukanlah sebuah pencapaian, namun sebuah kesiapan menerima tanggung jawab setelah akad selesai.
Jadi apakah saya menyesal membeli rumah lewat skema KPR? Saya jawab tidak, namun saya hanya ingin menambahkan satu kalimat: jangan kira akad KPR adalah garis finish. KPR justru adalah garis start pemilik rumah untuk menerima tanggung jawab lain yang datangnya silih berganti.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
