Biaya iuran bulanan
Pengeluaran ternyata belum berhenti di sini. Muncullah tanggung jawab yang lain seperti: membayar iuran kebersihan, iuaran keamanan hingga token listrik yang harus diisi. Belum lagi kalau mau masang PDAM. Selain harus punya uang, kita harus menyediakan toren di dalam tanah agar ketika PDAM mati kita masih punya cadangan air. Aneh sekali bukan?
Lucunya tidak ada pasangan baru yang memikirkan biaya rutin yang harus dikeluarkan setiap bulan ini. Semua orang hanya bertanya: “Cicilan tiap bulannya berapa?” Seolah-olah setelah mampu membayar cicilan, hidup berjalan tanpa hambatan. Padahal biaya iuran ini merupakan salah satu konsekuensi memiliki rumah sendiri.
Meskipun begitu, saya tidak sekalipun menyesal mengambil KPR. Dari rumah mungil inilah saya belajar banyak hal. Belajar disiplin keuangan agar cicilan KPR dan biaya pengeluaran rutin dapat terpenuhi. Selain itu saya juga belajar bahwa memiliki rumah bukanlah sebuah pencapaian, namun sebuah kesiapan menerima tanggung jawab setelah akad selesai.
Jadi apakah saya menyesal membeli rumah lewat skema KPR? Saya jawab tidak, namun saya hanya ingin menambahkan satu kalimat: jangan kira akad KPR adalah garis finish. KPR justru adalah garis start pemilik rumah untuk menerima tanggung jawab lain yang datangnya silih berganti.
Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













