ADVERTISEMENT

Baru setahun diperbaiki, jalan di Lamongan selatan sudah bergelombang lagi, gini kok katanya kualitas Jerman

Baru setahun diperbaiki, jalan di Lamongan selatan sudah bergelombang lagi, gini kok katanya kualitas Jerman Mojok

Sebagai warga asli Lamongan, sejujurnya saya sudah kenyang dengan asam garam perbaikan jalan. Dahulu, setiap ada pengumuman pengerjaan jalan baru dari pemda, warlok masih bisa berharap banyak. Namun, kini kami sudah muak dengan itu. 

Puncak kemuakan terjadi saat proyek betonisasi atau pengaspalan jalan wilayah Lamongan selatan digarap. Proyek yang mulai dikerjakan beberapa waktu lalu itu diklaim punya kualitas setara jalan luar negeri. “Meski Lamongan, tapi kualitas Jerman” begitu narasinya. 

ADVERTISEMENT

Mendengar frasa “kualitas Jerman“, bayangan warlok sudah melayang jauh ke benua Eropa. Warga memasang ekspektasi tinggi. Jalanan Lamongan selatan bakal punya aspal super presisi, mulus tanpa cacat, bahkan dan bisa dipakai melaju kencang tanpa takut guncangan.

Akan tetapi, realitas di lapangan ternyata berbeda jauh. Baru juga setahun berlalu setelah proyek dinyatakan rampung, kondisi jalan Lamongan ini sudah dikeluhkan banyak orang.

Makan tuh kualitas Jerman!

Mulus di awal, bergelombang di kemudian hari

Coba sekali-kali kalian melintas di rute Lamongan selatan. Pemandangan aspal yang rata dan mulus kini berganti dengan kontur yang bergelombang di beberapa titik. Memang sih secara umum masih oke saja. Namun, guncangannya jadi terasa, tidak semulus di awal setelah perbaikan. 

Saya menjadi saksi di mana jalan tersebut mulai diperbaiki, sampai mulus, hingga akhirnya mulai bergelombang lagi. Pertanyaannya, ini Jerman mana sih yang dimaksud? Tolong bapak wakil bupati bisa menjelaskan yak. Kali saja beliau membaca tulisan ini. 

Lamongan dan takdir aspal yang tak pernah awet

Masalah jalan rusak atau bergelombang di Lamongan sebenarnya adalah cerita lama yang terus berulang dengan judul yang berbeda-beda. Pihak terkait biasanya punya seribu satu alasan logis yang siap disodorkan ke publik jika kondisi jalan mulai memburuk.

Mulai dari alasan beban muatan kendaraan yang lewat melebihi kapasitas, kondisi tanah dasar yang labil karena bekas rawa atau persawahan, hingga curah hujan tinggi yang membuat struktur tanah mengembang dan menyusut. Semua alasan itu secara teknis mungkin ada benarnya.

Akan tetapi, yang membuat warga gemas adalah janji manis di awal pengerjaan yang terlalu menggebu-gebu. Kalau memang struktur tanah di wilayah selatan itu labil dan sering dilewati truk berbobot berat, ya jangan ndakik-ndakik haus pujian. Bilang saja jujur dari awal kalau ini jalan standar lokal yang butuh perawatan berkala.

ADVERTISEMENT

Akibat promo berlebihan “kualitas Jerman” yang tidak sebanding dengan daya tahan di lapangan, warga yang saban hari melintas akhirnya cuma bisa tertawa sambil menerima takdir. Meh piye maneh, ya kan?

Berdamai dengan pemerintah daerahnya

Pada akhirnya, warga Lamongan selatan kembali dipaksa untuk bersikap legawa dan adaptif. Jalanan yang mulai bergelombang itu kini hanya bisa ditertawakan saja.

Buat para pemangku kebijakan dan kontraktor proyek di luar sana, pesan warga sebenarnya sangat sederhana dan tidak neko-neko. Kami tidak butuh label keren sekelas Jerman, Amerika, atau Jepang untuk sebuah jalan kabupaten. Yang kami butuhkan hanyalah pengerjaan yang jujur, perencanaan tanah dasar yang matang, dan niat merawat yang konsisten dari tahun ke tahun.

Sebab, pada akhirnya, yang menanggung risiko jatuh dari motor atau kaki-kaki mobil jebol akibat jalan bergelombang adalah rakyat. Rakyat yang saban hari harus mengaspal demi mengais rezeki. Para pejabat mah masih bisa duduk manis di dalam mobil dinas yang empuk.

Jadi, daripada sibuk jualan istilah luar negeri yang muluk-muluk, mending perbaiki dulu itu gelombang-gelombang aspal di selatan sebelum makin banyak titik gelombang dan tambalannya.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kutukan Jalan Jogja-Solo membuat perjalanan pulang ke Solo jadi begitu berbahaya karena bisa membunuh pengendara setiap saat  dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

 

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.