Akhir-akhir ini, saya banyak menemukan artikel yang memuja Honda Supra. Sampai saya merasa beberapa orang terlalu hiperbola ketika membahas motor tersebut. Memuja Supra itu sesat karena legenda sejati adalah Honda Super Cub, kalau menurut saya.
Iya, kalau menurut saya, pemujaan kepada Supra itu sudah berlebihan. Seolah-olah motor tersebut menjadi satu-satunya alasan Honda berjaya.
Padahal, sebelum Supra menjadi legenda warung kopi dan abang ojek, ada motor yang lebih dulu membuka jalan. Itulah Super Cub C800, yang pertama kali keluar pada 1981 dan berakhir di 1983.
Saya tidak sedang merendahkan Supra. Posisinya memang penting. Tapi, memujanya sebagai simbol utama kejayaan Honda di pasar sepeda motor roda 2 rasanya seperti memuji atap rumah tanpa mengakui jasa pondasi. Sesat.
Supra itu tidak mendadak bisa tenar. Ia besar karena jauh sebelumnya, Honda berhasil meyakinkan masyarakat bahwa motor bisa irit, bandel, dan ramah untuk siapa saja. Dan Super Cub yang mengawali semuanya.
Honda Super Cub: Si irit BBM di masa BBM tidak baik-baik saja
Awal dekade 1980-an bukan masa yang ramah bagi konsumen. Harga BBM sensitif, pilihan motor terbatas, dan efisiensi bukan sekadar nilai tambah melainkan kebutuhan. Di titik inilah Honda Super Cub C800 hadir dengan mesin 4 tak berkubikasi 86 cc dan transmisi 4 percepatan. Konsumsi BBM-nya? Bisa mencapai 115 km/liter pada kecepatan konstan 30 km/jam.
Angka itu bukan sekadar brosur. Itu pernyataan sikap Honda: motor harus bersahabat dengan dompet.
Bandingkan dengan kompetitor saat itu; Yamaha V80, Suzuki RC 80, dan Kawasaki Binter Joy yang masih mengandalkan mesin 2-tak. Lebih bertenaga, iya. Tapi juga lebih boros, berisik, dan berasap. Ketika masyarakat ingin bergerak tanpa harus sering mampir ke pom bensin, Super Cub menawarkan solusi yang terasa masuk akal untuk dompet serta lingkungan.
Motor bebek yang benar-benar “untuk semua”
Keunggulan Honda Super Cub bukan cuma di mesin. Ia unggul karena memahami pasar. Semua orang akan mudah mengendarai motor ini karena ringan, perawatannya sederhana, dan tidak mengintimidasi pengendara pemula. Pada masa itu, ini penting.
Tidak semua orang ingin atau mampu mengendalikan motor besar dan berat. Wanita, orang tua, pekerja harian, hingga masyarakat desa butuh kendaraan yang praktis dan bisa diandalkan. Honda Super Cub hadir sebagai paket komplit terdiri dari irit, awet, dan nilai jual kembali stabil.
Inilah alasan kenapa semua kelas sosial selalu mudah menerima motor bebek Honda. Dari desa sampai kota, dari jalan tanah sampai aspal perkotaan dengan hiruk pikuk kemacetan, Honda Super Cub C800 bekerja tanpa banyak drama.
Tanpa Honda Super Cub, tak akan ada Astrea dan Supra
Keberhasilan Astrea dan Supra bukan keajaiban. Itu kelanjutan. Honda Super Cub sudah lebih dulu menanamkan citra “motor irit dan bandel”. Ketika Supra hadir, ia tinggal memanen kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Supra menjadi besar karena Super Cub sudah meratakan jalan menuju kejayaan. Branding-nya jalan karena punya fondasi kokoh.
Maka, seharusnya wajar kalau ada yang menegaskan bahwa Honda berjaya bukan hanya karena Supra. Seharusnya begini: Supra berjaya karena ada Honda Super Cub yang telah merintis jalan.
Menyudahi hiperbola yang sesat
Sudah saatnya kita berhenti melakukan pemujaan berlebihan kepada Supra seolah ia adalah “titik nol kejayaan” Honda. Ia penting, iya. Tapi, simbol kesuksesan sejati Honda adalah Super Cub C800.
Kita boleh bangga pada Supra. Tapi lebih dari itu, Honda seharusnya berterima kasih pada Super Cub. Ini adalah motor kecil yang diam-diam mengantar Honda menuju masa keemasannya.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 10 Motor Honda Terbaik yang Pernah Ada
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
