Sensasi Berkendara di Jalan Raya 6 Tahun Tanpa SIM

SIM

SIM

 

Kita tahu bahwa seorang pengendara baik motor maupun mobil wajib memiliki driving license. Di negara berkode +62 ini, driving license terkenal dengan sebutan SIM. SIM merupakan surat perizinan yang diterbitkan oleh Polri. Surat tersebut diberikan kepada para pengendara yang dinyatakan lulus uji praktik mengemudi. Peraturan ini telah tertulis jelas pada Undang-undang lalu lintas.

Dengan kata lain, surat tersebut merupakan bukti bahwa kalian tertib lalu lintas. Jadi jika kalian sudah punya surat tersebut, otomatis tahu dong tentang tata tertib lalu lintas. Seperti rambu-ambu, papan petunjuk, marka jalan dan lain-lain. Hayoo…. kalian tahu gak? Mudah-mudahan kalian tahu ya.. hehehe..

Terus gimana kalau ada pengendara yang gak punya SIM berada di jalan raya? Kalau udah tahu gak punya SIM tapi nekat berkeliaran di jalan raya, ya siap-siap ditilang. Risiko pengendara tanpa SIM dari dulu emang kayak gitu. Beda lagi sama pengendara yang punya surat-surat lengkap. Ngeyel sih…

Tapi saya tidak munafik. Saya adalah salah satu pengendara yang tidak mempunyai SIM. Dan saya juga bisa dibilang pengendara yang sangat nekat bahkan ngeyel. Gimana gak nekat? Lha wong 6 tahun berkendara kemana-mana tanpa punya SIM. Gimana gak nekat?

Bukan cuma nekat dan ngeyel, tapi juga nantang. Bayangin aja 6 tahun sebagai seorang pengendara yang tidak punya surat ijin. Iya kalau cuma sampai di depan kompleks, lha sampai ke jalan raya loh. Dalam 6 tahun sebagai pengendara, saya melakukan perjalanan baik dalam dan luar kota. Bahkan saya juga pernah mengendarai mobil seorang diri sampai ke luar pulau.

Tapi gak semua berjalan mulus kok. Saya juga kadang kena tilang sama petugas lalu lintas. Mau ngeyel sama polisi juga gak bakal bisa. Alhasil saya harus rela merogoh dompet untuk bayar denda. Jika dihitung-hitung udah berkali-kali saya terkena razia. Namanya juga razia, kayak jodoh, siapa yang tau. Ehem kok baper…

Apalagi pas ada operasi besar-besaran September lalu. Mau kemana-mana kalau naik motor harus doa dulu yang kenceng. Kadang juga sering ngajak teman yang punya SIM biar aman pas ada operasi. Ngajak teman pun juga harus menyesuaikan waktu. Ribet kan? Untung aja saya punya teman yang pengertian.

Sudah berkali-kali selama 6 tahun saya terkena tilangan. Sampai saya pun juga tidak ingat, berapa kali saya harus disidang karena kasus yang sama? Sudah berkali-kali disidang, tapi entah kenapa hati saya tidak terketuk untuk mengurus SIM. Bahkan salah satu seorang polisi yang tidak bisa saya sebutkan, pernah menawari saya untuk nembak SIM. Namun begitu sombongnya saya menolak tawaran tersebut.

Entah apa yang membuat polisi tersebut menawaran pembuatan SIM? Mungkin karena kasihan lihat saya bolak-balik kena tilangan. Atau mungkin bosan lihat saya yang disidang terus-terusan? Hahhaha… entahlah saya pun juga tidak terlalu memikirkan. Hanya Tuhan dan polisi tersebut yang tahu. Saya mah gak mau tahu.

Tapi saya juga pernah dua kali lolos dari para rompi hijau. Saya ingat ketika harus pergi ke Trenggalek untuk mengirim tv saudara saya. Bukan barang yang besar banget, bisa masuk mobil pribadi. Saat memasuki Kabupaten Nganjuk, gak sengaja saya menerobos lampu merah. Akhirnya mobil saya pun diberhentikan oleh petugas yang berjaga.

Ketika petugas mendatangi mobil saya, bukan malah langsung minta surat-surat. Petugas tersebut bertanya saya mau ke mana. Saya pun menjawab ke Trenggalek atau ke rumah dinas salah satu AKBP disana. Polisi tersebut tidak percaya dan langsung menyuruh saya untuk menelpon pihak yang kusebut. Langsung kuraih ponselku dan ku coba menelpon saudaraku.

Mungkin cara yang kotor untuk dilakukan. Tapi emang itu satu-satunya pilihan. Entah apa obrolan antara petugas dengan saudaraku, saya pun tak mau tahu. Yang penting saya bisa dibebaskan dengan cepat, heheh… Btw, jangan coba-coba melakukannya di jalan raya.

Alhamdulillah, hati saya pun sudah terketuk. Mungkin juga udah capek harus ketilang polisi. Terhitung sejak 9 Oktober 2019 lalu, saya resmi punya SIM. Hehehe. (*)

BACA JUGA Impian Masa Kecil Saya Hancur Seketika Setelah Ngerasain Naik Mitsubishi Lancer Evolution atau tulisan Melina Ayu Agustin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version