Senikmat-Nikmatnya Kopi Joss Jogja, Saya Tetap Nggak Berani Coba. Lihat Arangnya Saja Sudah Ngeri Duluan

Senikmat-Nikmatnya Kopi Joss Jogja, Saya Tetap Nggak Berani Coba. Lihat Arangnya Saja Sudah Ngeri Duluan

Senikmat-Nikmatnya Kopi Joss Jogja, Saya Tetap Nggak Berani Coba. Lihat Arangnya Saja Sudah Ngeri Duluan

Kalau bicara soal minuman legendaris di Jogja, nama Kopi Joss hampir selalu masuk daftar teratas. Katanya khas. Katanya unik. Dan katanya rasanya beda dari kopi lain. Bahkan banyak wisatawan sengaja datang malam-malam ke kawasan Angkringan Lik Man demi merasakan sensasi “joss” ketika arang panas dicelupkan ke dalam gelas kopi.

Saya? Jujur saja, setiap kali lihat prosesnya, nyali langsung ciut duluan.

Bukan karena tidak suka kopi. Saya penikmat kopi, meski bukan yang terlalu pahit. Tapi setiap kali melihat segelas kopi hitam panas lalu tiba-tiba dimasukkan arang membara yang masih merah menyala, rasanya lebih mirip eksperimen kimia daripada minuman yang siap diminum. Suara “cesss” ketika arang menyentuh air kopi memang terdengar dramatis. Dari situlah katanya muncul istilah “joss”.

Semua orang terlihat antusias. Ada yang merekam dengan kamera ponsel, ada yang tersenyum lebar sambil menunggu momen pertama menyeruput. Saya berdiri agak jauh, memperhatikan, sambil berpikir dalam hati: itu benar-benar diminum?

Logikanya sih masuk, tapi…

Secara logika, memang arang yang digunakan biasanya adalah arang kayu yang dibakar bersih. Banyak yang bilang arang itu justru membantu menetralisir asam kopi dan membuat rasanya lebih halus di lambung. Bahkan ada yang percaya arang punya efek menyerap racun. Entah sugesti atau memang ada sensasi berbeda, banyak testimoni yang menyebut rasanya lebih ringan dan tidak terlalu bikin perut perih.

Tapi tetap saja, visualnya membuat saya ragu.

Mungkin ini soal kebiasaan. Kita terbiasa melihat arang sebagai sesuatu yang kotor, hitam, dan identik dengan asap dapur atau sate. Ketika benda itu tiba-tiba masuk ke dalam gelas minuman, otak saya otomatis memberi alarm kecil: “Aman nggak, ya?”

Teman-teman saya pernah mencoba. Mereka bilang rasanya tidak aneh. Bahkan cenderung seperti kopi hitam biasa, hanya sedikit ada aroma smokey yang tipis. Arangnya juga tidak hancur atau membuat kopi jadi penuh serpihan. Setelah beberapa saat, arang akan tenggelam di dasar gelas, dan kopi bisa diminum seperti biasa.

Tetap saja, saya belum tergoda.

BACA JUGA: 3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

Kopi itu perkara sensasi menyenangkan, dan kopi joss nggak ngasih itu

Buat saya, sensasi minum kopi itu soal aroma hangat yang naik perlahan, rasa pahit yang lembut, dan suasana santai saat duduk mengobrol. Sementara kopi dengan arang menyala di dalamnya terasa seperti tantangan keberanian. Seolah ada pertanyaan tak terucap: “Berani nggak?”

Padahal mungkin ketakutan saya berlebihan. Toh minuman ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap eksis sampai sekarang. Kalau benar-benar berbahaya, tentu tidak akan bertahan lama dan dicari banyak orang. Faktanya, justru jadi ikon kuliner malam Jogja.

Mungkin ini bukan soal aman atau tidak. Ini soal mental saya yang belum siap.

Ada juga faktor sugesti. Ketika sesuatu terlihat ekstrem, kita cenderung membayangkan dampak terburuknya dulu. Padahal belum tentu sesuai kenyataan. Sama seperti makanan-makanan unik lain yang awalnya terasa aneh di mata, tapi setelah dicoba ternyata biasa saja.

Saya sering berpikir, mungkin suatu hari nanti saya akan memberanikan diri. Duduk di angkringan sederhana, memesan satu gelas, lalu menunggu momen arang panas itu dicelupkan. Mungkin saya akan menutup mata saat menyeruput pertama kali. Atau mungkin saya akan tertawa sendiri karena ternyata rasanya tidak semenakutkan tampilannya.

Tapi untuk sekarang, saya masih cukup puas menjadi penonton.

Tentang rasa nyaman, bukan tantangan

Menikmati suasana malam Jogja, mendengar suara motor lalu-lalang, mencium aroma nasi kucing dan sate usus yang dibakar, dan melihat orang-orang mencoba kopi dengan arang menyala itu sudah jadi pengalaman tersendiri. Kadang, tidak mencoba pun tetap bisa menikmati ceritanya.

Lagi pula, setiap orang punya batas kenyamanan masing-masing. Ada yang langsung antusias mencoba hal unik. Ada yang perlu waktu. Dan ada juga yang merasa cukup melihat dari jauh.

Buat saya, kopi tetap soal rasa nyaman. Kalau melihat arangnya saja sudah bikin deg-degan, mungkin memang belum waktunya. Siapa tahu suatu hari rasa penasaran menang lebih dulu daripada rasa ngeri.

Tapi sampai hari itu tiba, biarlah saya jadi orang yang berkata, “Senikmat-nikmatnya Kopi Joss Jogja, saya masih belum berani.” Dan tidak apa-apa.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kopi Joss Lik Man dan Rasa yang Dirindukan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version