Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah (wikipedia.org)

Ketika menginjaklan kaki di stasiun Purwakarta saya langsung terpana, karena hanya perlu jalan kaki sekitar 5 menit sudah sampai, kita langsung disuguhi dengan berbagai fasilitas umum seperti alun-alun, museum dan lain-lain. Seakan daerah tersebut memang sudah dipikirkan dengan matang tata letak wilayahnya. Hal tersebut bertolak belakang dengan daerah asal saya yaitu Karawang, yang sangat amburadul menurut saya

Lihat Karawang. Ketika keluar dari stasiun, tidak ada yang bisa dilihat. Hanya disambut oleh barisan toko yang berjajar. Belum lagi terik panas matahari yang sangat menyengat, diperparah dengan pohon yang sangat jarang wujudnya di areal sekitar jalan.

Padahal, Karawang dulunya adalah induk dari Purwakarta sebelum memisahkan diri pada 1949. Tapi, justru Purwakarta duluan yang melesat maju. Duluan peduli pada fasum, setidaknya, menurut saya.

Saya pikir, Karawang sebaiknya mau merendahkan diri dan belajar bagaimana membuat konsep tata letak wilayah yang baik pada Purwakarta. Bisa dimulai dari  penerapancorak budaya Sunda yang sangat khas, penanaman pohon yang sesuai dengan peruntukannya. Serta, diperbanyak RTH untuk warga sekitar.

BACA JUGA: 3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

Karawang sudah punya alun-alun, tapi…

Saya tahu sudah ada alun-alun Karawang, dan ada juga Karangpawitan. Tapi itu saja tidak cukup dan lokasinya pun termasuk jauh untuk warga di wilayah Karawang Barat. Sudah begitu, daerah tersebut pun padat karena dekat dengan kawasan industri.

Ini masalah utama Kota ini. Saat membuat fasilitas umum, kerap tidak melihat kebutuhan masyarakat. Misal, RTH. Sudahlah sedikit, tak proper lagi. Maksudnya, sudah tahu daerah ini panas, kenapa tidak diperbanyak pohon besar untuk menangkal sinar matahari?

Padahal RTH di Karawang ini amat penting. Status wilayah ini sebagai kawasan urban yang padat penduduk bikin hal tersebut jadi begitu penting. Sebagai daerah penyangga ibu kota sekaligus pusat industri, Karawang menjadi magnet bagi migrasi penduduk, baik lokal maupun mancanegara.

Oleh karena itu, penyediaan RTH yang estetik, aksesibel, dan fungsional harus menjadi prioritas utama Pemerintah Daerah guna menjaga keseimbangan ekosistem di tengah masifnya pertumbuhan populasi.

Punya kesempatan, jadi, manfaatkan

Karawang sebenarnya masih punya kesempatan untuk menata diri, setidaknya, berkaca pada Purwakarta. Sebab, realisasi rute KRL menuju Karawang sudah di depan mata. Pemda harus segera menyusun strategi pengembangan wilayah yang jelas agar peluang besar ini tidak sia-sia. Persiapan yang buruk hanya akan mengubah potensi keuntungan menjadi beban.

Di tengah sorotan publik yang semakin tajam, Karawang harus mampu membuktikan jati dirinya sebagai daerah yang bersejarah sekaligus modern, bukan justru memperlihatkan ketidaksiapan.

Sayang sekali tidak memanfaatkan potensi yang dipunya. Ya mau sampai kapan Karawang hanya dijadikan daerah penyangga yang tidak dikenal. Bahkan lebih terkenal Cikampek ketimbang Karawang itu sendiri. Padahal Cikampek termasuk kecamatan yang ada di Karawang.

Mudah-mudahan Karawang semakin berbenah ke arah yang lebih baik. Mulai dari tata letak wilayahnya yang akan terkonsep dengan baik, transportasi umumnya yang nyaman dan mudah diakses, banyak RTH yang proper untuk warganya. Serta warganya semakin sejahtera karena bisa bekerja di daerahnya sendiri.

Memang Purwakarta tidak sempurna, tapi apa salahnya kita mau belajar dari kelebihan daerah tetangga. Kecuali kalau sudah puas diri dengan kondisi yang sekarang. Itu mah, rakyat nggak bisa apa-apa.

Penulis: Diaz Robigo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Karawang Memang Kawasan Industri dan Tempat Uang Berkumpul, tapi Tak Nyaman untuk Ditinggali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version