Informasi
ADVERTISEMENT

Saya warga Bangkalan Madura, saya tidak tergoda oleh UMR Surabaya dan lebih memilih kerja di kabupaten saya saja

Saya warga Bangkalan Madura, saya tidak tergoda oleh UMR Surabaya dan lebih memilih kerja di kabupaten saya saja

Saya masih betah bekerja di Bangkalan dan tidak tergoda untuk merantau ke Surabaya. Meski UMR Surabaya besar, dan UMR Bangkalan bikin sedih

Kalau mendengar gaji UMR Kota Surabaya, saya yakin banyak orang akan tertarik untuk mencari kerja di sana. Nilainya hampir mendekati UMR di Jakarta, yakni 5,2 juta. Dorongan untuk bekerja di Surabaya pun bukan cuma karena UMR-nya, banyaknya tempat hiburan hingga transportasi umum yang nyaman juga jadi alasan Surabaya menjadi kota impian banyak orang.

Tapi, mohon maaf nih, saya tak mengatakan semua ya. Saya sebagai tetangganya, yakni warga Bangkalan Madura, merasa tak punya keinginan untuk bekerja di ibu kota provinsi saya ini. Pun, sudah berkali-kali teman saya yang di Surabaya menyodorkan oprec karyawan di perusahannya, tapi jujur saya merasa PW di Bangkalan Madura. Meski ya, UMR Bangkalan tentu tidak ada apa-apanya ketimbang UMR Surabaya.

Nah, untuk kalian yang bertanya-tanya mengapa saya nyaman di kabupaten saya ini, berikut saya jelaskan alasannya!

Malas bersaing dengan ribuan pekerja di Surabaya

Dulu, saya sebetulnya menempuh jenjang S1 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Maka dari itu, ini yang bikin orang-orang heran pada saya. Mengapa saya betah kembali ke desa. Katanya, kan enak kalau bisa kerja di kota besar, gajinya juga lebih besar. Hmmm, saya hanya bisa tersenyum mendengar pendapat tetangga-tetangga saya itu.

Ketahuilah, karena saya kuliah di Surabaya, maka itulah alasan saya tidak berminat bekerja disana. Yang ada di pikiran orang-orang kan, di kota besar seperti Surabaya lowongan kerja terbuka lebar. Tapi meski lebar, yang nyari juga nyampe ribuan orang, Gaes. Jadi, semuanya kaya harus rebutan.

Bayangin, saat acara wisuda saya dulu, ada total 1500 wisudawan. Lalu, kampus saya itu setiap tahun bisa ngadain wisuda sampai 3 kali. Artinya, ada 4500 wisudawan dalam setahun di Unesa. Ingat, itu di Unesa aja, belum kampus lain di Surabaya.

Nah, faktanya lagi, kebanyakan teman seangkatan saya bilang mereka pengen kembali ke Surabaya. Katanya, mereka nggak bisa melupakan Kota Pahlawan ini. Terlalu banyak kenangan. Haduh, gimana tuh kalau ribuan wisudawan ini cari kerja di Surabaya semua?

Surabaya yang serbacepat tidak cocok untuk saya

Alasan kedua yang membuat saya tidak berkenan kembali ke Surabaya yakni ritmenya yang terlalu cepat. Eh, bukan ritmenya saja, tapi juga orang-orangnya. Hal ini saya rasakan sendiri ketika berusaha menyelesaikan tugas akhir. Ketika bimbingan bersama dosen, belum juga puas, kadang dosen saya sudah mau bergegas pindah tugas. Hadeh!

Kalau ada salah satu dari teman saya yang telat sedikit saja, dosen tidak segan meninggalkan teman saya ini. Jadi, bimbingan itu kaya harus sat-set sat-set, selesai.

Kemudian di Surabaya, waktu juga seperti terlewat tanpa terasa. Misal, ketika saya nongkrong setelah selesai kelas. Saya sudah harus berpikir kalau sebelum jam 3, saya harus berada di atas motor  dan pulang ke Bangkalan Madura. Jika tidak, saya bisa terjebak macet dan menua di jalan raya.

Nah, jika saya harus pulang jam 3 sore, sering kali tiba-tiba nyampe Bangkalan Madura udah mau jam 5. Tentu saja kalian paham mengapa ini terjadi, yakni kemacetan karena udah masuk jam pulang.

Sungguh, ini bukan saya banget yang di Bangkalan Madura serba santai dan tenang!

Meski gaji di Bangkalan Madura kecil, saya bisa slow living

Tidak tertarik bekerja di Surabaya bukan berarti saya tidak mau gaji besar ya. Tapi, di balik gaji besar tentu ada mental yang harus tetap aman. Hehehe. Nah, itulah yang saya temukan di Bangkalan Madura. Meskipun lokasi dua wilayah ini hanya dipisah jembatan, saya rasa di kabupaten saya ini kehidupan lebih santai, ya tidak terburu-buru.

FYI, saat ini saya berprofesi sebagai guru dengan gaji mendekati UMR Bangkalan. Ya, setengahnya Surabaya. Tapi, karena di desa, saya rasa gaji itu cukup untuk seorang yang masih bujang seperti saya, termasuk untuk sesekali ngopi dan sambil cari-cari calon istri. Hehehe.

Selain itu, sebagai guru, jam sekolah disini juga beda sama di Surabaya. Di sini, saya berangkat sekolah jam 7 dan pulang rumah sebelum jam 12 siang. Nah, sorenya saya bisa membaca buku atau menyiapkan pelajaran. Malamnya, saya bisa bersantai. Nah, inilah yang sebut ketenangan mental.

Ya, itulah alasan saya mengapa saya masih betah bekerja di Bangkalan Madura dan tidak tergoda untuk merantau ke Surabaya. Tapi, tentu saja pandangan ini berlaku untuk saya yang sekarang. Jika suatu hari nanti saya punya pasangan, pastilah saya cari jalan lain. Buka warung Madura 24 jam contohnya. Hehehe, sebab kalau dipikir lagi, kayanya UMR Bangkalan Madura emang nggak cukup deh buat hidup bareng anak istri.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sejarah Ringroad Jogja yang Kini Sudah Berubah Nama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.