Ada rasa canggung setiap kali ditanya, “Dulu kuliah di mana?” lalu saya menjawab dengan suara sedikit diturunkan, seolah sedang mengaku dosa kecil. “UIN Jogja,” saya jawab.
Ini bukan karena kampusnya yang tak bermutu. Ini murni persepsi saya pribadi bahwa saya memang tidak bangga pernah berkuliah di UIN Jogja. Padahal, kampus itu bukan kampus abal-abal. Masalahnya bukan di kualitas semata, tapi di persepsi. Dan persepsi, seperti kita tahu, sering kali lebih kejam daripada kenyataan.
Ada beberapa hal yang dulu membuat saya tidak sepenuhnya percaya diri sebagai mahasiswa UIN Jogja yang sekaligus alasan mengapa hari ini saya merasa kampus itu justru tidak pantas dicela.
Kuliah di Fakultas Tarbiyah (Pendidikan), tapi justru enggan jadi guru
Saya berkuliah dengan mengambil Fakultas Pendidikan (Tarbiyah—sekarang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan), jurusan yang sejak awal sudah jelas ujungnya ke mana: jadi guru. Tapi ironisnya, justru selama kuliah itulah saya sadar betapa berat profesi ini.
Ketika masih kuliah, saya belajar tentang metode pendidikan, strategi mengajar, psikologi pendidikan, cara menyusun RPP, dan lain sebagainya. Mempelajari itu semua, saya merasa betapa guru itu harus menanggung beban yang tidak ringan.
Jadi guru pun bukan cuma soal mengajar, tapi soal beban moral, administrasi, ekspektasi masyarakat, dan gaji yang sering kali tidak sebanding. Saya semakin tahu, menjadi guru bukan soal panggilan jiwa saja, tapi juga ketahanan mental dan ekonomi. Jadi kalau hari ini saya enggan jadi guru, itu bukan karena meremehkan profesinya, tapi karena terlalu paham betapa beratnya beban yang ditanggung.
Minder pada murid SD di sebelah kampus UIN Jogja
Ini mungkin terdengar lucu, tapi nyata. Di dekat kampus UIN Jogja ada SD Muhammadiyah Sapen—sekolah dasar yang SPP-nya per bulan bisa lebih mahal daripada SPP saya per semester. Ketika saya berkuliah, biaya SPP yang harus saya bayarkan per semester cuma 600 ribu rupiah, bahkan kakak tingkat saya cuma 300 ribu rupiah. Sementara biaya SPP per bulan di SD tersebut sudah jutaan.
Bayangkan: saya mahasiswa, calon sarjana, tapi secara finansial masih kalah “mahal” dari anak SD yang baru belajar pecahan. Saya berkuliah di jenjang pendidikan tinggi, anak SD itu baru mengawali pendidikan dasarnya. Tapi saya berangkat ke kampus cuma dengan motor sementara mereka diantar mobil dengan sopir pribadi. Ini jelas kesenjangan.
Di situ saya mulai sadar bahwa pendidikan tinggi tidak selalu identik dengan kelas ekonomi atas. UIN adalah kampus tempat orang-orang dari kelas menengah—bahkan menengah ke bawah—berusaha naik kelas lewat ijazah.
BACA JUGA: UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara
Percaya diri bertingkat berdasarkan kampus lawan bicara
Ini pengakuan paling jujur sekaligus paling memalukan. Saya kurang percaya diri kalau bertemu mahasiswa UGM. Ada rasa kecil yang muncul otomatis, meski jarak kampus kami secara geografis hanya hitungan menit. UGM itu terkenal sebagai kampus yang elite, para mahasiswanya pintar, dan SPP-nya sangat mahal.
Anehya, rasa itu tidak muncul ketika bertemu mahasiswa UNY. Mungkin karena UNY itu seperti UIN; tidak terlampau elite dibandingkan UGM dan SPP-nya juga hanya lebih mahal sedikit dari UIN.
Padahal, UIN, UGM, dan UNY itu bertetangga. Jalan kaki sedikit sudah beda almamater, beda pula rasa percaya diri. Ternyata, inferioritas itu sering kali bukan soal kemampuan, tapi soal label.
Kuliah di UIN ambil (jurusan) apa?
Orang-orang sering bertanya, “Kuliah di UIN ambil apa?” Dengan mantap saya jawab, “Ambil hikmahnya saja.”
Dulu hal seperti ini terdengar seperti penghiburan. Sekarang, saya justru mengangguk pelan. UIN Jogja mengajarkan saya bertahan. Saya bertahan hidup dengan uang pas-pasan. Bertahan dengan perasaan minder. Bertahan di tengah perbandingan yang tidak pernah adil. Kampus ini mungkin tidak memberi kebanggaan instan, tapi memberi ketahanan. Dan itu tidak kecil nilainya.
BACA JUGA: Berbeda dengan Anak UIN Jakarta, bagi Lulusan UIN Jogja, Label Liberal Adalah Berkah
Tidak hanya hikmah yang didapat, tapi juga istri
Orang-orang bilang, kuliah di UIN itu pulangnya membawa hikmah. Saya setuju, tapi pengalaman saya agak melampaui jargon itu. Selain hikmah hidup, saya juga pulang membawa pasangan. Istri saya temukan di kampus yang sama—di antara kelas, tugas, dan obrolan receh khas mahasiswa.
Di titik ini, saya merasa UIN Jogja terlalu sering diremehkan. Bukan cuma mencetak sarjana, tapi juga mempertemukan dua orang yang sama-sama sedang berjuang secara ekonomi dan mental. Kalau kampus lain bangga dengan jejaring alumninya, UIN setidaknya bisa bangga karena sebagian mahasiswanya pulang dengan ijazah dan calon keluarga.
**
Biar bagaimanapun, UIN Jogja telah memberikan saya banyak hal. Dengan biaya yang murah, saya sudah mendapat gelar sarjana, gelar yang tampak begitu masih prestisius secara sosial di kampung saya. Terlebih lagi UIN bukanlah kampus abal-abal.
Namun, tetap saja UIN bukan kampus yang harus dipuja berlebihan, tapi juga sama sekali tak layak dicela. Ia bekerja diam-diam, menampung banyak harapan kelas menengah yang tidak punya banyak pilihan selain bertahan dan belajar.
Dan mungkin, rasa tidak bangga itu bukan kesalahan kampusnya, tapi cara saya memandang diri sendiri. Karena pada akhirnya, ijazah hanya kertas. Yang benar-benar diuji adalah: setelah lulus, kita mau jadi apa—dengan segala keterbatasan yang pernah kita bawa dari bangku kuliah.
UIN Jogja kini sudah banyak berubah dari berbagai sisi. Fakultas dan jurusan makin banyak. SPP-nya juga mengalami kenaikan signifikan karena pakai sistem UKT. Kampus UIN Jogja yang dulu terkenal sebagai “kampus rakyat” lantaran rakyat jelata berekonomi pas-pasan macam saya bisa mengenyam pendidikan tinggi, sekarang justru tidak demikian.
Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Keunikan UIN Jogja, Mahasiswanya seperti Nggak Kuliah di Kampus Islam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
