Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

Putri Ardila oleh Putri Ardila
29 Januari 2026
A A
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu (desatepus.gunungkidulkab.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Di desa, ada satu indikator paling sederhana untuk menilai apakah seseorang itu “wong apik” atau tidak: mau rewang atau tidak. Kalau datang rewang, kamu dianggap peduli dan srawung. Kalau tidak, sudahlah, tamat riwayatmu.

Kesannya memang berlebihan, tapi memang hidup di desa itu tidak seindah konten slow living orang kota. Biaya sosial di desa memang amat tinggi, dan kadang bayarannya, tenaga dan kehadiran. Jika tidak mau atau tidak bisa membayarnya, maka akan dicap buruk, seperti antisosial.

Masalahnya, tidak semua orang yang tidak datang rewang itu antisosial. Bahkan bisa jadi, orang yang menolak datang adalah orang tersupel yang pernah ada. Hanya saja, mereka memilih tak muncul karena trauma.

Masalahnya, tidak semua orang yang enggan rewang itu antisosial. Sebagian dari kami hanya trauma.

Rewang, secara konsep, sebenarnya mulia. Budaya saling bantu saat ada hajatan. Di teori kebudayaan, ini disebut solidaritas sosial. Di praktik lapangan, sering berubah jadi ajang penilaian massal. Begitu kamu turun ke lapangan, kamu bisa diapresiasi atau dicaci tergantung performa.

Contoh, salah potong bawang, langsung kena. Masak kurang asin, jadi bahan bisik-bisik. Gerak terlalu pelan, dicap “ora cekatan”. Terlalu inisiatif, dibilang sok pinter. Maju kena, mundur kena.

Dan celakanya, semua komentar itu jarang disampaikan langsung. Mereka disimpan, dibahas pelan-pelan, lalu disebarkan lewat jalur paling efektif di desa: obrolan ibu-ibu sore hari.

BACA JUGA: Mengenal Personel Rewang Berdasarkan Tugas dan “Kastanya”

Baca Juga:

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

Tradisi Rewang di Desa: Gotong Royong yang Kini Jadi Ajang Pamer

Niat rewang tulus, pulang penuh penyesalan

Saya pernah datang rewang dengan niat tulus, benar-benar ingin membantu. Tapi sejak menit pertama, sudah sadar satu hal: di dapur rewang, niat baik saja tidak cukup. Harus punya skill. Harus tahan mental. Dan harus siap dibandingkan dengan orang lain yang “dari dulu emang pinter urusan dapur”.

Begitu salah sedikit, cap-nya nempel lama.

“Kemarin itu lho, yang motong-motong tapi nggak rapi.” “Oh iya, yang itu ya? Emang anaknya nggak biasa bantu.”

Sejak saat itu, rewang bukan lagi aktivitas sosial. Orang-orang seakan mengujimu, jika gagal, mereka akan menghakimimu dengan kejam. Dan yang menyedihkan lagi, orang-orang ini kerap menghukum generasi muda. Entah dibilang nanti jadi istri gimana, ngurus rumah gimana, mertua bakal ngomong ini itu lah.

Padahal tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang menuntut bisa masak sejak kecil. Ada yang dibesarkan untuk sekolah. Ada yang lebih sering pegang buku daripada ulekan. Tapi desa jarang mau tahu konteks. Yang dilihat cuma hasil.

Maka jangan heran kalau akhirnya banyak orang memilih tidak datang rewang. Mereka tidak datang bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak kuat secara mental. Datang niat bantu, pulang bawa rasa malu.

Lucunya, ketidakhadiran itu justru memperkuat stigma baru. “Anaknya kok nggak pernah kelihatan rewang?” “Sekarang anak muda emang pada individualis.”

Individualis your head.

BACA JUGA: 10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul

Tidak ramah pada pemuda

Padahal kalau mau jujur, ini bukan soal individualisme. Ini soal ruang sosial yang tidak ramah pada kesalahan, dan pada umumnya, pada anak muda. Rewang seharusnya jadi tempat mereka belajar dan mengenal budaya. Kalau salah dikit kalian hukum, terus gimana mau mereka berbaur dan paham?

Saya tidak antisosial dan anti-rewang. Tapi saya ingin membantu dan tidak berakhir malu. Ketimbang capek tapi malu, mending nggak usah ikut sekalian. Kalian para generasi tua, baiknya belajar mengapresiasi dan menunjukkan yang benar seperti apa. Sebab saya yakin, di waktu muda, kalian sama payahnya dengan saya. Hayo, ngaku!

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: Budaya Rewanghajatan di desarewangsolidaritas sosial
Putri Ardila

Putri Ardila

Mbak-mbak bermata minus yang nulis buat bertahan hidup dan berharap suatu hari bisa keliling dunia tanpa harus berhenti menulis.

ArtikelTerkait

Tradisi Rewangan Adalah Ajang Kompetisi MasterChef Indonesia Versi Local Pride

27 Mei 2021
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu  

29 Oktober 2024
10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul Terminal Mojok.co

10 Istilah Job Desc Rewang Saat Hajatan di Gunungkidul

23 Maret 2022
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Tradisi Rewang di Desa: Gotong Royong yang Kini Jadi Ajang Pamer

23 Agustus 2025
Tidak Ada yang Sempurna dari Hajatan Nikah di Jawa Tengah, Banyak kok Kekurangannya!

Tidak Ada yang Sempurna dari Hajatan Nikah di Jawa Tengah, Banyak kok Kekurangannya

23 Juli 2024
Hal yang Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya terminal mojok

Hal-hal Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya

1 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja (Wikimedia Commons)

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

26 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

7 Indikator Absolut yang Membuat Purwokerto dan Salatiga Adalah Tempat Terbaik Untuk Slow Living di Jawa Tengah

1 April 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.