Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Serial

Saya Sadar Dracin Tidak Bermutu, tapi Saya Tetap Menontonnya sampai Tamat

Lahiq Murtadla oleh Lahiq Murtadla
8 Januari 2026
A A
Saya Sadar Dracin Tidak Bermutu, tapi Saya Tetap Menontonnya sampai Tamat

Saya Sadar Dracin Tidak Bermutu, tapi Saya Tetap Menontonnya sampai Tamat (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tidak tahu persis di titik mana hidup saya mulai kehilangan hak untuk merasa sok bermartabat. Mungkin ketika suatu malam, tanpa ada pertengkaran batin yang berarti, saya mendapati diri saya duduk diam, menatap layar ponsel secara vertikal, menikmati dracin dengan rasio 9:16 dan durasi 1–5 menit per video. Bukan satu atau dua video, tetapi rangkaian potongan cerita yang terasa tidak berujung.

Ini bukan tontonan yang saya cari. Ia datang sendiri, lewat algoritma TikTok, dengan percaya diri, seperti rekomendasi lagu yang terasa salah di awal, tetapi tiba-tiba cocok setelah diputar berulang kali. Sekali lewat, saya biarkan. Dua kali lewat, mulai saya lirik. Tiga kali lewat, saya menyerah.

Dracin mirip FTV

Drama Cina ini judul-judulnya senada dengan FTV. Tidak kreatif, tidak subtil, dan tidak malu-malu. Sebut saja Istriku Tiga, Takdirku Gila, Suami untuk Tiga Tahun, atau Rahasia di Balik Orang Tua Sederhana. Ide ceritanya pun tidak jauh-jauh dari romansa atau balas dendam yang dibumbui konflik strata ekonomi dan status sosial. Tentang CEO dingin yang trauma masa kecilnya tidak pernah benar-benar sembuh, perempuan miskin yang terlalu baik untuk dunia yang jahat, mertua kejam yang konsisten jahatnya dari episode pertama sampai terakhir, dan cinta yang selalu tertunda karena salah paham yang seharusnya bisa selesai dalam dua menit percakapan dewasa.

Kualitas akting para pemainnya juga setipe. Ekspresi wajahnya tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk menandai siapa yang sedang marah, siapa yang sedang terhina, dan siapa yang sedang menahan tangis sambil tetap terlihat cantik. Wardrobe-nya (terlihat) mahal, mengkilap, dan sering kali terasa tidak punya hubungan logis dengan situasi adegan. Tapi tidak apa-apa, logika memang bukan tujuan utama di sini.

Soal scoring, jangan ditanya. Musiknya menggelegar dan dramatis. Kadang muncul bahkan ketika tokohnya hanya berdiri, diam, dan merenungi hidupnya sendiri. Seolah penonton perlu diingatkan bahwa adegan ini penting, meskipun yang terjadi hanya tatapan kosong ke arah jendela.

Secara objektif, tontonan seperti dracin ini seharusnya mudah untuk ditinggalkan. Tidak ada kebaruan. Tidak ada kualitas artistik yang bisa dibanggakan. Terlebih kalau saya jujur, ini juga bukan jenis tontonan yang ingin saya ceritakan ke orang lain dengan bangga. Tapi masalahnya bukan di situ.

Masalahnya, saya betah.

Bikin penasaran

Saya menonton sampai akhir setiap potongan video dracin. Bukan karena ceritanya bagus, tapi karena ia selalu tahu kapan harus berhenti. Tepat di momen paling tidak sopan. Ketika tokoh utama hendak membuka rahasia besar, ketika pintu kamar mulai terbuka, atau ketika tangan seseorang sudah terangkat untuk menampar, videonya selesai. Tanpa permisi dan tanpa peringatan.

Baca Juga:

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Jari saya refleks menggeser ke atas. Lanjut scroll ke atas lagi dan lagi. Bukan karena saya menikmati, tapi karena saya ingin tahu. Apesnya, rasa ingin tahu ini dipelihara dengan sangat konsisten.

Pada satu titik, saya mulai menyadari bahwa cerita ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk selesai di TikTok. Selalu ada potongan yang hilang. Selalu ada lanjutan yang dikunci. Maka saat itulah momen yang paling menyedihkan itu datang: saya mengunduh aplikasi streaming-nya kemudian berlangganan.

Dengan sadar. Tanpa ancaman. Tanpa paksaan.

Saya mengunduh aplikasi demi menamatkan cerita yang, beberapa jam sebelumnya, tidak pernah saya niatkan untuk tonton. Pada momen itu, saya merasa perlu berhenti sejenak dan mengakui sesuatu: ini bukan lagi soal dracin murahan. Ini soal bagaimana saya, dan mungkin banyak orang lain, dikalahkan dengan cara yang sangat efisien: hal yang masih gagap dilakukan oleh birokrasi pemerintah kita.

Orang Cina, atau siapapun otak di balik hiburan ini, rupanya berhasil memadukan formula hiburan yang nyaris mematikan. Cerita panjang dipecah menjadi potongan pendek format TikTok. Setiap potongan wajib diakhiri dengan cliffhanger.

Semua dibungkus dengan scoring ala sinetron Indosiar yang selalu terdengar seperti dunia akan runtuh dalam hitungan detik. Formula ini tidak mencoba mendidik. Ia tidak mengajak berpikir. Ia hanya ingin satu hal: membuat penonton bertahan.

Kenyataannya, saya bertahan menonton dracin dengan sukarela.

Cukup diam dan nikmati saja

Saya mungkin masih merasa lebih pintar karena sadar bahwa dracin tontonan yang tidak bermutu. Saya masih bisa mengkritik. Masih bisa menertawakan.

Akan tetapi pada saat yang sama, saya tetap menonton. Tetap lanjut. Tetap ingin tahu bagaimana akhirnya. Ternyata, dewasa ini menahan rasa malu jauh lebih mudah daripada menahan rasa penasaran.

Ada juga rasa bersalah kecil yang muncul setelahnya. Bukan karena menonton dramanya, melainkan karena saya menikmatinya tanpa perlawanan berarti. Tidak ada usaha untuk berhenti. Tidak ada niat serius untuk mengalihkan perhatian ke tontonan yang saya anggap lebih berkualitas. Semua pembenaran terasa rapuh ketika berhadapan dengan satu fakta sederhana: saya butuh distraksi yang tidak menuntut apa-apa.

Dracin tidak meminta saya berpikir terlalu jauh. Tidak menuntut empati yang rumit. Tidak pula mengharuskan saya menjadi penonton yang cerdas.

Saya cukup hadir, duduk diam, dan mengikuti alur yang sudah disiapkan. Dalam dunia yang serba menuntut atensi, opini, dan sikap, tontonan seperti ini justru terasa seperti tempat singgah. Terasa nyaman nan akrab.

Kekuatan dracin yang sesungguhnya

Mungkin di situlah kekuatannya. Dracin tidak benar-benar menjual cerita. Ia menjual jeda dan menjual ketidakselesaian. Ia memelihara rasa menggantung dengan disiplin yang kejam. Dan kita para penonton yang merasa masih punya kendali atas pilihan sendiri, dengan senang hati menyerahkan waktu, perhatian, dan sedikit harga diri demi akhir sebuah cerita.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibahas. Tentang algoritma yang bekerja lebih jujur daripada manusia. Tentang bagaimana format vertikal pelan-pelan mengubah cara kita menikmati cerita, cara kita bosan, atau tentang bagaimana kita pelan-pelan lebih butuh cerita yang tidak selesai, alih-alih yang bagus.

Akan tetapi, cukup sampai di sini dulu. Soalnya ada dracin yang saya jeda ketika menulis ini. Maka demi menghindari tragedi dikarenakan hal yang menggantung seperti kisah cinta para pembaca, tontonan drama Cina ini harus saya rampungkan.

Penulis: Lahiq Murtadla
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Rekomendasi Drama Cina Bergenre Romance.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: dracindrama cinaNontonnonton dramanonton drama cina
Lahiq Murtadla

Lahiq Murtadla

Seorang Plegmatis-Melankolis

ArtikelTerkait

Menonton Film Adaptasi Novel yang Pernah Dibaca di Mana Menariknya? terminal mojok.co

Rating Sebuah Film Nggak Perlu Dipercaya Sampai Kita Nonton Filmnya Sendiri

12 Oktober 2020
bioskop

Membuang Sampah Sendiri Seusai Nonton di Bioskop adalah Perkara Kemanusiaan

15 Juli 2019
Romantisasi Bioskop Era 2000-an: Tiket Manual dan Promo Nonton Hemat Tiap Senin terminal mojok.co

Romantisasi Bioskop Era 2000-an: Tiket Manual dan Promo Nonton Hemat Tiap Senin

29 Oktober 2020
5 Alasan Drama Cina Kalah Hype ketimbang Drama Korea

5 Alasan Drama Cina Kalah Hype ketimbang Drama Korea

21 Juni 2022
5 Hal yang Bikin Malas Nonton Serial Netflix Terminal Mojok

5 Hal yang Bikin Malas Nonton Serial Netflix

17 Januari 2023
Tokoh Sang Zhi Hidden Love Ngasih Tahu Betapa Nggak Enaknya Jadi Anak Bungsu Perempuan

Tokoh Sang Zhi “Hidden Love” Ngasih Tahu Betapa Nggak Enaknya Jadi Anak Bungsu Perempuan

16 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Alas Purwo Banyuwangi Itu Nggak Semenyeramkan Itu kok, Kalian Aja yang Lebay alas roban

Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam

19 Februari 2026
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras

18 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.