Informasi
ADVERTISEMENT

Muak dicap hama jalanan hanya karena saya naik kendaraan plat K

Muak dicap hama jalanan hanya karena saya naik kendaraan plat K Mojok.co

Saya orang Blora yang plat kendaraannya berawalan huruf K. Saya sering nggak marah karena tiba-tiba dicap ugal-ugalan dan hobi onar di jalan raya. Padahal, saban hari saya berkendara seperti kebanyakan orang, seperti orang pada umumnya. 

Saya tidak mau memungkiri, di luar sana memang banyak pengendara plat K yang ugal-ugalan, tidak tertib, dan seenak jidat ketika parkir. Kegoblokan macam itu memang ada, dan saya juga pernah melihatnya. Tetapi, menjadikan perilaku mereka sebagai gambaran seluruh pemilik plat K rasanya juga kurang atau bahkan nggak tepat.

Keresahan soal pengendara Plat K yang tidak kurang bijak saat dijalan akhir-akhir ini sering saya lihat di akun menfes. Bahkan, kritik tersebut bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Akun menfess sendiri sebenarnya punya sisi yang menarik. Orang bisa menyampaikan pengalaman dan keresahannya tanpa harus membuka identitas atau berhadapan langsung dengan orang yang dikritik.

Ruang seperti ini amat memungkinkan orang mengatakan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan secara langsung tanpa perlu khawatir untuk dihakimi atau bahkan diparani. Namun, kebebasan itu juga punya persoalan ketika keluhan terhadap perilaku individu mulai berubah menjadi penilaian terhadap kelompok atau komunal.

Bagi saya, persoalannya sekarang bukan lagi soal apakah pengendara plat K boleh dikritik atau tidak. Tentu saja boleh. Yang menjadi masalah adalah ketika sebuah pelat nomor mulai dianggap sebagai gambaran perilaku pemiliknya, ini yang amat keliru. Plat K itu identitas wilayah kendaraan, bukan cerminan kelakuan pengendaranya.

Pelat K bukan musuh di jalan

Sebelum artikel ini saya lanjutkan, mari kita samakan persepsi terlebih dahulu bahwa orang yang menggunakan pelat K tidak semuanya berkendara dengan cara yang sama. Sama seperti pengguna plat H, AD, B, AB, R, atau plat lainnya. Ada yang tertib, ada yang ceroboh, ada yang santai, ada pula yang memang bikin pengguna jalan lain ingin memaki.

Masalahnya, pengalaman buruk memang akan lebih mudah diingat. Misal, kita memang sempat bertemu dengan pengendara plat K yang memotong jalan sembarangan, kejadian macam ini pasti nggak akan mudah dilupakan. Padahal bukan tidak mungkin sebelumnya di perjalanan yang sama kita sudah bertemu puluhan bahkan ratusan kendaraan berplat K yang tertib dan bijak saat melintas aspal.

Maka, sudah seharusnya yang kita nilai adalah perilaku pengendaranya, bukan dari mana pemilik kendaraan itu berasal. Kalau ada yang ugal-ugalan, maka tegur atau kritik kelakuannya. Kalau parkir sembarangan, persoalkan cara parkirnya. Jangan karena satu atau dua orang membuat kesalahan, tapi seluruh orang yang kebetulan memiliki kode kendaraan yang sama ikut mendapatkan penghakiman. Nggak adil, kan?

Plat kendaraan bukan acuan untuk mengukur ketertiban berkendara

Merujuk pada Undang-Undang 22/2019 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) pada dasarnya berfungsi sebagai bukti registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor.

Artinya, keberadaan plat nomor berkaitan dengan urusan administrasi dan identitas kendaraan, bukan untuk menunjukkan karakter atau perilaku orang yang mengendarainya.

Dari plat nomor, kita bisa mengetahui kendaraan tersebut terdaftar di wilayah tertentu, tetapi belum tentu mengetahui apakah orang di balik setang sedang terburu-buru, berhati-hati, atau justru ugal-ugalan.

Karena itu, menyematkan plat nomor sebagai ukuran ketertiban berkendara jelas tidak memiliki dasar yang masuk akal. Pelat K dan Pelat dengan huruf A-Z tentu tidak pernah dirancang untuk menjadi penanda bahwa pengendaranya memiliki kecenderungan tertentu di jalan.

Ketertiban berkendara ya memang bawaan personal bukan komunal. Seperti kepatuhan terhadap rambu dan marka, penggunaan perlengkapan keselamatan, cara berpindah jalur, kecepatan, hingga sikap menghargai pengguna jalan lainnya.

Jangan jadikan pengendara plat K bahan pelampiasan

Saya mafhum kalau ada yang kesal dengan pengendara plat K saat papasan di jalan. Saya juga pernah kesal dengan sesama plat K. Bahkan, misal kalau ada orang Blora yang berkendara ngawur, saya juga tidak akan buru-buru membelanya hanya karena kami sama-sama membawa identitas daerah yang sama.

Akan tetapi, kalau setiap kali melihat plat K kita sudah membawa prasangka buruk, rasanya juga kebangetan. Apalagi sampai menganggapnya sebagai musuh di jalan. Toh kami yang membawa pelat K juga cuma orang biasa yang sedang menikmati perjalanan.

Ada yang sedang berangkat kerja, kuliah, mengantar keluarga, berdagang, atau sekadar pulang kampung. Jadi, kalau lain kali kalian menemukan pengendara plat K yang bikin darah naik, silakan marah dan misuh ndapapa. Klakson yang kencang kalau memang perlu.

Tetapi, setelah itu, saya sarankan untuk sudahi kekesalanmu. Jangan dibawa sampai kepada kesimpulan serampangan bahwa semua orang plat K itu ndablek dan abai keselamatan di jalan. Sebab plat K memang bukan hama jalanan. Ia cuma huruf awal di plat kendaraan. Terlebih yang punya kelakuan baik atau buruk adalah personalnya, bukan pemilik plat nomor tertentu. Sekian dan mohon bisa dimengerti.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 Tips Berkendara agar Tak Jadi Korban Kebiadaban Plat K, Ikuti dan Jadikan Pedoman Berkendara!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 September 2026 oleh .

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.

Exit mobile version