“Lho, jadi guru ya sekarang?”
Pertanyaan itu seringkali ditanyakan oleh seorang kawan lama saat kami kembali bertemu tanpa sengaja. Agak-agaknya, mereka tidak menyangka bahwa nasib saya bisa berakhir di ruang kelas. Itu wajar mengingat pekerjaan saya sebelumnya tidak ada kaitan sama sekali dengan dunia pendidikan.
Jangankan kawan saya, saya sendiri masih sering nggak nyangka kalau bisa jadi guru. Kalau diingat-ingat lagi, pekerjaan yang tampak mungkin bagi saya kala itu adalah pelayan toko, penjaga kasir, atau buruh pabrik.
Bukan, demi apa pun, saya sama sekali tidak sedang merendahkan profesi-profesi itu. Tentu tidak. Lha wong ibu saya dulu puluhan tahun menggantungkan hidup sebagai pelayan toko, kok. Bapak saya juga mantan buruh pabrik cilik-cilikan. Hanya saja, waktu membuktikan bahwa satu keputusan berani telah mengubah arah angin kehidupan saya. Yaitu, nekat mendaftarkan diri menjadi mahasiswa Universitas Terbuka (UT).
Sebelum kenal Universitas Terbuka
Sebelum semesta memperkenalkan saya dengan Universitas Terbuka, hidup saya tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan sirkus kecil-kecilan soal cara bertahan hidup. Saya pernah merasakan menggiling tembakau jadi rokok kretek di pabrik rokok, berjalan kaki menawarkan barang dari rumah ke rumah sebagai sales door-to-door, menjadi admin di koran lokal, hingga duduk sebagai penyiar radio. Wis, pokoknya semua saya lakukan demi dapat cuan.
Saat itu, saya tidak berani punya mimpi. Saya hanya hanya bertahan hidup dari hari ke hari. Makanya, semua pekerjaan, apa pun itu, selama bisa dijalani dengan ijazah SMA yang dikantongi, pasti saya lakoni. Jadi ya, mana berani saya bermimpi tinggi-tinggi?
Meski demikian, tidak bisa dimungkiri ada perasaan resah dalam diri saya. Pertanyaan klise “mau sampai kapan hidup begini-begini terus?” sering kali menggedor nurani, seolah minta segera dijawab.
Sampai pada suatu titik, saya menarik kesimpulan bahwa saya harus berbuat sesuatu untuk membelokkan arah takdir. Dan, satu-satunya pintu keluar yang terlintas di benak kala itu hanyalah kuliah.
Walau sudah merasa bahwa kuliah bisa jadi solusi untuk mendapatkan penghidupan yang layak, saya bingung juga. Memangnya ada ya kampus yang mau menerima saya? Logis saja. Saya bukan fresh graduate. Status sudah menikah dan sudah punya anak pula. Terus, misal nanti kuliah, belajarnya bagaimana? Anak-anak sama siapa? Belum soal biayanya. Duh, semakin dipikir kok terasa semakin mustahil bagi saya untuk kuliah.
Hingga akhirnya saya menemukan informasi tentang Universitas Terbuka. Kampus yang kelak meruntuhkan segala batasan mustahil dalam hidup saya.
Banyak kesempatan terbuka
Sebagai universitas negeri, Universitas Terbuka berani tampil beda. UT membuka pintu selebar-lebarnya tanpa memandang rekam jejak masa lalu kita. Mau umur berapa pun, dari latar belakang apa pun, semua bisa daftar. Soal biaya pun, ah bisa cek sendiri betapa sangat terjangkaunya kuliah di UT. Seolah, UT tahu betul bahwa tak boleh ada mimpi yang patah hanya karena keadaan.
Dan, benar saja, begitu mendaftar di UT saya merasakan sendiri fleksibilitas yang ada di kampus ini. Di UT, waktu belajar sepenuhnya jadi milik mahasiswa. Mahasiswa dipercaya untuk mengatur ritmenya sendiri. Mau belajar pagi, malam, atau sambil rebahan, bebas. Yang penting tanggung jawab dan punya target.
Siapa sangka, ritme kuliah di UT yang fleksibel, tapi bertanggungjawab ini secara tidak langsung juga membentuk mental saya dalam keseharian. Buktinya, kinerja saya di–notice oleh pemilik yayasan, dan saya diminta untuk mengajar. Padahal, saat itu posisi saya belum lulus dari UT.
Dari situlah pintu-pintu kesempatan lain terbuka satu per satu. Setelah lulus dan mengantongi sertifikat sarjana, saya bisa mengikuti PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang berimbas langsung pada tambahan penghasilan. Dan, sekarang, berkat ijazah UT pula, saya bisa meneruskan pengabdian saya sebagai guru lewat jalur ASN.
Coba kalau dulu saya memilih pasrah pada keadaan dan tidak nekat mengambil keputusan untuk berkuliah di UT. Pasti bakalan lain lagi ceritanya. Barangkali saya masih akan bergulat dengan rutinitas harian yang melelahkan tanpa arah, terjebak dalam upah pas-pasan, dan terus bertanya-tanya kapan nasib ini akan berubah.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kuliah di UT Adalah Bentuk Bertahan Paling Tangguh, Kok Bisa?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
