Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Saweran, Tradisi Pernikahan Sunda yang Sebaiknya Dihilangkan

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
5 Februari 2021
A A
kondangan saweran pernikahan dinda hauw MOJOK.CO

pernikahan dinda hauw MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini bermula dari diskusi grup WhatsApp Penulis Terminal Mojok Jawa Barat, dari Kang Ridwan yang baru saja menikah (by the way, selamat ya Mas Ridwan atas pernikahannya). Mas Ridwan bercerita bahwa saat dia menikah, dia kesal dengan tradisi saweran dalam adat pernikahan Sunda. Anak kecil hingga orang tua ribut memulung permen dan uang recengan. Takutnya ada yang cedera, terutama anak kecil yang sangat berisiko untuk tertabrak orang dewasa yang lagi barbar-barbarnya karena rebutan permen dan uang recehan yang dilemparkan dalam upacara pernikahan khas Sunda tersebut.

Sebagai orang Sunda yang sudah puluhan tahun tinggal di Kota Bandung, saya cukup sering hadir dalam pernikahan orang Sunda di mana upacara sawer panganten dilaksanakan dalam resepsi pernikahan.

Untuk mempermudah memahami apa itu saweran, secara singkat, saweran adalah salah satu kegiatan inti dalam resepsi pernikahan orang Sunda dimana orang tua kedua mempelai melemparkan benda-benda kecil kepada para tamu undangan. Masyarakat Sunda percaya bahwa dengan menaburkan benda-benda tersebut akan memberikan petunjuk kepada kedua mempelai agar dapat menjalankan kehidupan rumah tangga yang bahagia dan sebagai bentuk sedekah kepada para tamu undangan.

Nyawer berasal dari kata “awer” yang diibaratkan seember benda cair yang bisa diuwar-awer (diciprat-cipratkan atau ditebar-tebar). Namun, ada pendapat lain yang ditulis dalam buku Bagbagan Puisi Sawer Sunda yang menjelaskan bahwa nyawer berasal dari kata “penyaweran”, yakni tempat yang kerap terkena air hujan yang jatuh dari genteng.

Pada umumnya, benda yang dijadikan objek dalam saweran adalah uang logam dan permen karena mudah untuk didapatkan. Saat ini ada juga pecahan uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, lima puluh ribuan, hingga seratus ribuan yang turut dibungkus sedemikian rupa dan digabungkan dengan gabungan uang logam dan permen yang dilempar. Bahkan saya pernah menghadiri upacara pernikahan yang mengisi saweran tersebut dengan voucher menginap di hotel dan iPhone, lho.

Namun, dari puluhan resepsi pernikahan khas Sunda yang saya hadiri, saya sama sekali tidak tertarik dengan proses saweran tersebut. Kenapa? Kebanyakan hanya pecahan logam seribuan saja, atau paling besar bungkusan uang pecahan seratus ribuan saja yang dilempar, yang tentu saja tidak sebanyak uang logam yang dilemparkan. Rasanya tidak worth it untuk berdesak-desakan dan saling dorong untuk nominal uang yang tidak seberapa. Apalagi saya bukanlah laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi sehingga selalu kalah dalam tangkap-tangkapan benda yang dilempar tersebut.

Dalam konteks masyarakat Sunda modern, saya pikir tradisi saweran ini sebaiknya memang dihilangkan. Kenapa? Sebab, dalam tradisi saweran yang saya saksikan, tanpa ada aba-aba sedikit pun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa langsung berkumpul di depan pasangan pengantin untuk menangkap dan memunguti permen, uang logam, hingga uang kertas yang disawerkan oleh kedua orang tua mempelai.

Logam yang dilemparkan tersebut bisa saja mengenai kepala dan menyebabkan cedera. Bisa juga tertelan secara tidak sengaja, atau merusak properti hiasan pernikahan yang sudah mahal-mahal ditata dan dibeli/disewa oleh pengantinnya. Sebuah kerugian besar bukan?

Baca Juga:

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

Jika pesertanya hanya orang dewasa, saya masih bisa memaklumi, yang bikin ngeri, jika anak-anak, terutama balita yang ikut-ikutan memunguti saweran tersebut. Sangat ngeri membayangkan terjadinya peristiwa saling dorong mendorong yang barbar tersebut jika ada anak-anak dan balita yang terlibat. Bisa saja ada anak anak atau balita yang terdorong dan terinjak orang dewasa yang lagi barbarnya tersebut bukan? Saya tidak bisa membayangkan cedera yang diakibatkan peristiwa saling dorong mendorong yang barbar tersebut.

Tidak hanya saweran saja sebenarnya. Tradisi lempar bunga buket juga jika dipikir-pikir, meskipun hanya bunga, bukan uang logam yang keras, sebaiknya memang ikut dihilangkan juga. Tidak ada bedanya dengan tradisi saweran, ada lempar-lemparannya juga. Hanya saja ini versi Baratnya saja.

Tradisi lempar bunga buket ini banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang memilih tema pernikahan ala orang Barat, terutamanya tradisi yang dipopulerkan oleh orang Amerika Serikat melalui sejumlah film-film Hollywood yang menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Bedanya, dalam tradisi lempar bunga buket, memiliki makna bahwa yang menerima lemparan bunga buket tersebut adalah pengantin yang selanjutnya akan menikah dalam waktu dekat.

Dan sama seperti saweran, puluhan resepsi pernikahan yang melakukan tradisi lempar bunga buket yang saya hadiri, saya sama sekali tidak tertarik dengan proses lempar bunga buket tersebut. Alasannya ya masih sama dengan yang di atas.

Belum lagi, bisa saja meja yang berisi makanan, bunga dekorasi, hingga kamera mahal yang disediakan oleh para wedding organizer ini ikut tertabrak dan rusak ketika tamu undangan rebutan saweran maupun lempar bunga buket bukan? Kalau saya sih, lebih baik fokus makan dan ngajak kenalan para gadis yang hadir daripada rebutan saweran dan bunga buket bukan?

BACA JUGA Nikah sama Orang Korea yang Jadi Anak Laki-laki Pertama Itu Boleh Nggak, sih? dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2021 oleh

Tags: PernikahansaweranSunda
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

25 Maret 2022
Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

22 Agustus 2023
4 Lagu Pop Sunda tentang Kandasnya Hubungan yang Bikin Nyeredet Hate Terminal Mojok

4 Lagu Pop Sunda tentang Kandasnya Hubungan yang Bikin Nyeredet Hate

8 Februari 2022
10 Tradisi Pernikahan Indonesia yang Bikin Heran Orang Jepang Terminal Mojok

10 Tradisi Pernikahan Indonesia yang Bikin Heran Orang Jepang

13 Desember 2022
5 Ide Suvenir Nikah Bermanfaat yang Nggak Bakal Dibuang Tamu Undangan Mojok.co

5 Ide Souvenir Pernikahan Bermanfaat yang Nggak Bakal Dibuang Tamu Undangan

8 Januari 2026
Penggunaan Umpatan “Anjing” Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari

Penggunaan Umpatan “Anjing” Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari

4 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.