Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

Rachelia Methasary oleh Rachelia Methasary
15 Januari 2026
A A
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah banyak konten di berbagai media yang menceritakan suka dan duka di atas rute KRL. Khususnya di Jakarta dan sekitarnya, yang terkenal padat dan penuh drama. Saya sendiri adalah salah satu pengguna KRL sejak 2017.

Flashback ke 9 tahun lalu, itulah pertama kali saya mencoba kereta rel listrik ini. Dulu belum terdengar cerita kalau kita akan jadi “ayam geprek” di atas rute KRL. Jadi ya saya excited saja akan berkereta ke kantor, kayak di luar negeri gitu. 

Saat itu saya bekerja di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Jadi, rute KRL adalah Stasiun Tangerang-Stasiun Duri-Stasiun Sudirman. Rute KRL ini berakhir di Bogor, panjang juga trayeknya.

Ketika berangkat dari Stasiun Tangerang, saya merasakan kepadatan yang paripurna. Waktu itu, AC dalam gerbong belum terlalu dingin.  

Akan tetapi, jika tidak ingin kena macet ya cuma KRL solusinya. Saya berusaha menikmati momen yang kalau mengingatnya lagi, cukup menyedihkan. Saya akan transit di Stasiun Duri dan nyambung KRL Bogor, lalu turun di Stasiun Sudirman. Sepanjang perjalanan, saya berdiri dan terhimpit penumpang lain. Mantap!

Meskipun naik KRL banyak capeknya, tapi saya merekam berbagai adegan penuh nostalgia yang rasanya nggak ingin saya ulang. 

Baca juga Tips Naik KRL supaya Nggak Terlalu Menderita, Orang Luar Jabodetabek Wajib Tahu

Rute KRL Tangerang-Duri, sesak oleh pekerja yang percaya bahwa kerja itu harus di Jakarta

Rute KRL ini menghubungkan Tangerang dengan Jakarta dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Saat berada dalam gerbong, saya bergabung bersama para warga yang yakin bahwa cari cuan itu ya cocoknya di Jakarta. 

Baca Juga:

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

Berjuanglah di ibukota, begitulah kira-kira yang tersirat di wajah lelah mereka, termasuk saya. Mereka datang dari berbagai wilayah Tangerang dan pinggir Jakarta, seperti Poris Plawad, Kalideres, Rawa Buaya, dan Grogol.

Saya pun berpikir bahwa kerja di kota metropolitan lebih menjanjikan daripada di daerah sendiri. Keputusan ini membuat saya belajar apa itu berjuang dan berkorban. Ya salah satunya menjadi anker (anak kereta). 

Saya dulu berangkat pukul 5 subuh demi dapat duduk, capek juga berdiri dan berdesakkan selama setengah jam di atas rute KRL. Setiap hari saya menjalaninya dengan tabah karena di mana lagi dapat tarif Rp3.000 sudah bisa sampai di Jaksel. 

Saat ini, ketika jarang menggunakan KRL, saya jadi rindu dengan aktivitas yang menguras tenaga tersebut. Kalau sedang mood, saya naik KRL dengan rute yang dulu saya lalui. Seketika kenangan itu melintas lagi di kepala saya, rute KRL Tangerang-Duri yang penuh perjuangan.

Cerita lelah di Stasiun Duri, semua berlarian demi sebuah ambisi

Selepas dari Stasiun Tangerang, saya transit di Stasiun Duri yang terletak di Jakarta Barat. Setiap menginjakkan kaki di sini, saya langsung terbang ke ingatan tahun 2017 itu. 

Saat itu, saya rasa, pemberhentian ini paling lelah dari semua rute KRL yang saya lalui kalau mau ke kantor di Kuningan, Jaksel. Ya, meskipun sampai sekarang juga tetap bikin capek, tapi kayaknya saya sudah biasa.

Ketika petugas KRL mengumumkan “Stasiun berikutnya, Duri!”, sontak semua penumpang langsung pasang kuda-kuda. Mereka siap berlari demi mengejar ambisi. 

Saya pun langsung kaget waktu pintu terbuka, mereka berhamburan keluar dan menyusuri tangga untuk pindah peron. Mau nggak mau saya ikut arus. Tidak ada waktu untuk berjalan santai, semuanya terburu-buru. 

Terlepas kondisi chaos itu, saya salut dengan semangat mereka. Setiap hari kayak lomba maraton tapi nggak kapok. Tetap diulangi esoknya.

Ada rindu yang membekas ketika sekarang saya ke Stasiun Duri. Pengalaman pertama jadi anker tahun 2017 lalu, bikin saya merinding karena ternyata dulu saya sekuat itu. Berbulan-bulan menjalani kehidupan kayak robot dan seru juga, tapi kalau disuruh ulang, maaf nggak dulu deh. Hehehe.

Baca juga Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta

Menunggu sampai malam di Stasiun Sudirman demi gerbong kosong

Sewaktu main ke daerah Blok M naik KRL, saya turun di Stasiun Sudirman. Lalu saya nyambung lagi naik MRT yang terintegrasi dengan stasiun yang dekat dengan Bundaran HI ini. 

Waktu turun dari kereta, saya tiba-tiba nostalgia dengan diri saya sendiri. Balik lagi ke era 2017-an, di mana saat itu saya selesai kerja jam 6 sore dan KRL sedang sesak-sesaknya. Wajar ya, rush hour, semua rute KRL pasti sesak. Saya trauma karena pernah hampir pingsan di dalam gerbong.

Demi kewarasan dan kesehatan, saya selalu menunggu sampai pukul 8 malam. Ya meskipun nggak duduk, setidaknya kereta sudah agak lowong. Saya nggak perlu jadi ikan pepes dengan oksigen yang minim (ini agak berlebihan, hehehe). Jujur saya lelah banget harus nunggu 2 jam dan sampai rumah bisa pukul 10 malam. 

Tapi mau gimana lagi, demi gerbong kosong. Untungnya, banyak jajanan, saya bisa ngemil dulu sampai kenyang. Tak masalah lesehan di sekitar peron, yang penting badan saya nggak remuk-remuk amat.

Ini pengalaman paling membekas di ingatan saya setiap berhenti atau lewat Stasiun Sudirman. Mau dibilang pahit ya nggak juga karena momen ini bagian dari saya mencari segenggam berlian dulu. Sekali lagi, saya nggak menyangka bahwa tubuh ini bisa tahan banting seperti itu. Salut.

Rute KRL Jabodetabek bukan hanya tentang cerita yang mengandung derita, seperti yang kalian lihat di medsos. Atau mungkin, mengalaminya sendiri. Nyatanya, rute KRL pun bisa membangkitkan nostalgia tentang perjuangan dan harapan.

Penulis: Rachelia Methasary

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA KRL Jabodetabek Bikin Iri Pekerja yang PP Jombang-Surabaya Naik Commuter Line Dhoho Setiap Hari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2026 oleh

Tags: blok mbogorJakartajakarta selatanjakselkrl bogorKRL Jabodetabekkrl tangerang-durimrt blok mrute krlstasiun duristasiun sudirman
Rachelia Methasary

Rachelia Methasary

Pustakawan di ibu kota yang senang ngopi, traveling, dan baca buku. Lebih memilih tempat yang sepi dan tenang karena introvert.

ArtikelTerkait

jakarta

Memandang Jakarta Kali Pertama

13 September 2019
Bukannya Malas, Orang Jakarta Memang “Dipaksa” Nggak Suka Naik Transportasi Umum Mojok.co

Bukan karena Gengsi, Orang Jakarta Memang “Dipaksa” Nggak Suka Naik Transportasi Umum 

10 Mei 2025
3 Rekomendasi Warung Mi Ayam Underrated di Bogor yang Nggak Masuk FYP Kamu

3 Rekomendasi Warung Mi Ayam Underrated di Bogor yang Nggak Masuk FYP Kamu

1 November 2023
5 Stasiun KRL Paling Ikonik di Jakarta, Bisa Jadi Sarana Rekreasi Murah Meriah Mojok.co

5 Stasiun KRL Paling Ikonik di Jakarta, Bisa Jadi Sarana Rekreasi Murah Meriah

16 Juli 2024
4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja Mojok.co

4 Alasan Saya sebagai Orang Jakarta Kecewa dengan Penjual Nasi Uduk di Jogja

12 Maret 2025
Tidak Kerja di Jakarta Bikin Saya Bersyukur sekaligus Menaruh Hormat pada Mereka yang Mengadu Nasib di Ibu Kota

Di Jakarta, Semua Orang Wajib Jadi Pejuang: Jika Tak Kuat jadi Pejuang Commuter, Mesti Siap Jadi Pejuang Loker

17 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.