ADVERTISEMENT

Rumah bekas pesugihan atau ngelmu itu memang lebih ngeri ketimbang rumah bekas pembunuhan biasa. Mending skip aja, deh

Rumah bekas pesugihan atau ngelmu itu memang lebih ngeri ketimbang rumah bekas pembunuhan biasa. Mending skip aja, deh

Diskursus mengenai rumah bekas selalu seliweran di lini masa saya. Pembahasannya juga bermacam-macam, mulai dari tips memilih rumah bekas, hingga rumah seperti apa saja yang harus dihindari. Terkait diskursus rumah bekas yang harus dihindari, ada banyak sekali tipe rumah bekas yang harus dihindari. Salah duanya adalah rumah bekas pembunuhan dan rumah bekas pesugihan atau ngelmu. 

Rumah bekas pembunuhan dan rumah bekas pesugihan jadi dua tipe rumah yang paling sering orang bicarakan. Keduanya sama-sama punya latar belakang dan cerita mengerikan, serta sama-sama dilabeli angker. Banyak pula orang yang berbagi pengalamannya ketika tinggal di rumah seperti itu. Hampir semua pengalamannya buruk, nggak ada yang enak. Entah hanya sekadar suasana, sampai pengalaman mistis lainnya.

ADVERTISEMENT

Lalu muncul satu pertanyaan, kalau kita lagi butuh rumah dan hanya ada dua pilihan, mending pilih yang mana. Rumah bekas pembunuhan biasa atau rumah bekas pesugihan? Kalau pertanyaan itu tertuju kepada saya, dengan sigap akan saya jawab rumah bekas pembunuhan biasa. Mengapa? Sini tak jelasin.

Terkutuk

Rumah itu memang benda mati. Bagaimanapun imejnya, tergantung siapa yang menghuni. Kalau penghuninya baik, maka rumahnya akan jadi baik. Kalau penghuninya buruk, apalagi sampai melakukan praktik-praktik buruk seperti pesugihan atau penyembahan kepada setan, maka rumahnya akan ikut buruk. Itulah mengapa banyak yang menganggap rumah ini lebih mengerikan, karena seakan terkutuk.

Kita bisa membayangkan kegiatan apa saja yang pernah terjadi di rumah tersebut. Upacara atau ritual, hingga pemujaan kepada iblis. Belum lagi kalau ada ritual penyerahan tumbal atas nama iblis. Bayangkan betapa nggak enaknya rumah itu, meskipun sudah tidak ditinggali lagi. Bayangkan juga betapa susah “pembersihannya”. Tahlilan atau pengajian saja nggak akan cukup.

Ini jelas berbeda dengan rumah bekas pembunuhan biasa. Kalau pembunuhan biasa, jarang setan atau iblis yang terlibat langsung di sana. Pembersihannya juga lebih mudah, cukup dengan pengajian atau tahlilan saja. Ya, meskipun auranya sama-sama nggak enak, sih.

Jejak ritual dan beberapa benda untuk ritual kadang masih tertinggal

Rumah bekas pesugihan atau ngelmu itu nggak hanya digunakan untuk ritual pemujaan saja. Biasanya, ada benda-benda penunjang ritual yang dipasang atau ditanam di sekitar rumah. Entah itu di dalam tanah, di rangka kayu bangunan, atau di dinding-dinding. Benda-bendanya pun bermacam-macam, mulai dari senjata, batu, hingga rajah.

Bayangkan kalau benda-benda ini masih ada di sana, betapa mengerikannya. Kalau jejak atau sisa bendanya mudah ditemukan. Kalau susah bagaimana? Gimana jika bendanya bekas ritualnya ditanam di dalam cor-coran rumah? Satu-satunya cara untuk membersihkannya adalah dengan merobohkan bangunan dan membangunnya kembali. Repot, kan? Jadi kerja dua kali kalau begitu. Biayanya juga dobel.

Rumah bekas pesugihan itu biasanya lebih terbengkalai

Rumah bekas pembunuhan biasa dan bekas pesugihan itu biasanya sama-sama terbengkalai. Penjual rumah susah menjualnya, para calon pembeli juga sangat jarang yang berminat. Lagian, siapa juga yang minat dengan rumah terbengkalai, apalagi kalau tahu rumah itu bekas pembunuhan atau bekas pesugihan. Para calon pembeli akan mundur teratur.

Tapi, terbengkalainya rumah bekas pesugihan atau ngelmu itu jelas berbeda. Masih nyambung dengan poin sebelumnya, rumah itu terbengkalai bersama dengan jejak ritual dan mungkin benda-bendanya. Jadi, bayangkan betapa nggak enaknya suasana dan aura rumah itu. Sudah terbengkalai sekian lama, plus masih ada residu-residu negatif dari kegiatan atau aktivitas ritual atau pemujaan sebelumnya. Males, kan?

ADVERTISEMENT

Sama-sama angker, tapi rumah bekas pesugihan itu level angkernya beda

Rumah bekas pembunuhan biasa dan bekas pemujaan atau ngelmu memang sama-sama mendapat cap angker. Keduanya sama-sama nggak diminati calon pembeli. Keduanya pernah jadi saksi bisu aktivitas kejahatan atau aktivitas negatif. Satunya pembunuhan, satunya lagi pemujaan kepada iblis yang bisa jadi ada unsur pembunuhannya.

Tapi, angkernya rumah bekas pesugihan jelas berbeda ketimbang rumah bekas pembunuhan biasa. Level angkernya itu berkali-kali lipat. Ibaratnya, setan penghuni rumah bekas pembunuhan itu paling hanya pocong, kuntilanak, dan setan-setan generik lainnya. Kalau bekas pesugihan, penghuninya sudah golongan iblis, bukan setan lagi. Makanya, kalau dihadapkan dengan pilihan rumah bekas pesugihan, mending skip aja, deh.

Kedua rumah itu bisa jadi pilihan terbaik kalau nggak percaya dan nggak peduli dengan hal-hal gaib

Kalau ada orang yang percaya dengan hal-hal gaib, rumah bekas pembunuhan atau bekas pesugihan memang bukan jadi pilihan yang tepat. Imej buruk, aura dan stigma negatif, hingga gangguan mistis mungkin akan mereka dapatkan dan rasakan. Tentu itu bukan hal yang diinginkan.

Namun, rumah bekas pembunuhan atau pesugihan bisa jadi pilihan terbaik untuk siapapun yang nggak percaya dan nggak peduli dengan hal-hal gaib. Sebab, rumah bekas pembunuhan atau pesugihan dijual dengan harga yang sangat miring. Harganya bisa cukup jauh di bawah pasaran. Misalnya harga pasarannya 1 miliar, bisa jadi hanya 600-700 juta saja. In this economy, ini harga yang bagus banget.

Siapa pun yang nggak percaya dengan hal-hal gaib biasanya nggak akan mempertimbangkan seperti apa rumah itu sebelumnya. Mau bekas pembunuhan, mau bekas pesugihan, asalkan kondisi rumahnya masih layak, plus harganya juga menggiurkan.

Jadi, bagaimana? Ada yang tertarik atau pengin coba beli rumah bekas pembunuhan atau bekas pesugihan?

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Kerja di Rumah Bekas Pembunuhan: Lebih Takut Miskin daripada Setan dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.