Robert Lewandowski tentang Ballon d’Or: Ora Menang, Ora Patheken

robert lewandowski mojok.co

robert lewandowski mojok.co

Bagi penikmat sepak bola, saya yakin tidak ada yang tidak mengenal Robert Lewandowski. Mesin gol dari Polandia yang bermain di klub raksasa Bundesliga, Borussia Dortmund Bayern Munchen. Robet, panggilan akrab saya kepada blio, baru-baru ini video call saya. Wah, sudah agak lama blio nggak menghubungi saya seperti ini. Terakhir kami ngobrol seingat saya, sekitar November tahun lalu. Ketika itu blio sukses menyarangkan empat gol dalam waktu 15 menit ke gawang klub Serbia yang namanya sulit saya eja.

“Mas, selo mboten nggeh?” tanya Robet dalam bahasa Jawa. Blio ini ngefans sama almarhum Didi Kempot jadi sempat belajar bahasa Jawa biar klo nyanyi pronunciation-nya pas.

“Assalamualaikum, Bung Robet,” balas saya. “Pripun?”

“Curhat dong, Mad.”

Weh,weh, weh. Ternyata blio juga suka nonton acara Mamah Dedeh toh. Baru tahu saya.

“Gimana, Bet? Ada apa?”

“Gini, Mad. Bentar lagi saya ada jadwal wawancara sama wartawan dari Prancis,” terangnya. Ada jeda waktu sepengeyotan es krim sebelum dia melanjutkan ceritanya.

“Dia mau tanya mengenai obsesiku memenangkan Ballon d’Or.”

“Terus kamu mau jawab apa, Bet?”

“Rencananya sih mau jawab kalau saat ini saya lagi fokus untuk meraih gelar sebanyak-banyaknya bersama klub  dan negara.”

“Klise sekali jawabanmu, Bung!”

“Kok bisa gitu, Mad?” tanyanya balik. Samar-samar saya mendengar suara telur yang sedang berseluncur di wajan yang penuh dengan minyak panas. Wah, Mas Robet sedang mengantri beli cilor sepertinya.

“Sekarang gini, Bet. Klubmu itu, Munchen … “

“Bayern Munchen,” ralatnya. Jelas dia takut saya keliru menyebutkan TSV 1860 Munchen.

“Oke, Bayern Munchen. Klub itu kan sudah terlalu digdaya di Jerman sana. Rekan-rekan bermainmu pun pesepak bola kelas wahid. Saya malah ngga heran kalau klub kalian baru daftar ulang aja sudah akan langsung diberi trofi. Jadi, wajar jika saya menganggap jawabanmu tadi klise.”

“Terus kalau untuk Polandia?”

“Nah, itu lebih klise lagi. Kapan tho timnasmu menoreh prestasi?”

“Kami lolos perempat final Euro 2016 yo, Mad. Jangan asal ngomong sampeyan.”

“Halah, paling cuma itu doank kan? Jelas bukan prestasi yang kinclong donk buat pemain sekelasmu.”

Robert Lewandowsky tertegun. Kata-kata itu jelas menyepak harga dirinya yang tinggi. Dari layar hape, saya bisa melihat raut mukanya yang mlotrok. Mau gimana lagi, yang saya katakan tadi memang benar adanya kok. Coba kita ingat lagi pemenang Ballon d’Or selama 12 tahun terakhir. Selain kisah Luca Modric yang heroik, adakah nama lain diluar Messi dan Ronaldo?

Messi mungkin saja memenangkan penghargaan pribadi bukan dari pencapaian Argentina, walaupun menurut saya sekali runner-up Piala Dunia dan dua kali runner-up Copa America sudah lumayan. Namun penampilannya di Barcelona memang tidak bisa dimungkiri adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Ronaldo beda lagi ceritanya. Dia adalah midas-nya jagat persepakbolaan. Semua tim yang dibelanya selalu bermandikan gelar. Itu belum termasuk pencapaian luar biasanya, sebagai asisten pelatih, di final Piala Eropa 2016.

“Bet? Kok meneng wae?” tanyaku mulai khawatir.

Waduh saya jadi merasa bersalah. Apa iya Robert Lewandowski yang terkenal tukang bobol gawang lawan itu kali ini gantian pertahanan jiwanya yang jebol.

“Omonganmu ternyata ada benarnya juga, Mad.”

Wah, alhamdulillah. Senang saya mendengar suaranya lagi. Saya kira dia bakal ngambek lantas memblokir kontak saya seperti para mantan yang sudah-sudah.

“Menurutmu apa yang harus kukatakan ke wartawan itu ya, Mad?”

“Bet, waktu ke Jogja dulu kamu pernah takajak maiyahan tho? Inget ngga?”

“He-eh, inget aku. Yang ustadznya kopiahan karo sebal-sebul terus kae, bukan?”

Cak, kalau njenengan membaca ini, tolong teman saya yang londo ini dimaafkan yah. Maklum di kampungnya sana kalau mau ngaji malah diajak ngebir.

“Bagus kalau kamu ingat. Saya jadi gampang menjelaskannya kepadamu.”

“Mank gimana tho, Mad?”

“Udah gini aja, Bet. Kalau nanti kamu ditanya tentang obsesimu meraih Ballon d’Or, lebih baik kamu jawabnya simpel, ‘saya nggak menang Ballon d’Or nggak papa. Nggak masalah, Nggak bikin gatel-gatel’ ngono ya?”

“Oh, aku paham.”

“Bener paham? Coba diulang kata-kataku tadi.”

“Kein Gewinn, Kein Problem.”

“Artinya?”

“Ora menang, ora patheken.”

Semprul. Ternyata teman saya si Robert Lewandowski itu lebih canggih bahasa Jawanya daripada saya.

Sumber gambar: Twitter talkSPORT 2

BACA JUGA 5 Hal yang Harus Ada kalau Mau Sukses Bisnis Angkringan ala Jogja dan tulisan Mohammad Ibnu Haq lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version