Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Risiko Tinggal di Desa Pelosok: Dari Sinyal Gaib Sampai Gosip yang Lebih Cepat dari 5G

Putri Ardila oleh Putri Ardila
7 Mei 2025
A A
Risiko Tinggal di Desa Pelosok: Dari Sinyal Gaib Sampai Gosip yang Lebih Cepat dari 5G

Risiko Tinggal di Desa Pelosok: Dari Sinyal Gaib Sampai Gosip yang Lebih Cepat dari 5G

Share on FacebookShare on Twitter

Tinggal di desa pelosok itu romantis di cerita FTV doang. Kenyataannya? Banyak risikonya. Dari sinyal yang sering lebih sulit ditemukan daripada jodoh, sampai hiburan yang didominasi oleh tayangan TV buram dan gosip tetangga yang lebih cepat daripada koneksi internet di kota.

Makanya, kalau ada orang kota yang sok-sokan bilang, “Wah, enak ya tinggal di desa, udaranya masih segar,” berarti dia belum pernah ngalamin cari sinyal internet sampai harus naik pohon, atau jalan kaki sejauh dua kilometer cuma buat beli sabun cuci.

Tinggal di desa pelosok itu katanya damai, jauh dari kebisingan kota. Iya sih, jauh dari bisingnya klakson, tapi malah dekat sama bisingnya suara ayam berantem jam 2 pagi. Jauh dari polusi, tapi dekat sama aroma pup kambing yang sukses bikin good morning vibes jadi good morning trauma.

Romantis? Tergantung. Kalau romantis versi kamu adalah naik motor di jalan rusak sambil pegangan erat ke boncengan, ya bisa lah. Tapi kalau ekspektasimu kayak drama Korea—jalan berdua di bawah lampu jalan yang redup sambil makan odeng—lupakan. Satu-satunya yang bisa diajak jalan di malam hari di desa pelosok cuma sapi tetangga yang nyasar ke halaman rumah.

Transportasi: antara safari dan gladiator challenge

Di kota, orang-orang ngeluh macet. Di desa pelosok? Mau macet aja nggak bisa, karena kendaraan umum aja nggak ada. Angkot? Hanya legenda. Ojek online? Di sini, driver-nya bukan abang-abang berjaket hijau, tapi om-om naik Supra X yang bayarnya pakai “nanti aja pas panen.”

Jalanannya? Kadang lebih menantang daripada sirkuit motocross. Musim hujan, jalan desa berubah jadi arena drifting. Musim kemarau, debunya sampai masuk ke pori-pori. Ada yang bilang di Mars banyak debu? Mereka belum pernah tinggal di desa pelosok pas kemarau.

Kadang aku mikir, kalau Fast & Furious syuting di desa, Vin Diesel pasti udah nangis duluan.

Sinyal? Ada, tapi di alam gaib

Di kota, kalau internet lemot, orang bisa ngamuk-ngamuk ke provider. Di desa pelosok? Cari sinyal aja udah kayak ekspedisi mencari harta karun. Kadang harus jalan ke kebun, naik ke pohon, atau berdiri di sudut tertentu dengan pose aneh, kayak lagi ritual memanggil sinyal.

Baca Juga:

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan

Streaming YouTube? Mimpi. Mau buka Instagram aja bisa jadi challenge hidup. Lagi chatting seru, tiba-tiba sinyal hilang. Balasan yang harusnya datang dalam hitungan detik berubah jadi pending seumur hidup.

Makanya, kalau ada yang bilang, “Jodoh pasti datang di waktu yang tepat,” aku selalu inget sinyal di desa. Sama-sama nggak jelas kapan datangnya.

Hiburan di desa pelosok antara TV semutan dan drama ronda malam

Di kota, orang bisa milih hiburan: bioskop, konser, atau sekadar nongkrong di kafe esthetic. Di desa pelosok, hiburan utama adalah TV, tapi itu pun kalau antenanya nggak tersenggol angin.

Kalau siaran TV ilang, opsinya cuma dua: tidur lebih awal atau dengerin bapak-bapak ronda yang sibuk debat apakah lebih enak ayam bakar atau ayam goreng. Itu pun kadang malah berujung debat politik yang lebih panas dari wajan gorengan.

Dan jangan salah, gosip di desa pelosok itu lebih cepat dari internet fiber optic. Hari ini kamu ketemu cowok di jalan, besok seisi kampung udah tahu. Dua hari kemudian, desas-desusnya berkembang jadi, “Katanya udah tunangan.” Padahal itu cuma tukang galon.

Kadang aku curiga, kalau dinosaurus dulu tinggal di desa, mereka nggak bakal punah gara-gara meteor. Mereka punah gara-gara kena gosip.

Layanan kesehatan: jangan sakit kalau nggak kuat LDR

Di kota, kalau sakit, tinggal ke klinik atau rumah sakit terdekat. Di desa pelosok, kalau puskesmas jauh, alternatifnya ada dua: pengobatan herbal atau berserah diri.

Masuk angin? Minum jahe. Sakit kepala? Dikerokin. Patah hati? Disuruh sabar, padahal yang nyuruh juga jomblo menahun.

Kalau butuh dokter spesialis, jelas, Anda harus ke kota, menempuh perjalanan yang lebih jauh dari perjalanan mantan ke pelaminan. Kadang, pasiennya sembuh duluan sebelum sampai rumah sakit.

Tapi ada hikmahnya. Tinggal di desa bikin orang jadi lebih survivor. Sakit? Sembuhin sendiri. Lapar? Masak sendiri. Galau? Ya, paling curhat ke ayam tetangga.

Privasi, sebuah konsep yang kelewat asing

Di kota, tetangga sering nggak peduli. Di desa pelosok, beda cerita. Mau ngupil di teras aja bisa jadi bahan gosip.

Kalau ada orang baru datang ke rumah, besoknya seisi kampung udah tahu. Ada tamu cowok bisa dikira calon suami. Padahal itu cuma tukang servis kipas angin.

Dan jangan kira bisa selamat dari omongan tetangga dengan ngumpet di rumah. Di desa, ada teknologi bernama ibu-ibu pos ronda. Mereka bisa tahu siapa yang keluar masuk rumah, jam berapa, dan pakai baju warna apa, tanpa perlu CCTV.

Makanan di desa pelosok murah, tapi…

Kalau soal makanan, desa pelosok emang juara. Di kota, es teh bisa seharga 10 ribu. Di desa, segitu udah bisa dapet gorengan satu plastik plus teh manis dan kembalian.

Tapi ada satu masalah: warung di desa limited edition. Buka cuma jam tertentu, dan kalau telat dikit, udah kehabisan. Belanja malam-malam? Lupakan. Paling banter cuma bisa beli mi instan di warung tetangga, kalau mereka lagi buka.

Pernah suatu malam aku pengen beli telur, warungnya tutup. Tanya ke tetangga, jawabannya, “Tunggu ayamnya bertelur dulu.” Oke, noted.

Bertahan hidup di desa pelosok adalah ujian sejati

Tinggal di desa pelosok itu memang penuh risiko. Sinyal susah, jalanan hancur, hiburan minim, dan gosip lebih cepat dari berita viral. Tapi, di balik semua itu, ada hal yang nggak bisa ditukar dengan kemewahan kota: suasana yang damai, udara yang masih segar, makanan murah, dan tetangga yang saling peduli (meskipun kadang kepo berlebihan).

Kalau kamu bisa bertahan di desa pelosok, selamat! Kamu udah lulus ujian kehidupan level hardcore. Dan kalau suatu hari ada audisi Survivor Indonesia, daftar aja. Kamu pasti menang.

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Rumah di Desa, Terpencil, dan Jauh dari Tetangga Memang Menyik

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2025 oleh

Tags: desa pelosoklayanan faskesrisiko tinggal di desa
Putri Ardila

Putri Ardila

Mbak-mbak bermata minus yang nulis buat bertahan hidup dan berharap suatu hari bisa keliling dunia tanpa harus berhenti menulis.

ArtikelTerkait

Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan

Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan

20 Agustus 2025
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

15 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.