Review Eternals: Siapa Bilang Jelek? Ah, Nggak Juga

Review Eternals

“They give me faith again. And i see the good in humanity in them every day.” -Phastos-

Akhirnya installment ke-26 dari Marvel Cinematic Universe (MCU) hadir. Eternals, sebuah adaptasi dari karya seorang legenda Marvel Comics, Jack Kirby, yang lahir pada Juli 1976. Menimbulkan polemik di awal kehadiran dengan menerima review jelek di situs Rotten Tomatoes dengan cap rotten 46% (hingga tulisan ini dibuat), menjadikan Eternals sebagai film MCU dengan rating terendah di situs tersebut, yang sebelumnya dipegang oleh Thor: The Dark World (2013). Review rotten berkisar tentang durasi yang terlalu panjang dan tidak perlu serta keterlibatan Chloé Zhao sebagai sutradara dalam menentukan keputusan artistik. Yaaa setidaknya audience score Eternals di Rotten Tomatoes di angka 80% menjadikan film ini debatable.

Selain polemik dalam film, ada pula permasalahan terkait penerimaan film ini di beberapa negara. Pertama, karena adegan seksual antara dua karakter utama, Sersi dan Ikaris. Kedua, tentang adegan keluarga Phastos yang merupakan seorang gay. Chloé Zhao sendiri menolak untuk men-cut adegan tersebut dengan alasan bahwa Phastos, Sang tech savvy-nya para Eternals, mempunyai pandangan yang unik tentang kemanusiaan,. Hal ini pun nantinya akan berimbas kepada jalan cerita bagaimana karakter Eternals bertumbuh.

Cerita dimulai dari 5000 tahun yang lalu ketika Eternals ditugaskan Celestial bernama Arishem untuk menjaga bumi dari serangan Deviants. Eternals mengawal peradaban manusia dan hadir di beberapa tempat dan peristiwa penting di seluruh bumi seperti peradaban Mesopotamia, Spaniard Conquest, Bom Hiroshima-Nagasaki, dll. Dalam mengemban tugas, para Eternals diwanti-wanti untuk tidak terlalu terikat kepada umat manusia. Hal ini yang menjadikan mereka tumbuh dan berpecah pendapat.

Intrik cinta dan keterbatasan-keterbatasan mereka sebagai “dewa pelaksana” mewarnai cerita di film yang berdurasi dua jam 37 menit ini. Keterbatasan Ajax yang diamanahi peran sebagai Prime Eternal untuk menjaga misi agar tetap on track, keterbatasan Sprite yang kesulitan membaur dengan manusia karena kutukan “anak kecil”-nya, keterbatasan Sersi yang sedari awal menjadi sosok yang welas asih kepada umat manusia. Mereka sebenarnya dewa-dewa yang dimanusiakan waktu. Hal ini menarik untuk melihat sisi-sisi kemanusiaan di diri kita yang selalu mengeluh tentang kefanaan dan waktu yang tak pernah cukup untuk apa pun.

Ada dua karakter manusia yang mempunyai screentime lumayan banyak di film ini. Pertama Karun, asisten Kingo dan Dane Whitman, love interest-nya Sersi, merupakan superhero swordsman hebat dengan nama Black Knight yang direncanakan akan muncul di installment MCU, Blade. Kemunculan dua manusia ini membawa sudut pandang penyeimbang tentang bagaimana melihat sekaligus mengalami kemanusiaan itu sendiri. Peran Karun di sini juga sebagai pelontar jokes ala Marvel yang ciamik.

Saya tak pernah bosan dengan scene khas film action: mengumpulkan tim yang terpisah. Di Eternals, adegan ini menjadi plot device untuk menceritakan masing-masing karakter dan segala hal yang mereka lalui setelah berpisah pada satu peristiwa. Tidak semua kekuatan dan kemampuan Eternals dimanfaatkan secara mendalam dalam cerita. Mungkin hanya beberapa karakter seperti Sersi, Ajax dan Phastos. Tapi, semua kekuatan dan kemampuan para Eternals tersaji secara epik di sekuens action-nya. Beberapa kemampuan juga tidak unik-unik amat, karena mungkin sudah terlalu familiar dengan mind-control, speedster, super-strength, trickster.

Oh, iya, saya sendiri agak kecewa dengan adegan sang speedster, Makkari, kurang artistik dan terasa lewat begitu saja. Mungkin karena yang sudah-sudah disuguhi adegan speedster epik ala Quicksilver di X-Men atau dengan CGI megah ala Flash di DCEU. Tapi, kehadiran Makkari cukup membahagiakan bagi saya, akhirnya MCU punya speedster lagi setelah Quicksilver dan Ralph Boner (Uhuk…). Menurut saya pribadi, karakter Thena yang diperankan oleh Angelina Jolie, jadi show stealer di film ini. Jolie punya skill dan action yang menunjukkan agility serta karakternya yang misterius dan seperti memiliki urusan yang belum selesai dengan Celestial. Mari kita nantikan di sekuel Eternals selanjutnya!

Kehadiran Eternals di MCU melebarkan jelajah cerita. Kemunculan Higher Entity seperti Arishem menambah ancaman bagi Eternals, Avengers, dan superhero-superhero lain yang mempertahankan bumi dari makhluk ekstraterestrial. Meskipun sebelumnya pernah di-mention juga di Thor tentang Celestial dan Dr. Strange di mana Baron Mordo mempunyai Staff of Living Tribunal. Celestial pertama kali menjadi villain di MCU adalah Ego, ayah Star-Lord, yang menganggap dirinya adalah satu-satunya celestial yang ada. Apakah setelah ini akan ada celestial-celestial lagi di Phase 4 MCU? Hmmm, mari kita nantikan.

Secara visual, art style milik Jack Kirby di komik dipresentasikan dengan indah sebagai kostum dan energy projection. Jika Eternals adalah sebuah candi, visual art style ala Jack Kirby adalah relief indah terpahat di layar bioskop yang diraba pelan-pelan oleh mata kita. Begitu memanjakan.

Untuk menikmati Eternals, apakah harus menonton ke-25 film MCU sebelumnya? Tidak perlu, karena hanya peristiwa snaps yang punya andil dalam alur cerita film ini. Hal trivia lain banyak, hanya sebatas jokes dan easter eggs saja. Ada satu mid credit scene dan satu post credit scene yang sebaiknya jangan Anda lewatkan. Di mid credit scene akan hadir sosok yang membuat Anda tercengang, entah karena persona aslinya atau karena karakternya di MCU, yang akan punya peran besar di sekuel Eternals. Post credit scene bercerita tentang calon ksatria dan salah satu pusaka sakti di jagad komik Marvel.

Sedari awal saya yakin bahwa Eternals akan mengobati kekosongan. MCU membutuhkan grup superhero yang genetically modified semacam X-Men setelah kegagalan Inhumans (TV series). Serta setelah sedetik logo Marvel muncul disambut soundtrack lagu favorit saya, “Time” dari Pink Floyd, yang menunjukkan rentannya kemanusiaan di hadapan waktu. Serta menunjukkan bahwa waktu dan kefanaan itu sendiri yang menjadikan kita manusia. Dengan tren yang sedang berkembang di mana durasi film menjadi sangat panjang, saya menyarankan kepada sutradara-sutradara MCU atau film superhero lain untuk menambahkan “Okay-You-Can-Go-To-Bathroom” Scene. Supaya kita tidak menahan sesuatu.

Salam MCU, I’ll be with you Marvel, till the end of credit!

Sumber gambar: Akun Instagram Eternals

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version