Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri (unsplash.com)

Jika ada satu undangan yang lebih menakutkan daripada panggilan tagihan pajak, itu adalah undangan bertuliskan: “REUNI AKBAR ANGKATAN 200X: MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI, MENGENANG MASA PUTIH ABU-ABU.”

Kalimatnya terdengar mulia. Suci. Penuh nostalgia. Tapi bagi saya, seorang ibu dua anak yang sudah khatam mengamati perilaku manusia, kalimat itu mengandung kebohongan publik yang nyata. Kata “silaturahmi” di situ hanyalah eufemisme. Hanyalah kemasan halal untuk sebuah konten yang haram, yaitu: pamer pencapaian duniawi.

Sebagai lulusan Sastra Arab, saya diajarkan bahwa bahasa adalah cerminan rasa. Dan rasa yang mendominasi sebuah acara reuni bukanlah rindu (Syauq), melainkan kebanggaan diri (Ujub) dan pamer (Riya’).

Mari kita jujur. Siapa yang paling bersemangat datang ke reuni? Siapa yang paling ribut di grup WhatsApp mendesak panitia segera mem-booking ballroom hotel bintang empat? Jawabannya selalu sama: mereka yang sudah “jadi orang”. Mereka yang jabatannya sudah manajer, mereka yang suaminya pejabat, mereka yang baru saja beli Pajero Sport Dakar secara tunai, atau mereka yang baru pulang healing dari Turki.

Sementara teman-teman kita yang nasibnya kurang beruntung? Yang masih berjuang mencari kerja di usia 37? Yang rumah tangganya berantakan? Atau masih tinggal di kontrakan petak sempit? Mereka mendadak bisu di grup. Dan saat hari H tiba, mereka akan mengirim pesan template legendaris, “Maaf ya, Guys, nggak bisa datang. Mendadak ada acara keluarga.”

“Acara Keluarga” adalah kode universal untuk menutupi rasa minder (insecurity). Itu adalah benteng pertahanan terakhir harga diri seseorang yang merasa gagal dalam perlombaan tikus bernama kehidupan.

Baca juga: Reuni yang Berujung Malapetaka.

Reuni jadi arena catwalk berkedok temu kangen

Mari kita bedah anatomi acara reuni itu sendiri. Saat kita melangkah masuk ke venue, kita tidak sedang memasuki ruang nostalgia. Kita sedang memasuki arena catwalk.

Lihatlah para peserta wanita. Gamis syar’i berbahan premium yang harganya setara UMR Jogja. Tas branded (entah asli atau KW Super Mirror) yang sengaja ditaruh di atas meja, bukan di sandaran kursi, supaya logonya terlihat jelas. Perhiasan emas yang gemerincing setiap kali tangan bergerak mengambil kue sus. Wajah-wajah mereka dipulas make-up tebal, bukan untuk menutupi kerutan, tapi untuk menutupi kenyataan bahwa di rumah mereka juga berdaster bolong seperti saya.

Lihatlah para peserta pria. Kunci mobil diletakkan di meja (padahal ada saku celana). Jam tangan G-Shock atau Fossil yang diameternya segede jam dinding masjid. Dan topik obrolannya? Masya Allah.

Dulu waktu sekolah, kita bicara soal PR Matematika atau siapa naksir siapa. Sekarang? “Eh, Bro, lu sekarang di mana? Oh, BUMN? Golongan berapa?”, “Anak gue baru masuk kedokteran nih, pusing bayar uang pangkalnya 500 juta. Tapi ya, demi anak, cairin deposito dikit lah”, “Gue baru ambil rumah kedua di Cibubur, investasi aja sih.”

Itu bukan obrolan. Itu proposal pamer. Setiap pertanyaan “Apa kabar?” sejatinya adalah pancingan untuk menceritakan kesuksesan diri sendiri. Mereka tidak peduli kabarmu. Mereka cuma butuh audiens. Dan mereka butuh penonton untuk tepuk tangan atas pencapaian mereka.

Teror pertanyaan “kapan?” di arena reuni

Bagi yang hidupnya lurus-lurus saja tapi belum memenuhi “Standar Baku Kesuksesan Indonesia”, reuni adalah ladang ranjau. Pertanyaan-pertanyaan interogatif akan memberondong tanpa ampun.

Bagi yang belum nikah: “Kapan nikah? Jangan terlalu milih, ntar kedaluwarsa, lho.” Bagi yang sudah nikah tapi belum punya anak: “Kapan ngisi? Udah periksa ke dokter belum? Coba minum jus tauge deh.” (Mendadak jadi dokter kandungan semua).

Ada lagi, bagi yang anaknya satu: “Kapan nambah? Kasihan lho nggak ada temannya.” Bagi yang anaknya banyak: “Waduh, kebobolan ya? KB dong.”

Mulut-mulut ini tidak ada filter. Mereka merasa karena dulu kita “teman sebangku”, mereka berhak masuk ke ruang privasi kita dan mengacak-acak perasaan kita. Padahal teman sebangku itu masa lalu. Sekarang kita adalah orang asing yang kebetulan punya ingatan masa kecil yang sama.

Dalam Islam, menyakiti hati saudara itu dosa. Tapi di reuni, menyakiti hati dianggap sebagai candaan akrab.

“Wah, lu sekarang subur banget ya, Bro/Sis!” (Baca: Lu gendut banget). Kalimat ini dilontarkan sambil tertawa. Padahal yang mendengarnya mungkin sedang berjuang mati-matian diet atau punya masalah hormonal.

Kapitalisme kenangan

Biaya reuni juga sering kali tidak masuk akal. Iuran per orang 300 ribu sampai 500 ribu. Alasannya buat sewa gedung, katering, doorprize, dan organ tunggal. Bagi si Bos Batubara, 500 ribu itu uang receh parkir. Tapi bagi si tTeman yang gajinya pas-pasan atau ibu rumah tangga yang mengandalkan gaji suami, 500 ribu itu jatah belanja seminggu.

Panitia sering kali tidak peka (ghaflah). Mereka memukul rata kemampuan ekonomi alumni. Akibatnya? Terjadi seleksi alam. Yang datang hanya yang mampu bayar. Yang tidak mampu, tersingkir secara alami. Maka jadilah reuni itu eksklusif. Klub Orang Kaya Alumni SMA X.

Lalu di panggung, ketua panitia berpidato dengan berapi-api, “Sayang sekali teman-teman yang lain tidak bisa hadir, padahal kita ingin merangkul semuanya.”

Halah, Pret. (Maaf, bahasa Sastra Arab saya hilang sejenak). Kalau benar-benar ingin merangkul, harusnya yang kaya mensubsidi yang miskin secara diam-diam (Sirri), tanpa diumumkan. Biar semua bisa datang tanpa beban biaya. Tapi kan gengsi dong. Kalau subsidi diam-diam, nggak dapat tepuk tangan.

Baca juga: Seandainya Reuni Harry Potter Berlatar SMK.

CLBK: Cinta Lama Belum Kelar (atau cari masalah baru)

Satu lagi sisi gelap reuni yang wajib diwaspadai para ibu-ibu. Potensi perselingkuhan. Reuni adalah pintu gerbang setan (Babul Fitnah) bagi mereka yang rumah tangganya sedang hambar.

Ketemu mantan pacar zaman SMA. Si mantan sekarang terlihat lebih wangi, lebih mapan, dan lebih glowing daripada suami/istri sendiri di rumah yang bau balsem. Tukar nomor HP. Lanjut chatting. Curhat colongan. “Suamiku tuh nggak ngerti aku kayak kamu ngerti aku dulu, Mas.”

Naudzubillah. Banyak rumah tangga hancur berawal dari reuni. Berawal dari mengenang masa lalu, berakhir dengan menghancurkan masa depan. Setan itu pintar. Dia membungkus maksiat dengan kertas kado nostalgia berwarna merah jambu.

Selektif itu wajib

Jadi, apakah reuni itu haram mutlak? Tidak juga. Silaturahmi itu baik, membawa rezeki, dan memanjangkan umur. Tapi silaturahmi yang mana dulu?

Silaturahmi yang tulus adalah mendatangi teman yang sakit, membantu teman yang bangkrut, atau sekadar ngopi di warung sederhana tanpa melihat merek jam tangan. Bukan menyewa ballroom, pakai dresscode warna emas, lalu pamer mobil di parkiran.

Saran saya buat Ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian: Jangan takut dibilang sombong kalau tidak datang reuni. Kewarasan mental (Hifz al-‘Aql) dan keutuhan rumah tangga (Hifz an-Nasl) jauh lebih penting daripada sekadar makan sate ayam yang dagingnya keras di acara reuni.

Kalau Anda merasa datang ke sana hanya akan membuat hati Anda kecil, dompet Anda tipis, dan iman Anda goyah karena hasad (dengki), lebih baik di rumah saja. Bilang saja ada acara keluarga. Toh, itu tidak sepenuhnya bohong. Menjaga perasaan diri sendiri adalah bagian dari menjaga keluarga juga, kan?

Biarkan mereka yang sukses berpesta pora merayakan ego mereka. Kita rayakan kesuksesan kita sendiri: Sukses menjaga hati agar tidak sakit melihat pameran kemewahan yang fana itu.

Sekian. Saya mau lanjut menemani anak belajar bahasa Arab. Ana tilmidzun, saya murid yang belajar dari kehidupan, bukan murid yang pamer nilai di papan pengumuman.

Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengulas Sisi Baik Reuni, Memang Ada?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version