Stasiun Manggarai adalah tantangan besar bagi banyak pekerja Ibu Kota.
Saya sedang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jawa Barat. Rutinitas kerja, macet, dan transportasi umum sudah menjadi bagian dari keseharian. Bagi saya, capek pulang kerja adalah hal biasa sampai akhirnya saya benar-benar memahami bahwa kelelahan bukan hanya soal jarak, tapi soal sistem yang tidak ramah manusia.
Pemahaman itu datang dari satu cerita sederhana, tapi menampar.
Di kantor, ada satu rekan kerja baru. Dia baru bergabung sekitar tiga bulan lalu. Dari cara kerja dan pengalamannya, saya merasa dia sebenarnya sudah “jadi” dan bisa berada di posisi yang layak di kantor sebelumnya. Namun, yang membuat saya heran, dia justru memilih pindah ke kantor kami yang jaraknya jauh berbeda dari tempat kerjanya dulu.
Rasa penasaran membuat saya bertanya langsung. “Kenapa resign, Mbak? sepertinya karier Mbak di tempat lama sudah bagus.” Jawabannya singkat, tapi berat, “Karena harus transit di Stasiun Manggarai.” Saya hampir tertawa kecil. Dalam hati saya berpikir transit bisa membuat seseorang resign. Ternyata saya salah besar.
Kawan saya ini kemudian cerita panjang lebar. Cerita yang akhirnya membuat saya paham kenapa Stasiun Manggarai bukan sekadar stasiun, tapi sumber stres harian bagi banyak orang.
Baca juga Kasta Stasiun KRL “Neraka” yang Wajib Diketahui Orang Luar Jabodetabek.
Transit di Stasiun Manggarai itu nggak sekadar pindah kereta
Transit di Stasiun Manggarai bukan cuma soal pindah kereta. Ini soal menghadapi kerumunan yang luar biasa padat dan jalur yang membingungkan. Termasuk fasilitas yang jauh dari kata ramah, terutama bagi perempuan, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia.
Di jam-jam sibuk, stasiun ini seperti lautan manusia. Saking ramainya, bukan tidak mungkin ada yang terinjak, tersenggol keras, bahkan hampir jatuh. Semua orang berjalan cepat, sebagian berlari, sebagian panik takut ketinggalan kereta. Tidak ada ruang untuk bernapas, apalagi merasa aman.
Yang lebih parah, akses peron satu dengan yang lain di Stasiun Manggarai itu didominasi tangga. Anak tangga dengan jumlah banyak, curam, dan melelahkan. Eskalator sering kali mati atau tidak berfungsi optimal. Lift? Jangan terlalu berharap. Akhirnya, semua orang tanpa peduli kondisi fisik dipaksa naik turun tangga dengan arus manusia yang deras.
Bayangkan perempuan pulang kerja dengan tubuh lelah, membawa tas berat, harus berdesakan sambil naik turun tangga tinggi. Bayangkan ibu hamil, lansia, atau penyandang disabilitas menghadapi situasi yang sama. Ini bukan cuma tidak nyaman, tapi berbahaya.
Belum lagi atmosfernya. Orang-orang yang berlari tiba-tiba, teriakan petugas, pengumuman yang bertumpuk, dan tekanan waktu yang membuat siapa pun mudah emosi. Pulang kerja yang seharusnya menjadi momen melepas lelah justru berubah menjadi pengalaman yang menguras mental.
Kawan saya ini bilang, setiap hari dia pulang dengan perasaan kesal. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena perjalanan pulang yang terasa seperti “perang kecil”. Dan, itu terjadi setiap hari.
Hal lain yang sering luput dibicarakan adalah soal kebutuhan dasar. Ketika menunggu kereta cukup lama dan ingin membeli minuman atau camilan, fasilitas di Stasiun Manggarai terasa sangat terbatas. Tidak seperti Stasiun Kebayoran yang memiliki minimarket seperti Alfamart di dalam area stasiun, di Manggarai penumpang sering kali harus keluar area stasiun terlebih dahulu. Ribet, capek, dan memakan waktu.
Baca juga Naik KRL Jakarta di Jam Kerja Adalah Neraka bagi Para Pemula.
Resign jadi keputusan yang masuk akal
Hal-hal kecil seperti ini, jika terjadi sesekali mungkin bisa ditoleransi. Tapi jika dialami lima hari seminggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dampaknya nyata. Fisik lelah, mental terkuras.
Akhirnya saya paham. Keputusan resign bukan karena teman saya ini lemah, manja, atau tidak tahan kerja. Justru sebaliknya, dia sadar bahwa kualitas hidupnya perlahan hancur oleh sistem transit yang tidak manusiawi.
Dan teman saya bukan satu-satunya. Banyak orang bertahan karena tidak punya pilihan. Tapi tidak sedikit juga yang akhirnya menyerah, pindah kerja, bahkan mengorbankan jenjang karier demi kesehatan fisik dan mental. Ini seharusnya menjadi alarm keras.
Stasiun Manggarai adalah simpul transportasi penting, bahkan disebut-sebut sebagai pusat integrasi KRL. Tapi integrasi tanpa kenyamanan hanyalah pemindahan beban dari satu titik ke titik lain. Jika desain dan pengelolaan tidak memprioritaskan manusia, maka stasiun sebesar apa pun hanya akan menjadi sumber kelelahan masal.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Cari Kerja Memang Susah, tapi Bertahan di Lingkungan Kerja Toxic Juga Nggak Ada Gunanya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
