Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus (Unsplash.com)

Saya berasal dari suku Jawa, sementara suami saya orang Flores. Saya mengajarkan anak saya kalau dia adalah anak dari keluarga JAFLO alias Jawa Flores.

Beberapa hari lalu, saya dan seorang kawan makan di sebuah kedai. Ketika sedang menunggu pesanan kami datang, seorang bapak yang berada di meja yang sama bertanya kami orang mana.

“Saya orang Jawa, Pak,” jawab saya.

“Saya malah bingung kalau bapak nanya begitu, soalnya bapak saya orang Padang, ibu saya orang Sunda. Sementara saya numpang lahir di Bukittinggi dan besar di Tangerang,” jawab teman saya.

Mendengar jawaban teman saya, saya jadi membayangkan seandainya pertanyaan si bapak ditanyakan pada anak saya, kira-kira apa jawabannya ya? Apakah akan sepanjang jawaban kawan saya ini?

Saya orang Jawa yang menikah dengan orang Flores

Jadi begini, saya keturunan Jawa dan suami saya keturunan Flores. Kami berdua lahir dan besar di Jakarta, tapi lahir dari keluarga dengan suku yang sama bukan campuran. Sejak anak saya lahir, banyak orang yang bisa langsung menebak kalau suami saya orang Flores hanya dengan melihat anak saya, kebetulan waktu itu saya pergi sendiri. Sebaliknya, kalau anak saya sedang bersama bapaknya, nggak ada yang menebak dia memiliki darah Jawa. Anak saya memang cuma numpang lahir di saya, tapi blas nggak ada mirip-miripnya sama saya secara fisik.

Merujuk data BPS-Institute of Sout East Asian Studies tahun 2010, suku Flores ada di urutan 52 suku terbesar di Indonesia atau hanya sebesar 0,11%. Sementara suku Jawa memang masih belum tergantikan di posisi pertama.

BPS sendiri menyampaikan bahwa sulit mendefinisikan suku dan berharap pada identifikasi diri pengisi data sensus penduduk. Jika seseorang mendefinisikan suku berdasar pada kebiasaan hidup dan bahasa, maka anak suku campuran yang lahir di tanah rantau akan banyak memilih tanah kelahirannya sebagai suku. Akan tetapi kalau merujuk pada keturunan dan hubungan kekerabatan, anak suku campuran akan memilih salah satu dari suku orang tuanya.

Mendoktrin anak bahwa dia berdarah suku campuran

Sedikit banyak saya mendoktrin anak saya bahwa dia anak JAFLO, Jawa Flores. Saya dan suami banyak mendekatkan anak kami pada budaya dan bahasa Flores, Maumere lebih tepatnya, supaya dia tahu dan mengerti asal usul keluarganya.

Kenapa? Ya karena budaya Jawa dia bisa dapatkan dari kehidupannya sehari-hari, sementara budaya dari pulau yang jauh nggak bisa dia ketahui kalau sedang nggak ada momen khusus. Setidaknya kosakata sederhana yang digunakan sehari-hari oleh omanya bisa dia pahami. Di Hari Kartini, ketika diminta memakai pakaian adat, kami memakaikan pakaian adat Flores karena memang kami punya di rumah dan nggak perlu bayar sewa. Hahaha.

Pengetahuan budaya Flores di rumah kami bahkan sudah dimulai sejak saya dan suami memutuskan menikah. Bapak saya dulu memiliki keinginan jika anaknya menikah dengan orang yang bukan berasal dari suku Jawa, dipersilakan membuat acara sesuai adat pasangannya. Saya kurang tahu alasan bapak saya, tapi hal itu sangat diapresiasi oleh keluarga besan karena kebebasan seperti ini jarang terjadi.

Ketika saya bertanya pada anak saya seandainya ada yang bertanya dia orang mana, dia menjawab, “Aku anak Flores. Namaku aja ada Floresnya.” Ya nggak salah juga, sih, karena saya dan suami memang menyematkan kata Flores pada namanya dan lebih banyak memperkenalkan budaya Flores dalam kehidupan sehari-hari ketimbang budaya Jawa.

Pengenalan bahasa Jawa kami sebatas jawaban ketika dipanggil orang tua menggunakan kata “dalem” daripada “iya”. Atau sebatas lagu Jawa koplo yang sedang viral dan banyak dinyanyikan orang di sekitarnya.

Membayangkan betapa pusingnya petugas sensus seandainya ada banyak penyebutan untuk mendefinisikan kesukuan anak dari keluarga suku campur

Akan tetapi hal ini masih mengganjal di hati saya. Bagaimana nantinya anak saya akan mendefinisikan kesukuannya? Kenapa ini penting untuk saya? Karena saya ingin dia memiliki kebanggaan kedua suku yang dibawanya.

Apakah memungkinkan untuk menjadikan JAFLO atau PEJABAT (peranakan Jawa Batak) sebagai definisi kesukuan untuk anak suku campur? Bayangkan, ada berapa banyak penyebutan yang muncul dari ribuan suku di Indonesia. Petugas sensus penduduk pasti bakal keriting mencatatnya!

Di tengah kebingungan, saya bertanya pada suami, “Mau isi apa suku anak kita?”

“Nusantara,” begitu jawabnya.

Mendengar jawabannya, kok saya malah merasa seperti diskusi dengan Patih Gajah Mada, ya?

Penulis: Virgilia Puput K.
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Nama yang Tak Identik dengan Suku, Bikin Bingung Masuk Komunitas Daerah Asal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version