Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis (Pixabay.com)

Melihat loker di Jogja, tidak ada kata lain yang lebih tepat menggambarkannya selain mengenaskan

Ada satu masa dalam hidup seorang pekerja di mana membuka ponsel di pagi hari tidak lagi mendatangkan rasa semangat, melainkan rasa cemas yang mengendap di dada. Dan ya, saat ini saya sedang berada di fase itu: menganggur.

Sebagai seseorang dengan background di bidang kreatif, prioritas utama saya tentu saja ingin tetap bekerja dan berkarya di Jogja. Alasannya sederhana: Jogja itu rumah, iklim kreatifnya hidup, dan secara kenyamanan lingkungan, kota ini punya tempat tersendiri di hati.

Namun, begitu saya benar-benar melangkah masuk ke pasar kerja lokal dan membuka berbagai laman portal lowongan kerja, kenyataan pahit langsung menampar tanpa ampun.

Pasar kerja di Jogja saat ini bisa dibilang sedang berada dalam level yang sangat sadis.

Loker di Jogja: syarat berjubel, gaji standar, dan nir-jaminan kesehatan

Coba sesekali iseng buka portal lowongan kerja dengan lokasi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kamu bakal menemukan pemandangan yang miris sekaligus bikin geleng-geleng kepala. Untuk satu posisi staf biasa di industri kreatif, syarat yang dipasang oleh perusahaan panjangnya sudah mirip daftar dosa. Pelamar dituntut menguasai lima hingga enam software berbeda, bisa bikin strategi konten, paham analisis data, sanggup multitasking di bawah tekanan tinggi, dan kalau bisa punya pengalaman kerja minimal tiga tahun.

Lalu, berapa imbalan yang ditawarkan untuk kualifikasi “dewa” tersebut?

Sebagian besar perusahaan tanpa rasa bersalah hanya mematok angka di kisaran UMR lokal. Angka yang buat bayar kos, makan sehari-hari, dan bensin motor saja sudah pas-pasan. Yang lebih membagongkan lagi, tidak sedikit dari tawaran kerja itu yang sama sekali tidak melengkapi fasilitasnya dengan jaminan kesehatan seperti BPJS atau asuransi dasar.

Kita dituntut profesional dan memberikan performa 100 persen untuk pertumbuhan perusahaan. Tapi kalau kita sakit gara-gara lembur, biaya pengobatannya ditanggung sendiri oleh dompet kita yang kempis. Yah, begitulah mengerikannya loker di Jogja.

Terjepit Antara 1 Juta Pengangguran dan Inflasi

Kondisi lapangan kerja yang tidak ramah ini terasa makin menyayat hati ketika kita melihat potret makro ekonomi riil di sekeliling kita. Data nasional menunjukkan angka pengangguran terdidik atau sarjana yang menembus angka fantastis mencapai 1 juta orang lebih di Indonesia. Artinya, setiap kali ada satu loker di Jogja dibuka, kita harus bersaing dengan ratusan bahkan ribuan sarjana lain yang sama-sama sedang kebelet mencari piring nasi.

Kondisi persaingan yang brutal ini diperparah oleh tekanan ekonomi lokal. Meskipun secara statistik resmi BPS angka inflasi tahunan di Provinsi DIY atau Kota Yogyakarta berada di kisaran angka yang moderat (sekitar 2 hingga 3 persen per tahun), bagi kita yang hidup di atas aspal Jogja, kenaikan harga kebutuhan hidup terasa berkali-kali lipat.

Harga bahan pokok naik, biaya sewa tempat tinggal merayap, dan jajanan yang dulu murah kini harganya merangkak naik. Rasanya seperti ada “inflasi gaib” yang bikin daya beli UMR Jogja makin tergerus.

Bekerja di industri kreatif Jogja akhirnya sering kali berujung pada eksploitasi berkedok “passion”. Kita dipaksa menerima gaji minim dengan alasan “kan hidup di Jogja murah dan santai”, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ekosistem yang sedang tidak baik-baik saja

Di saat-saat seperti ini, narasi yang sering kita dengar dari luar, entah kamu cari loker di Jogja atau tidak, adalah: “Ya kamu harus tingkatkan skill dong biar dilirik perusahaan!”

Tentu, meningkatkan kompetensi personal itu penting dan tidak boleh berhenti. Tapi kita juga harus jujur pada diri sendiri bahwa persoalan hari ini bukan murni kesalahan para pencari kerja yang dianggap “kurang skill”. Keadaan ekonomi riil saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak perusahaan yang sedang bertahan hidup dengan cara memangkas anggaran SDM sehemat mungkin, yang dampaknya langsung dirasakan oleh kita para pekerja di tingkat bawah.

Ini adalah PR bersama yang sangat besar. Pemerintah daerah perlu hadir tidak sekadar mempromosikan Jogja sebagai kota ramah investasi atau kota wisata. Tapi juga membenahi regulasi dan pengawasan standar pengupahan serta perlindungan hak-hak pekerja kreatif lokal. Perusahaan pun harus mulai memanusiakan tenaga kerjanya, bukan menjadikan mereka sebagai komoditas murah yang bisa diperas energinya.

Bagi kawan-kawan yang mungkin saat ini nasibnya sama seperti saya, tetaplah jaga kesehatan mental dan fisik kalian. Menganggur dan ditolak berkali-kali oleh sistem kerja yang tidak ramah itu memang melelahkan, tapi bukan berarti nilai atau kapasitas dirimu berkurang.

Semoga ada solusi nyata dari semua keruwetan ini dalam waktu dekat. Semoga loker di Jogja kembali sehat. Dan para pekerja kreatif serta para pencari kerja lokal mendapatkan penghargaan yang layak atas keringat dan karya mereka.

Penulis: Ajie Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kerja di DIY dengan Gaji Rp3 Juta adalah Keistimewaan, Sulit Ditemui di Jogja yang Konon Istimewa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version