Ratusan Langkah Menuju Toilet Stasiun Lempuyangan, Wajar atau Kebangetan?

Stasiun Lempuyangan Jogja, Stasiun Sederhana Saksi Pertemuan yang Manis dan Perpisahan yang Tragis

Stasiun Lempuyangan Jogja, Stasiun Sederhana Saksi Pertemuan yang Manis dan Perpisahan yang Tragis (RaFaDa20631 via Wikimedia Commons)

Rabu sore (28/6/23) sembari menunggu kedatangan KRL yang membawa saya pulang dari Stasiun Lempuyangan, iseng-iseng saya mencoba menghitung jarak antara toilet dan kursi tunggu penumpang, dengan alat pengukur langkah kaki saya sendiri. Bisakah Anda menebak berapa puluh atau ratus kali saya harus melangkahkan kami sebelum memutuskan duduk sejenak sambil menunggu KRL datang?

Jika Anda menebak 10 langkah, yang dihitung dari pintu keluar toilet, tebakan Anda ada benarnya. Bahkan kurang dari 10 langkah pun ada kursi. Jika Anda menebak 50 langkah, juga ada benarnya karena di kisaran 10 sampai 50 juga ada kursi yang bisa diduduki selama masih kosong.

Namun, jika Anda menyebut angka 100 atau 300 langkah, Anda juga tidak keliru. Lagi-lagi karena ada kursi yang bisa Anda pakai buat menunggu datangnya KRL atau sekadar melepas lelah setelah turun dari kereta api jarak jauh.

Banyak kursi di Stasiun Lempuyangan

Mengapa bisa benar semua? Ya, memang pihak stasiun menyediakan deretan kursi yang cukup banyak di dalam stasiun. Yang juga dilengkapi fasilitas area untuk charging ponsel. Juga beberapa gerai yang menjual makanan dan minuman.

Namun, jika Anda menyoroti jarak antara pintu masuk stasiun (yang berada di sebelah timur) dan toilet yang ditempatkan di ujung barat, saya bisa katakan, “Selamat berjuang!” untuk sekadar cuci muka, pipis, atau buang air besar.

Kembali ke eksperimen kecil saya. Oleh karena cukup kepo dengan jarak toilet dengan pintu masuk-keluar (gate-in dan gate-out) pengguna KRL, hitungan saya ada di kisaran 350 sampai 400 langkah orang dewasa dengan tinggi badan standar seperti saya (165 cm).

Saya pun nggak sampai tuntas mengukur karena harus terhenti pada langkah ke-260. Saya tidak mau kembali ke titik penyeberangan antara jalur 1 dan 2 menuju peron di mana saya biasa menunggu kedatangan KRL.

Memang tak ada yang mengharuskan buat menunggu di ujung timur. Bisa juga menunggu di ujung barat, yang berjarak sekitar 50-70 langkah dari pintu toilet. Hanya, jangan lupa bahwa topik yang kita bahas adalah jarak pintu masuk ke toilet. Bukan jarak toilet ke gerbong kereta api.

Toilet kok cuman satu yak?

Entah sejak kapan letak toilet di Stasiun Lempuyangan seperti sekarang. Semasa saya masih kuliah dan awal bekerja, sebelum melaju dengan KRL, seingat saya cukup jarang menggunakan toilet karena jarang bepergian dari/ke Stasiun Lempuyangan.

Namun, sejak menggunakan KRL selama dua tahunan ini (KRL Solo-Jogja beroperasi mulai 10 Februari 2021), membuat saya memiliki cukup waktu untuk mencermati apa saja yang terjadi pada Stasiun Lempuyangan. Saya bahkan bisa dengan mata terpejam menyebutkan letak Alfamart, CFC, Indomaret, juga beberapa warung yang menjual makanan. Sampai ruangan kerja Polsuska dan musala pun saya hafal.

Setelah mondar-mandir setidaknya 10 kali dalam seminggu, setidaknya selama dua tahun empat bulan, boleh dong jika saya lantas menyimpulkan bahwa pihak manajemen Stasiun Lempuyangan agak kurang bijaksana dalam meletakkan toilet, yang hanya ada satu. Kondisi toilet memang bagus. Cukup luas, bersih dan wangi, juga gratis. Tapi, sekali lagi jarak yang cukup jauh menjadi masalahnya.

Jika acuannya adalah gate-in atau gate-out bagi penumpang KRL, bayangkan dalam kondisi kebelet pipis (atau BAB). Anda masih harus menahan setidaknya 2-3 menit sebelum dapat menuntaskan keperluan di toilet! Jika acuan yang dipakai adalah pintu masuk, waktu tambahan yang diperlukan sekitar 30 detik, jika Anda cukup cepat dalam melangkah. Can you imagine about that?

Toilet lain ada sih, tapi…

Saran saya, tidak usah dibayangkan. Cukup datang saja ke Stasiun Lempuyangan, sejak dari pintu masuk stasiun, lalu carilah letak toiletnya. Cobalah hitung berapa langkah Anda sampai ke toilet. Semoga tidak “mbrojol” alias kelepasan di tengah jalan ya!

“Apakah benar-benar tidak ada alternatif toilet lain di sekitar stasiun?” mungkin ada yang bertanya seperti itu.

Ada. Malah tidak hanya satu, yang terletak di beberapa rumah yang menawarkan jasa parkiran sepeda motor, yang terletak di sebelah selatan stasiun (persis berseberangan). Namun, siap-siap saja membayar sejumlah uang. Juga jangan bandingkan dengan kondisi toilet di dalam stasiun yang saya sempat singgung tadi.

Ya, memang semuanya berpulang pada pengguna, penumpang kereta, atau pengunjung stasiun sih. Hanya, saya berkali-kali melihat para penumpang kudu berjuang hanya untuk pergi ke toilet stasiun. Saya juga kerap mendengar keluhan penumpang karena jarak yang cukup jauh tadi.

Kenapa nggak bikin toilet satu lagi di Stasiun Lempuyangan?

“Kenapa tidak dibuat satu lagi sih, trus diletakkan di sebelah timur atau di tengah antara pintu masuk dan toilet yang sekarang?” tanya seorang teman.

Benar sekali. Itu pula yang sempat saya pikirkan dan rasanya akan segera saya usulkan setelah tulisan ini selesai. Urgensi tersedianya toilet tambahan memang cukup tinggi. Itu kalau manajemen stasiun di wilayah Daop 6 ini tidak mau (maaf) disumpahi penumpang atau pengguna kereta api, yang kesal luar biasa karena harus melangkah ratusan kali sebelum sampai ke toilet.

Jarak seperti ini, kalau disusun ke atas seperti anak tangga, sudah melebihi jarak antara padang pasir dan puncak Bromo di mana wisatawan bisa melihat kawah dari jarak ideal. Jadi, menurut Anda jarak toilet seperti di Stasiun Lempuyangan ini masih terasa wajar atau kebangetan jauhnya? Silakan curhat jika Anda kebetulan mencermati hal yang sama!

Penulis: Widodo Surya Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Stasiun Lempuyangan Jogja, Stasiun Sederhana Saksi Pertemuan yang Manis dan Perpisahan yang Tragis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Exit mobile version