Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Rasanya Didiagnosis Menderita Bipolar dan Mendengar Tanggapan Orang yang Ora Mashok

Yafi' Alfita oleh Yafi' Alfita
12 Oktober 2020
A A
bipolar disorder depresi penyakit mental masa lalu mojok

bipolar disorder depresi penyakit mental masa lalu mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa bulan yang lalu saya sempat didiagnosis menderita bipolar disorder. Sejujurnya hati kecil saya belum 100% mengamini diagnosa tersebut. Namun, kali ini saya hanya ingin menceritakan bagaimana sih rasanya mendengar bu dokter bilang kalau kamu perlu minum obat-entah sampai kapan untuk meringankan penyakit yang bahkan tidak terlihat.

Awal mula ini semua salah sejak Covid-19 menyerang. Hidup di rumah berbulan-bulan bagi saya-yang terbiasa hidup bareng teman di pesantren lumayan nggak mudah. Jelas saya tahu bahwa di luar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung saya. Namun, tulisan ini memang bukan ajang lomba tentang siapa yang paling menderita, seperti yang sering terjadi di dunia maya. Saya cuma mau bercerita meski belum tentu juga ada hikmahnya.

Bagian yang berat dari kisah ini saya kira terletak pada awal permulaan. Waktu saya masih bertanya-tanya tentang apa yang salah pada diri saya. Sebelum pada akhirnya saya terpaksa memberanikan diri mengatakannya kepada Ibu.

Saat itu sudah berhari-hari lamanya saya menangis di kamar tanpa sebab yang jelas. Hingga pada suatu pagi, pintu kamar yang selalu saya kunci rapat dari dalam didobrak paksa oleh ibu saya. Walaupun dobrakannya nggak ngefek-ngefek amat, tapi itu cukup membuat saya kaget dan trauma hingga saat ini. Saat itu Ibu bengak-bengok bilang, “Buka, Ayo buka!” Kira-kira nggak beda jauhlah sama polisi 86.

Akhirnya dengan kondisi muka bengep habis nangis berhari-hari itu saya bukakan pintu untuk ibu saya. Ibu langsung bertanya dengan nada yang lumayan tinggi. Pertanyaan Ibu saat itu cukup padat, singkat, namun tidak jelas. “Ngopo koe!” Bingung jawaban apa yang pas untuk pertanyaan ini, saya malah makin nangis dan meminta ibu saya untuk keluar saja dari kamar saya.

Namun, sesuai dengan dugaan anda, Ibu yang berusia tiga kali lipat lebih tua dari saya tentu nggak mungkin langsung keluar begitu saja. Alih-alih bertanya dengan lembut, Ibu malah bersulut-sulut seperti sedang menginterogasi orang yang kesurupan. Pada titik itu saya juga curiga bahwa Ibu memang mengira saya sedang kesurupan.

Dengan nafas yang masih sesak sehabis menangis, saya berusaha mengatakan bahwa saya merasa sedang depresi. Sesaat kemudian, tanpa pikir panjang Ibu menjawab, “Kabeh wong ki yo depresi, ra mung koe tok.” Saya tertohok oleh jawaban itu. Namun, terlepas dari itu saya tetap dapat memahami jawaban ibu. Tentu Ibu kaget karena belum pernah melihat ada anaknya yang seperti ini.

Setelah kejadian drama tersebut saya akhirnya diperbolehkan kembali ke Jogja, tempat di mana pesantren saya berada, juga sekalian memeriksakan diri saya ke psikiater.

Baca Juga:

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Saya sangat malu dan berusaha menutupi serapat mungkin rencana saya untuk pergi ke psikiater. Teman-teman pondok saya tidak ada satu pun yang mengetahui akan hal itu. Saya pergi motoran sendiri memeriksakan diri ke poli jiwa yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya.

Pada saat mengantre di poli jiwa ada kejadian unik yang kalau diingat-ingat lagi lumayan bikin geli. Ya walaupun saat itu tetap menyedihkan, sih.

Saya duduk tepat di depan poli jiwa di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta. Persis di belakang tempat duduk saya duduklah dua pemuda yang sedang asyik mengobrol. Di tengah-tengah pembicaraan tiba-tiba saya mendengar celetukan salah satu dari mereka. “Heh, sing lungguh ning kene ki wong edan kabeh po?” yang kemudian disusul gelak tawa dua pemuda itu.

Sialnya tidak ada satu menit setelah celetukan itu, nama saya dipanggil dengan lantang dan juelas oleh mbak-mbak perawat untuk masuk ke poli jiwa. Saya sangat malu tapi masih bersyukur bahwa saya mengenakan masker pada waktu itu.

Setelah selesai memeriksakan diri, seperti yang Anda tahu saya didiagnosis menderita bipolar. Saya merogoh kocek cukup dalam hanya untuk mendengarkan kata-kata yang tidak saya harapkan. Saya menghamburkan kurang lebih Rp800 ribu untuk itu dan menebus obat yang harus diminum selama sebulan.

Merasa agak terpukul dengan kejadian yang saya alami, saya merasa butuh bercerita kepada teman saya. Pun tak lupa mengabari Ibu dan kakak saya yang sudah mentransfer uang untuk saya memeriksakan diri. Hanya sekadar ingin meyakinkan mereka bahwa uangnya saya gunakan dengan semestinya.

Tidak dinyana-nyana, beragam respon saya dapatkan dari mereka. Seorang teman saya yang mahasiswa jurusan psikologi berkata, “Nggak apa-apa, semua orang juga punya masalah kejiwaan kok.” Dalam benak saya kalimat ini seperti berkata, “Mbok pikir koe tok sing stress, Buos?”

Lain pula dengan yang satu ini, ibu saya mengirimi pesan di Whatsapp yang panjangnya nggak kalah dari tol Cipali. Isinya ia meminta saya untuk tidak stress, ia bilang saya hebat bisa memutuskan hubungan dengan mantan pacar saya dua tahun lalu. Juga keren karena mau menghindarkan diri dari dosa, dan bertaubat kepada Allah. Padahal yang ia tidak tahu, justru saya yang diputusin dan merengek-rengek untuk bisa balikan. Terlebih lagi semua ini tidak ada hubungannya blas dengan mantan pacar saya. Nggak tahu juga ibu saya dapet ide ngarang dari mana.

Yang lumayan nggemesin ini adalah kakak saya. Sejauh ini ia saya nilai sebagai manusia yang paling intelek di rumah saya. Sebab, ia selalu masuk sekolah favorit dari TK hingga S2. Mulanya ia tidak berkomentar banyak tentang hal ini. Namun, beberapa minggu kemudian ia mengirimkan sebuah link Instagram. Isinya kurang lebih quotes dan imbauan agar tidak mudah self-diagnosis terhadap penyakit bipolar. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang ikut urunan agar saya bisa memeriksakan diri ke psikiater saat itu.

Akhir kata, jika ditanya bagaimana rasanya didiagnosis dengan bipolar disorder tentu saya tidak mau bilang rasanya seperti kamu menjadi Iron Man. Selain udah basi, saya juga nggak tahu darimana datangnya sound TikTok yang mendadak viral itu.

Mungkin, apabila disimpulkan, perasaaan didiagnosis dengan bipolar disorder ini lebih seperti ketika kamu kecokot laos pas lagi enak-enaknya makan gule. Alias pahit, Buosss.

BACA JUGA Suara Hati Muslimah yang Diberi Jilbab sejak Balita dan Kini Ingin Melepasnya dan tulisan Yambuk lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2020 oleh

Tags: bipolar disorderdepresiKeluargapenyakit mentalpoli jiwa
Yafi' Alfita

Yafi' Alfita

Generasi muda Indonesia yang suka install-uninstall Tinder, nggak tahu karena apa.

ArtikelTerkait

Generasi Sandwich

Usia Baru 20 Tahun Tapi Sudah Jadi Generasi Sandwich

26 Juli 2019
Keluarga Somat, Keluarga Ideal Idaman Banyak Orang

Keluarga Somat, Keluarga Ideal Idaman Banyak Orang

23 Mei 2023
istri memang orang lain bagi suaminya nasihat pernikahan mojok.co

Nasihat Pernikahan: Istri Memang Orang Lain bagi Suaminya

10 September 2020
Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

4 Desember 2019
Nyatanya, Keluarga Jepang seperti Chibi Maruko-chan Sudah Hampir Nggak Ada Terminal Mojok

Nyatanya, Keluarga Jepang seperti Chibi Maruko-chan Sudah Hampir Nggak Ada

27 April 2022
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Karena ke Psikolog Mahal, Saya Mencoba Maklum pada Mereka yang Tingkahnya ‘Aneh’

11 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Jalan Raya Prembun-Wadaslintang, Jalur Penghubung Kebumen-Wonosobo yang Keadaannya Menyedihkan dan Gelap Gulita! wonosobo

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

13 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.