Tinggal di kampung itu penuh dinamika sosial. Soalnya, selalu saja ada bahan untuk disambatkan. Mulai dari tetangga yang hobi bakar sampah sembarangan, banyaknya pritilan iuran, hingga tradisi srawung yang terasa seperti kewajiban. Sampai-sampai, ada istilah ra srawung rabimu suwung.
Bagi siapa pun yang lahir dan besar di tanah Jawa, jokes ‘Ra srawung rabimu suwung’ tentu sudah tidak asing lagi. Secara harfiah, kalimat tersebut menyiratkan sebuah peringatan bahwa jika kamu jarang bergaul atau malas nimbrung dengan warga sekitar, bersiaplah menghadapi risiko hajatanmu bakalan sepi. Sepi di sini bisa berarti sepi tamu yang datang, yang berarti sepi pula amplop sumbangan, atau bisa pula berarti sepinya uluran tangan dari tetangga.
Kalau mau jujur, sebetulnya ada nilai-nilai positif yang tersanding dalam kata ‘srawung’. Bagaimanapun juga, srawung atau berkumpul adalah wujud nyata persatuan warga di tingkat akar rumput. Cocok nih dengan Pancasila sila ke-3. Tapi, kalau srawung dijadikan sebagai suatu kewajiban? Duh, maaf-maaf aja, nih. Sudah nggak relevan.
Srawung antara dulu dan sekarang
Dulu, ritme kehidupan berjalan jauh lebih lambat dan longgar. Pekerjaan orang-orang di desa pada masa itu umumnya dagang di pasar, atau pergi ke sawah untuk menggarap tanah. Setelah dhuhur, biasanya mereka sudah pulang ke rumah untuk beristirahat. Sehingga, mereka punya banyak energi untuk berkumpul bersama warga di sore hari ataupun malam hari.
Pola yang kurang lebih sama juga dijalani oleh yang perempuan. Pagi hari dihabiskan untuk merampungkan pekerjaan domestik sekaligus membantu mencari tambahan nafkah, lalu sorenya sambil nunggu maghrib atau anak pulang mengaji, bisa haha hihi dengan tetangga dulu. Srawung masih relevan.
Kalau sekarang?
Bagi sebagian besar orang hari ini, mencari sesuap nasi sudah menyita seluruh energi. Sialnya, meski energinya tersita habis, kehidupan tetap saja jauh dari kata manis. Gimana bisa manis kalau untuk sekadar beli beras yang layak saja dompet sudah kembang kempis?
Lalu dengan kondisi seperti itu ada tuntutan sosial untuk selalu hadir si setiap tongkrongan? Wah, sungguh terdengar seperti suatu siksaan.
Paksaan atas nama kebersamaan
Kalian tahu apa hal yang paling bejat ketika ada seorang warga yang absen dari kegiatan srawung dengan alasan kerja? Mereka bilang, “Memangnya kamu doang yang kerja?” atau kalimat senada seperti, “Iya, iya. Sekampung ini yang kerja kamu doang yang lain nganggur~”. Tentu saja diucapkan dengan nada yang membuat darah orang yang dirasani jadi mendidih.
Bejat, memang.
Dengan harga-harga yang mahal seperti saat ini, ada orang mau kerja untuk sekadar menyambung hidup kok malah dimusuhi? Kan nggak ngotak.
Padahal, kalau mau jujur pada kenyataan, apa sih substansi dari acara srawung itu? Sering kali kegiatannya tidak jauh-jauh dari ngobrol ngalor-ngidul yang tidak jelas juntrungannya, atau sekadar gibahin kebijakan pemerintah. Lha daripada gitu ya mending kerja, sudah jelas dapat duit. Misal ngepasi libur pun bukan berarti wajib datang untuk kumpul-kumpul. Asli, nggak make sense orang yang bilang, “Ayo kumpul mumpung libur,”
Mumpang-mumpung. Justru mumpung libur ya mending turuu~
Ada pihak ketiga
Selain hidup yang sudah semakin berat, ancaman klasik “ra srawung rabimu suwung” juga sudah tidak relevan karena karena peradaban yang terus berjalan. Dulu, kita memang sangat bergantung pada tenaga tetangga untuk urusan rewang—mulai dari memarut kelapa, merajang bumbu, hingga mendirikan tenda dadakan. Maka, wajar jika absen bergaul dianggap sebagai dosa besar yang bakal membuat hajatan berantakan karena tidak ada yang mau membantu.
Sekarang, situasinya beda. Urusan masak-memasak dan logistik hajatan kini bisa diserahkan ke vendor. Tinggal bayar sesuai paket, dan semua makanan lezat tersaji rapi tanpa perlu repot mengoordinasikan puluhan warga desa sejak subuh.
Nggak ada duit buat sewa vendor? Jangan khawatir. KUA masih berdiri tegak. Syarat wajib nikah itu nggak harus gelar hajatan, kok. Jadi, aman saja. Uang yang sedianya buat gelar hajatan malah bisa untuk pegangan. In this economy, ini sangat bijak sekali.
Ada duit buat sewa vendor tapi takut nggak ada warga yang mau kondangan?
Ah, saya sih nggak yakin soal itu. Selama kalau kita dapat undangan kita sempatkan untuk datang, saya yakin pas kita hajatan pun orang akan datang ke acara kita, walaupun kita nggak pernah kelihatan nongkrong di pos ronda atau teras tetangga.
Jadi, lupakan jokes ra srawung rabimu suwung itu. Buat apa takut hajatan bakal suwung hanya karena jarang ikut kumpul-kumpul? Di era sekarang ini, sudah bener kita kerja saja. Kerja kerja kerja. Fokus ngumpulin duit sebanyak-banyaknya. Noh, ayam potong noh, sekilo sudah 42 ribu, Bray~
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
