Promosi itu penting. Begitu pula dalam industri film. Film sebagus apapun akan sepi penonton kalau promosinya kurang.
Nah, soal promosi film, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya, membuat rilis trailer yang bikin penasaran, mengadakan meet and greet dan gala premier, hingga membayar buzzer di media sosial. Promosi dengan cara bikin gimmick seolah para pemain utamanya cinlok juga ada. Bahkan, sampai bikin settingan seolah talent kesurupan juga ada. Apapun dilakukan demi meraup penonton sebanyak-banyaknya.
Menariknya, semua cara itu ternyata belum ada apa-apanya dibanding cara promo film Aku Harus Mati. Tim promosinya cuma pakai billboard sih. Tapi, pilihan gambar dan judul film yang terpampang jelas di billboard bikin pengguna jalan resah. Tidak heran kalau cara promosi ini banyak dihujat netizen beberapa hari terkahir.
Bahaya billboard film Aku Harus Mati untuk kesehatan mental
Bayangkan situasinya begini. Kamu baru saja melalui hari yang berat di kantor. Semua pekerjaanmu dianggap tidak ada yang beres. Lalu sepulang kerja, di tengah jalan ban motormu bocor. Alhasil, motor harus didorong untuk mencari tukang tambal ban.
Sambil menunggu tukang tambal ban bekerja, kamu mengecek ponsel. Ada pesan dari kantor kalau mulai besok, kamu diberhentikan. Belum sempat otakmu memproses kabar itu, ibu menelepon dari kampung sambil menangis. Ibu bilang bapak jatuh dari kamar mandi dan butuh biaya segera untuk operasi. Di saat yang sama, bayang-bayang pemilik kontrakan yang menagih tunggakan 2 bulan biaya kontrakan, pesan dari sekolah anak yang menagih biaya studi tur, dan istri yang sebentar lagi melahirkan, bersliweran di kepala.
Sialnya, ketika motor sudah ditambal dan kamu terhenti di lampu merah, kamu melihat billboard promosi film segede gaban bertuliskan “Aku Harus Mati” tepat di depan matamu. Dan, bayangkan kalian terpapar billboard meresahkan itu berkali-kali sepanjang perjalanan pulang. Apa nggak tambah tertekan?
Mungkin kalian merasa perumpamaan saya ini terlalu berlebihan atau ekstrem. Namun, itu bukan tidak mungkin. Pengguna jalan itu banyak dan bermacam-macam. Kita tidak pernah benar-benar tahu hidup macam apa yang telah mereka lalui hingga titik ini. Kita juga tidak pernah tahu riwayat kesehatan mental yang dimiliki oleh masing-masing pengguna jalan.
Saya heran sendiri. Ini pembuat filmnya, apa nggak paham apa ya kalau penggunaan kata “Aku” dalam sebuah kalimat pendek akan terasa seperti sugesti yang diam-diam masuk ke dalam alam bawah sadar seseorang? Alih-alih konten promo film, billboard seperti ini justru menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan.
Kehebohan yang diprediksi
Karena dianggap meresahkan inilah, billboard promo film Aku Harus Mati banyak dihujat oleh netizen. Terlebih, pemasangan billboard tersebut di titik-titik yang padat dan kurang bijak. Di Harmoni misal, billboard dipasang dekat dengan 2 sekolah TK? Ibu mana coba yang nggak khawatir anaknya bakal kena dampak psikologis karena terpapar konten billboard?
Meski demikian, saya yakin kehebohan billboard ini sudah diprediksi sebelumnya. Dan, mungkin, memang kehebohan itulah yang mereka cari. Harapannya, dengan heboh, film ini jadi banyak dibicarakan, viral di media sosial, orang jadi penasaran dan akhirnya memburu bioskop.
Saya jadi penasaran dan mengulik berapa jumlah penonton film ini sejak kali pertama rilis di tanggal 2 April. Dan, ternyata, film ini baru meraih sekitar 29.602 penonton. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan film lain yang rilis bersamaan atau film horor lainnya yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan penonton di hari-hari pertama.
Andai saya produser film Aku Harus Mati
Memang terlalu dini menyebut film ini melempem di pasaran. Toh, data penonton bisa terus berubah seiring berjalannya masa penayangan di bioskop. Meski demikian, andai saya jadi produser film Aku Harus Mati, saya pasti akan meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dari adanya billboard promo film ini.
Selanjutnya, saya akan cabut semua iklan billboard yang sudah kadung terpasang, dan putar otak cari strategi promosi lainnya. Dengar-dengar, di Jakarta, billboard ini sudah mulai diturunkan, tapi bagaimana dengan daerah-daerah lain? Yang jelas, saya akan memprioritaskan penurunan materi promosi yang nggak layak ini daripada sibuk menayangkan rilis soal pesan moral di balik film.
Nganu, Pak/Bu produser, sepertinya panjenengan lupa bahwa pesan moral tidak bisa dibangun di atas penderitaan mental orang lain. Jadi, kapan billboardnya dibongkar seluruhnya?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Rekomendasi Film Indonesia yang Relevan dengan Hiruk Pikuk Negara Saat Ini.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
