Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja (Pixabay.com)

Bekerja sebagai Quality Control (QC) itu ibarat menjadi wasit di pertandingan sepak bola tarkam yang sengit. Kalau pertandingan berjalan mulus tanpa kartu merah, semua orang akan memuji kehebatan pemain dalam mencetak gol.

Tapi begitu ada salah peluit sedikit saja, atau ada satu pelanggaran yang luput dari pandangan, satu stadion bakal kompak melontarkan kalimat umpatan ke kita.

Inilah nasib tragis para Quality Control. Kami menjaga keseimbangan antara ngegasnya produksi dan cerewetnya pelanggan. Sebuah posisi yang membuat kami sering kali duduk sendirian merenungi setiap keputusan yang sudah dibuat.

Menjelang tiga tahun menjalani profesi sebagai quality control, saya telah merangkum beberapa alasan kenapa nasib QC seironis itu.

Keberadaannya sering dianggap gaib

Dalam ekosistem pabrik atau perusahaan, Quality Control adalah makhluk gaib. Kami ada, tapi tidak dianggap. Saat ribuan barang lolos ke gudang dengan kualitas bagus, tidak ada satu pun yang berteriak memuji.

Semua dianggap sebagai “memang sudah seharusnya begitu standarnya”. Keberhasilan kami dianggap sebagai fungsi supporting, seolah-olah kualitas bagus itu muncul secara gaib tanpa ada mata yang pedih memeriksanya.

Kami dituntut untuk memiliki ketelitian tingkat dewa selama jam kerja. Mata kami harus mampu menangkap detail yang diabaikan orang normal. Sialnya, dalam kamus perusahaan, QC tidak boleh punya hari yang buruk.

Satu detik saja mata kami berkedip, satu produk cacat lewat, reputasi profesional kami yang dibangun bisa rontok seketika. Contohnya, begitu ada satu saja barang cacat yang entah bagaimana bisa lolos ke produksi atau sampai ke pelanggan, seketika itu juga nama QC menjadi sorotan.

Produksi menyalahkan Quality Control karena dianggap tidak teliti, logistik menyalahkan karena barang jadi retur, dan accounting menganggap kita tidak serius pada klaim-klaiman. Di saat seperti itu, penjelasan tentang prosedur sampling hanya akan dianggap sebagai dongeng sebelum tidur yang tidak berguna.

BACA JUGA: Karyawan Startup di Jogja Tersiksa, Apalagi Saat Bulan Ramadan. Udah Gaji Nggak Seberapa, Kesempatan untuk Sahur dan Buka Hampir Nggak Ada

Dalam dilema

Menjadi Quality Control juga soal pergulatan batin yang melelahkan. Kalau kami terlalu ketat dan menolak banyak barang atau reject, kita dianggap hanya merusak pasokan logistik. Kami dituduh cari-cari kesalahan.

Tapi kalau kami sedikit melonggarkan standar demi solidaritas sesama rekan kerja, atau vendor yang baik hati hingga ternyata barang itu bermasalah, kami pulalah yang pertama kali diseret ke meja manajemen.

Quality Control, korban perang dingin divisi lain

Ada jarak sosial yang tidak tertulis antara QC dan divisi lain. Karena tugas kami adalah memeriksa bahkan menggagalkan hasil kerja orang lain, kami sering kali menjadi korban perang dingin.

Obrolan yang tadinya seru bisa tiba-tiba sunyi saat seorang QC bergabung. Mungkin mereka takut kalau-kalau kami akan menginspeksi pekerjaannya.

Quality Control, pahlawan tanpa panggung

Saat produk laku keras dan perusahaan untung besar, semua pujian akan mengalir ke tim desain yang kreatif atau tim pemasaran yang jago jualan. Mereka dianggap pahlawan yang membawa uang.

Sementara kami, Quality Control, tetap di pojok ruangan, memastikan standar tetap terjaga tanpa pernah disebut dalam pidato keberhasilan. Kami adalah pahlawan tanpa panggung yang jasanya hanya diingat saat terjadi kegagalan.

Meski sering dicaci dan diacuhkan, ada kepuasan batin yang aneh bagi seorang QC. Ada rasa bangga yang tersimpan saat kami tahu bahwa barang yang sampai ke tangan konsumen adalah yang terbaik karena ketegasan kami.

Kami mungkin tidak butuh tepuk tangan atau pujian setinggi langit. Kami hanya butuh sedikit pengertian bahwa kami ada untuk melindungi nama baik perusahaan, bukan untuk menjadi musuh bagi rekan kerja sendiri.

Menjadi Quality Control memang bukan jalan menuju popularitas. Ini adalah jalan sunyi tentang integritas yang sering kali dibayar dengan rasa pegal di mata dan sesak di dada. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau bukan kami yang menjaga kualitas, siapa lagi yang mau peduli pada detail-detail kecil yang menentukan hidup matinya sebuah produk?

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Operator QC, The Unsung Heroes yang Kerap Bernasib Getir

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version