Preman Pensiun Episode 26, Musim 1: Malangnya Saep Jadi Korban Salah Tangkap

sinopsis preman pensiun episode 1 musim 1 mojok.co preman pensiun episode 2 preman pensiun episode 3 episode 4 episode 5 episode 8 episode 10 episode 19 kang bahar

sinopsis preman pensiun episode 1 musim 1 mojok.co preman pensiun episode 2 preman pensiun episode 3 episode 4 episode 5 episode 8 episode 10 episode 19

Preman Pensiun episode 26 dibuka dengan adegan makan bersama Kang Mus, Ema, dan Eneng. Saat lagi enak-enak makan, Kang Mus ditelepon Amin yang mengabarkan dirinya akan mengantar Kirani ke pasar. Seperti biasa, Kang Mus langsung menghubungi Komar dan menugasinya mengawal putri Kang Bahar berbelanja.

Tapi, karena Komar masih di angkot, Komar menelepon Jupri yang saat itu di pasar. Jupri berkata siap. Begitu telepon ditutu, Joni yang juga lagi di pasar menghampirinya Jupri. Jupri heran, kenapa Joni berpakaian ala-ala security. “Ngapain pakai baju begituan?” tanyanya. Joni menjawab ia disuruh begitu oleh Komar. Selain karena disuruh, menurut Joni berpakaian layaknya security bisa membuat orang tuanya mengira pekerjaannya memang security.

Tak lama setelah Joni menghampiri Jupri, Komar datang. Joni langsung membuka pembicaraan. Joni berkata pada Komar bahwa ia mendengar kabar Iwan dihajar Murad di depan Jamal. Karena mendengar kabar itu, Komar langsung menghubungi Kang Mus. Kang Mus langsung bergerak cepat turun tangan menyelesaikan masalah ini.

Kang Mus langsung mengendarai vespa menuju tempat Jamal dan bawahannya biasa berkumpul. Ini yang menarik. Setelah sampai, Kang Mus langsung mendongkrak vespa birunya dan menghampiri Jamal. Kang Mus bertanya, kenapa Iwan dihajar? Jamal yang sering tampil garang dan tempramental mengubah sikapnya menjadi biasa-biasa saja dan bilang kepada Kang Mus, bahwa dulu Iwan juga pernah mukulin Dikdik.

“Emang kamu tahu masalahnya apa?” tanya Kang Mus.
“Iwan mendatangi Dikdik dan sepertinya Iwan ingin mukulin Dikdik lagi,” kata Jamal

Setelah mendengar jawaban Jamal, Kang Mus bertanya kepada Dikdik memastikan apakah benar masalahnya begitu.

“Sebenarnya saya dan Iwan bertemu karena urusan pribadi. Iwan ketika itu melihat saya tengah berada di rumah Yuyun. Iwan cemburu, padahal saya hanya membelikan Yuyun obat untuk ibunya. Makanya Iwan mau bertemu saya,” jawab Dikdik.

Kontan Kang Mus langsung bilang kepada Jamal, “Tuh, lihat. Itu urusan pribadi, kenapa kamu ikut-ikut dan sampai menghajar Iwan?”

Jamal yang tampilannya garang itu langsung ditampar Kang Mus. Kang Mus memberi Jamal “pelajaran” agar ia hati-hati dalam menyimpulkan sesuatu dan bertindak.

Pada Preman Pensiun episode 26 ini, ada adegan Dea, keponakan Kang Mus, lagi naik angkot. Saat dalam perjalanan, ternyata ada Ubed—copet yang sudah tobat—menaiki angkot yang sama dengan Dea. Ketika dalam perjalanan, Ubed terlihat melirik tas Dea. Saat akan turun, Dea bertanya jalan pada Ubed. Setelah itu Dea mendatangi tukang jualan makanan, tapi waktu akan membayar, dompetnya sudah tidak ada.

Dea panik dan langsung menghubungi Ceu Esih mengabarkan dompetnya hilang. Selain itu, kata Dea, dia juga minta maaf karena tidak bisa bawain Ema makanan yang dipesannya. Kebetulan Kang Mus baru datang. Ceu Esih langsung saja bilang ke Kang Mus bahwa Dea kecopetan. Seperti biasa, Kang Mus menghubungi anak buahnya. Kali ini Komar yang dihubungi.

Kang Mus menginstruksi Komar untuk mencari dompet dan menemukan siapa pencopet dompet Dea. Karena tak mau sendirian, Komar berbohong kepada Gobang dengan bilang bahwa Gobang juga harus membantu Komar. Akhirnya mereka berdua bergegas menjalankan tugasnya.

Komar dan Gobang memilih berhenti di halte dekat persimpangan. Mereka mencari pencopet dengan metode “razia pencopet”. Caranya dengan menyetop angkot-angkot yang lewat. Gobang bertugas menyetop dan Komar yang mengecek. Beberapa angkot berlalu, tapi belum juga ditemukan si pencopet ini.

Adegan berganti menyorot Ubed yang setelah mencopet sepertinya agak ragu. Ia sempat membuka dompet hasil nyopet tersebut. Tapi, mengurungkan niat untuk mengambil dan langsung membuang dompetnya. Akhirnya dompet itu disimpan kembali. Setelah itu Ubed berjalan ke tempat Dewi berjualan cilok. Saat sampai, Ubed langsung bilang kepada Dewi bahwa tangannya seperti punya pikiran sendiri. Tangannya tiba-tiba bergerak menuju tas orang yang ada di sampingnya. Dan akhirnya didapatlah dompet yang kemudian ditunjukkan kepada Dewi.

Dewi agak marah karena Ubed melanggar tobatnya. Sambil marah, Dewi mengambil dompet itu dan mengambil KTP yang ada di dalamnya. Dengan perasaan kesal, Dewi menyuruh Ubed untuk menggantikanya berjualan cilok sebentar. Dewi langsung menyetop angkot dan menaikinya. Dewi sampai ke tempat tujuan, yakni rumah Dea. Tak lama setelah Dewi sampai ke rumah Dea, adegan berganti menyorot Komar dan Gobang yang tengah menjalankan misinya.

Ketika Komar dan Gobang memberhentikan angkot, ia bertemu dengan Saep. Saep langsung diseret keluar oleh Komar. Angkot disuruh melanjutkan perjalanannya.

“Kamu nyopet ya? Ngaku!” Komar menginterogasi Saep. Saep dengan muka memelas ketakutan menjawab tidak. Karena tak kunjung mengaku, Saep digebukin di halte oleh Komar dan Gobang.

Tak lama setelah itu, adegan berganti pada Dea yang menelepon Ceu Esih mengabarkan bahwa dompetnya sudah ada yang mengembalikan. Kata yang mengembalikan, ia menemukannya di kolong tempat duduk angkot. Ceu Esih yang kebetulan lagi duduk berdua dengan Kang Mus langsung bilang bahwa dompet Dea sudah ketemu. Kang Mus langsung saja menghubungi Komar dan bilang kalau dompetnya itu bukan dicopet, tapi jatuh, dan sudah dikembalikan.

Komar dan Gobang yang mendapat telepon tersebut jelas kaget. Komar kaget karena sudah telanjur mukulin Saep yang ternyata tidak salah apa-apa. Ubed masih jualan cilok, Kang Mus lagi istirahat, dompet keponakannya kembali, dan Saep bonyok-bonyok meringis kesakitan sambil guling-guling menjadi cerita penutup Preman Pensiun episode 26 ini.

Baca sinopsis semua episode Preman Pensiun musim 1 di sini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version