Coba kalau kalian dengar kata Ponorogo, pasti yang terbesit di pikiran kalian adalah reog dan seninya, betul kan? Tapi, tentang daerahnya, apakah kalian paham satu detil pun? Tidak? wajar.
Berbicara soal Kabupaten Ponorogo, terkadang terbesit guyonan yang cukup menggelitik di hati saya. Orang-orang mengenal Ponorogo sebagai Kota Reog, tapi di mana letak kabupaten ini, mereka sama sekali tak tahu. Tak jarang orang bertanya, “Lho, Ponorogo di Jawa Timur ya?”
Sebagai warga asli, saya cukup bangga ketika Tari Reog dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya autentik oleh UNESCO. Tapi di satu sisi, saya merasa sedih juga karena banyak orang beneran tak tahu di mana letak kabupaten ini.
Sebenernya kabupaten ini memiliki peluang besar untuk menjadi daerah yang maju tanpa menghilangkan segala ciri khas dari kultur budayanya. Tapi pada faktanya, kota ini memiliki isu permasalahan yang menjadikan eksistensi Ponorogo tidak terlalu terlihat di kancah lokal.
BACA JUGA: 4 Tempat Wisata Unik di Ponorogo
Hidup di Ponorogo yang adalah pokoknya
Hidup di Ponorogo itu susah-susah gampang. Bagaimana tidak, tingkat pendapatan yang didapatkan jika kita bekerja di kota ini tidak terlalu besar. Selain UMR yang tidak terlalu besar, banyak pekerjaan yang upahnya tidak mencapai bahkan jauh dari standar.
Hal ini memang sebanding dengan biaya hidup yang ada di Ponorogo, tapi bikin orang-orang di sini tidak betah dan akhirnya memilih keluar untuk cari pendapatan yang lebih baik.
Ponorogo adalah salah satu penyumbang pekerja migran terbesar di Indonesia. Bahkan tak mengagetkan jika lulusan SMA di kabupaten tersebut memilih untuk bekerja di luar negeri alih-alih kuliah. Hal ini dianggap sebagai salah satu jalan pintas yang paling mudah dan menggiurkan untuk mengangkat stabilitas ekonomi yang kebanyakan pas-pasan bahkan kurang.
BACA JUGA: Ponorogo, Kota dengan Sejuta Julukan
Kota Slow Living
Meski begitu, Ponorogo bisa dibilang adalah salah satu tempat yang cocok untuk hidup yang slow living. Selain dari gaya hidup yang murah, nuansa kehidupan budaya dan agamis juga menjadi poin plus. Meski ya, jarang ada kegiatan yang wah kecuali kegiatan momentual setiap bulan-bulan Suro.
Mungkin ya ini efek dari begitu banyaknya orang yang memilih merantau, hingga bikin kota ini terlihat sepi dan tak banyak gebrakan. Tapi ya, asal pintar mengolah narasinya, Ponorogo bisa jadi terkenal dan menarik.
Tapi ya jika tak ada perubahan apa-apa, seperti sekarang, rasanya sulit untuk melihat Ponorogo bisa dikenal, atau setidaknya, seterkenal reognya. Bahwa orang tau reog, itu bukan hal yang mengagetkan. Tapi kalau sampai tidak tahu apa-apa selain reog, nah, itu baru jadi masalah yang besar.
Memang, warganya tidak mempermasalahkan, pemerintahnya pun sama. Tapi, bukankah berharap tempat di mana saya lahir jadi lebih maju dan dikenal adalah hal yang wajar?
Entahlah, ini hanya curhatan saya sebagai orang yang kadung cinta dengan Ponorogo, hingga ingin tempat ini sedikit bersolek agar terkenal. Setidaknya ya, nggak ada orang lagi yang kaget kalau kabupaten ini ada di Jawa Timur, lah.
Penulis: Defina Dwi Apriliani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Ponorogo Lebih Nyaman Ditinggali daripada Trenggalek, Fasilitasnya Lebih Lengkap dan Mumpuni
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
