Informasi
ADVERTISEMENT

11 alasan yang bikin orang berpikir dua kali sebelum mendaftar SMK Jurusan Tata Boga

11 alasan yang bikin orang berpikir dua kali sebelum mendaftar SMK Jurusan Tata Boga Mojok.co

Belajar di SMK Jurusan Tata Boga mungkin terdengar menyenangkan. Di dalam kepala ini terbayang sehari-hari membuat kue, menghias makanan, hingga coba-coba resep baru. Betapa seru!

Padahal, kenyataannya belajar Tata Boga di SMK tidak melulu menyenangkan. Siswa mesti terbiasa dengan dapur yang panas, praktik yang  menguras tenaga, hingga menyusun laporan setelah pelajaran masak-masak selesai. 

Itu belum termasuk PKL atau ujian praktik yang nggak hanya menguras energi, tapi juga mental. Asal tahu saja, di balik makanan yang tersaji di meja makan, ada proses memasak di dapur yang bagi sebagian besar orang tergolong kejam. 

Sayangnya, kebanyakan orang, terutama mereka yang hendak masuk SMK Jurusan Tata Boga belum menyadari. Padahal, ada banyak hal dari dunia dapur yang bikin muak. 

#1 Belajar di SMK Jurusan Tata Boga tenryata nggak melulu soal memasak 

Salah satu anggapan yang sering muncul tentang jurusan Tata Boga adalah, “Enak ya, sekolahnya masak terus.” Padahal, memasak hanyalah salah satu bagian dari pembelajaran. Anak Tata Boga juga belajar berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan dunia kuliner. Ada teknik pengolahan makanan, sanitasi, keamanan pangan, gizi, pelayanan, kewirausahaan, hingga cara menghitung kebutuhan bahan dan biaya produksi.

Jadi setelah selesai praktik, bukan berarti tugas langsung selesai. Masih ada laporan yang harus dibuat, mulai dari menuliskan bahan, langkah pembuatan, hasil praktik, sampai evaluasi.

Sudah capek berdiri di dapur, ternyata masih harus duduk mengerjakan laporan. 

#2 Praktik di dapur benar-benar menguras tenaga

Dapur praktik memang menjadi tempat utama untuk belajar. Namun, suasananya bisa sangat berbeda dengan memasak santai di rumah.

Saat praktik, siswa harus berdiri cukup lama, menyiapkan bahan, mengolah makanan, menjaga kebersihan, memperhatikan waktu, dan memastikan semua tahapan dilakukan dengan benar.

Kalau praktik dilakukan secara berkelompok, suasananya bisa semakin ramai. Ada yang sibuk memotong bahan, ada yang mengurus kompor, ada yang membuat garnish, sementara yang lain mulai panik karena waktu praktik tinggal sedikit.

Belum lagi suhu dapur yang panas. Berdiri berjam-jam di dekat kompor tentu bisa membuat badan cepat lelah. Namun, dari situ juga siswa belajar bahwa memasak membutuhkan stamina, ketelitian, dan kemampuan mengatur waktu.

#3 Bahan praktik SMK Jurusan Tata Boga bisa bikin dompet menangis

Ini salah satu bagian yang cukup terasa bagi anak Tata Boga. Setiap praktik membutuhkan bahan yang berbeda. Ada tepung, telur, mentega, susu, daging, sayuran, bumbu, cokelat, keju, dan berbagai bahan lainnya.

Kadang bahannya sederhana, tetapi ada juga praktik yang membutuhkan bahan cukup banyak.  Kalau pembelian dilakukan secara berkelompok, biasanya biaya akan dibagi bersama. Namun, kalau praktik dilakukan berkali-kali, pengeluaran kecil tersebut lama-lama bisa terasa juga.

Belum lagi kalau ada bahan yang lupa dibawa atau kurang. Mau tidak mau harus mencari atau membeli lagi. Dari sini, anak Tata Boga sebenarnya juga belajar mengatur uang, menghitung kebutuhan bahan, dan menggunakan bahan seefisien mungkin.

Jadi bukan hanya belajar memasak, tetapi juga belajar mengelola pengeluaran. 

#4 Rawan gagal karena salah takaran 

Memasak membutuhkan ketelitian. Terlalu banyak garam bisa membuat makanan terlalu asin. Takaran tepung yang tidak tepat bisa memengaruhi tekstur kue. Suhu oven yang kurang sesuai juga dapat membuat hasil panggangan berbeda.

Hal kecil seperti itu bisa memengaruhi hasil akhir. Yang paling bikin kesal adalah ketika sudah menghabiskan waktu, tenaga, dan bahan, tetapi hasilnya ternyata tidak sesuai harapan.

Kue bisa bantat, saus terlalu encer, makanan terlalu asin, atau bentuknya tidak sesuai yang diinginkan. Rasanya memang menyebalkan.

Akan tetapi, kegagalan tersebut sebenarnya menjadi bagian dari proses belajar. Siswa bisa mencari tahu apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya ketika melakukan praktik berikutnya. Karena dalam dunia kuliner, tidak semua percobaan akan langsung berhasil. 

#5 Praktik pagi hari berarti harus melawan rasa kantuk

Jadwal praktik pagi juga menjadi tantangan tersendiri. Siswa harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan pakaian praktik, peralatan, dan bahan yang diperlukan. Semua itu butuh waktu, otomatis siswa perlu bangun jauh lebih pagi daripada jam praktik. 

Karena itu, menjaga waktu tidur dan stamina menjadi hal yang cukup penting bagi siswa Jurusan Tata Boga.

#6 Siswa SMK Jurusan Tata Boga harus punya seragam dan peralatan praktik yang lengkap

Menjadi siswa Tata Boga juga berarti harus terbiasa dengan berbagai perlengkapan praktik.

Ada seragam khusus, apron, penutup kepala, sepatu, dan berbagai alat memasak. Semuanya perlu dipersiapkan sebelum praktik.

Masalahnya, kalau ada satu alat yang tertinggal, bisa langsung panik. Sudah sampai sekolah, baru ingat spatula masih di rumah. Atau ternyata alat yang dibutuhkan masih dipakai teman.

Selain membawa perlengkapan, siswa juga harus merawatnya. Peralatan harus dibersihkan setelah digunakan dan seragam praktik harus dicuci secara rutin. Kelihatannya sederhana ya, tetapi kebiasaan ini justru mengajarkan siswa untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab.

#7 Makanan harus enak dilihat dan dipandang

Rasa yang enak mungkin sudah cukup kalau memasak untuk diri sendiri. Namun, ketika belajar di Tata Boga, tidak hanya rasa yang diperhatikan, tampilan pun juga. Plating harus rapi, potongan bahan harus sesuai, warna makanan harus terlihat menarik, dan garnish tidak boleh ditempatkan sembarangan.

Di sinilah siswa belajar bahwa makanan tidak hanya dinilai dari rasanya, tetapi juga dari bagaimana makanan tersebut disajikan.

Kadang rasanya sudah enak, tetapi ketika melihat hasil plating kelompok lain yang lebih rapi, rasa percaya diri bisa sedikit turun. Padahal, kemampuan plating memang membutuhkan latihan.

Semakin sering mencoba, biasanya siswa akan semakin memahami bagaimana membuat makanan terlihat menarik tanpa menghilangkan fungsi utamanya.

#8 Praktik kelompok tidak selalu berjalan mulus

Kerja kelompok sebenarnya bukan hanya terjadi di jurusan Tata Boga. Namun, dalam praktik memasak, kerja sama menjadi sangat penting karena banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang sama.

Ada yang bertugas menyiapkan bahan, memasak, membuat garnish, menyiapkan peralatan, hingga membersihkan area kerja. Kalau pembagian tugasnya jelas, praktik bisa berjalan lebih mudah.

Sebaliknya, kalau komunikasi tidak berjalan baik, masalah kecil bisa muncul. Ada yang datang terlambat, lupa membawa bahan, merasa mendapat terlalu banyak tugas, atau justru kurang membantu.

Pada akhirnya, bukan hanya masakannya yang hampir matang, suasana kelompok juga bisa ikut panas. Meski begitu, pengalaman tersebut bisa menjadi latihan untuk belajar berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. 

#9 Selesai memasak bukan tugas sudah selesai 

Ini mungkin bagian yang sering dilupakan orang ketika membayangkan kehidupan anak Tata Boga. Setelah makanan selesai dibuat, masih ada satu pekerjaan penting yaitu bersih-bersih.

Kompor harus dibersihkan, meja harus dirapikan, peralatan harus dicuci dan sampah harus dibuang. Area kerja harus dikembalikan seperti semula. Kadang bagian bersih-bersih justru terasa paling melelahkan karena dilakukan ketika tenaga sudah hampir habis.

Akan tetapi, kebersihan merupakan bagian penting dalam pengolahan makanan. Jadi kalau ingin masuk Tata Boga, jangan hanya siap memasak. Harus siap juga mencuci peralatan setelahnya.

#10 Siswa SMK Jurusan Tata Boga dituntut untuk selalu kreatif

Tata Boga bukan hanya tentang mengikuti resep. Siswa juga dituntut untuk mengembangkan kreativitas. Misalnya, membuat variasi makanan, menentukan konsep penyajian, membuat produk untuk tugas kewirausahaan, sampai mencari ide makanan yang berbeda.

Hal tersebut memang menyenangkan karena siswa bisa bereksperimen. Namun, kreativitas juga bisa melelahkan kalau tugas datang berturut-turut. Harus memikirkan rasa, bentuk, warna, penyajian, bahan, hingga biaya produksinya.

#11 PKL memberi gambaran dunia kerja sebenarnya

Bagi siswa SMK, PKL menjadi salah satu pengalaman yang cukup penting. Di sana, siswa tidak lagi hanya berhadapan dengan guru dan teman sekelas, tetapi mulai mengenal lingkungan kerja secara langsung.

Siswa harus belajar datang tepat waktu, mengikuti aturan, menjaga kebersihan, menyelesaikan tugas, dan bekerja sama dengan orang lain.

Dunia kerja juga bisa terasa lebih menuntut dibandingkan praktik di sekolah. Namun, dari pengalaman tersebut siswa bisa mendapatkan gambaran tentang bagaimana pekerjaan di bidang kuliner sebenarnya.

Bisa jadi setelah PKL, siswa semakin yakin dengan bidang yang dipilih. Bisa juga justru menemukan bidang lain yang ternyata lebih disukai. 

Jadi, apakah SMK Jurusan Tata Boga benar-benar menderita?

Kalau dilihat dari berbagai tantangan tadi, menjadi siswa SMK Jurusan Tata Boga memang tidak selalu semudah yang dibayangkan. Ada praktik yang melelahkan, dapur yang panas, bahan yang harus disiapkan, tugas yang menunggu, kerja kelompok, ujian praktik, sampai PKL.

Namun, di balik semua kerepotan tersebut, ada banyak keterampilan yang bisa didapatkan. Siswa belajar memasak, mengatur waktu, menjaga kebersihan, bekerja sama, menghitung biaya, mengembangkan kreativitas, dan menghadapi kegagalan. 

Jadi, kalau kamu sedang mempertimbangkan masuk SMK jurusan Tata Boga, jangan hanya membayangkan bisa memasak setiap hari. Bayangkan juga dapur yang panas, seragam praktik, bahan yang harus disiapkan, tugas yang menunggu, ujian praktik, PKL, dan peralatan yang harus dicuci. Kalian sanggup hadapi itu semua? 

Penulis: Fransisca Tiara Dwi Sherlitawati
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Rekomendasi Akun Belajar Masak Otodidak yang Beneran Anti Gagal-gagal Club.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 September 2026 oleh .

Fransisca Tiara Dwi Sherlitawati

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version