Standar kencan anak muda zaman sekarang mulai bergeser ke arah yang semakin sulit saya pahami. Setahu saya, lokasi tujuan kencan kalau tidak ke mal, kafe, taman hiburan, atau tempat-tempat viral nan estetik. Namun, sekarang ini, lokasi kencan anak muda semakin di luar nalar seperti di SPBU atau sebutan populernya Pertamina date.
Tren ini pertama kali saya ketahui di media sosial TikTok. Di TikTok bertebaran konten pasangan anak muda sedang asyik menunggu di antrean mengular di SPBU.
Jujur, saya gagal paham. SPBU atau pom bensin itu hakikatnya tempat mengisi bensin dan persinggahan untuk hal-hal praktis. Misal, menumpang buang air kecil, meregangkan pinggang saat touring, atau memompa ban motor yang gembos.
Apa asyiknya menghabiskan waktu di pom bensin diiringi bau bensin dan deru mesin kendaraan? Mungkin mereka sedang menjalani perkataan banyak orang, bukan tempat, makanan, atau kegiatannya yang penting, namun dengan siapanya ya.
Respons akan minimnya ruang publik yang aksesibel
Setelah saya renungkan kembali, fenomena Pertamina date tidak jauh berbeda akan kencan di jembatan, palang kereta api, atau tempat-tempat tak umum lain. Tren ini justru menunjukkan minimnya ruang publik yang tidak ramah untuk semua orang.
Coba hitung, kencan standar di kafe zaman sekarang butuh modal berapa? Kopi susu gula aren dua gelas sudah Rp60.000. Ditambah camilan semacam platter isi sosis goreng dan kentang yang porsinya cuma bisa untuk mengganjal gigi berlubang, totalnya bisa habis seratus ribu lebih. Belum parkirnya, belum pajaknya.
Sementara di SPBU? Dengan modal mengisi bensin Rp25.000 saja, kalian sudah dapat dua hal yang terisi “tangki bensin dan tangki cinta”.
Mungkin, kalau ada tempat lain yang mudah diakses secara jarak dan biaya, para anak muda ini tidak akan nge-date sambil antre di pom bensin. Tren ini tidak berangkat dari keinginan untuk mencari suasana nge-date yang edgy. Ini adalah bentuk pertahanan diri, murni coping mechanism menghadapi banyaknya ruang yang tidak berpihak pada mereka.
Kritik terselubung di balik Pertamina date
Setelah saya renungkan kembali, Pertamina date bukan hanya pertanda minimnya ruang publik yang ramah bagi semua kelompok. Kencan di pom bensin secara tidak langsung mengkritisi ketersediaan bahan bakar yang tidak merata di banyak daerah.
Orang yang tinggal di kota-kota besar mungkin tidak akan relate dengan hal ini. Sebab, keberadaan SPBU atau pom bensin begitu mudah ditemui. Pasokannya pun jarang langka. Antrean panjang di SPBU tetap bisa dijumpai, tapi di waktu-waktu tertentu saja, seperti jam berangkat atau pulang kerja.
Akan tetapi, situasinya berbeda dengan daerah-daerah dengan jumlah SPBU minim dan sering mengalami kendala pasokan. Antrean SPBU benar-benar bisa memakan waktu. Waktu menunggu yang lama itu bahkan bisa digunakan untuk nge-date oleh para anak muda alias Pertamina date.
Anak muda memang selalu punya akal untuk mengemas kenyataan yang pahit menjadi sesuatu yang terlihat manis dan lucu di media sosial. Mereka merekam momen mengantri di SPBU ini dengan filter khas, menempelkan caption “bahagia itu sederhana”, dan menyematkan lagu Kita Lewati Berdua (2024) dari Overnight.
Saya yang awalnya gagal paham dengan tren Pertamina date ini lama-lama belajar menerima dan memahami. Daripada memaksakan diri kencan di tempat mahal lalu terpaksa puasa Senin-Kamis selama sebulan penuh, Pertamina date adalah sebuah siasat bertahan paling realistis, “perlawanan” khas anak muda.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 SPBU Jogja yang toiletnya paling nyaman untuk boker.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
