Perjalanan Sragen-Madiun Lebih Nyaman Menggunakan KA Bias daripada Bus yang Bikin Jantung Nggak Aman!

Perjalanan Sragen-Madiun Lebih Nyaman Menggunakan KA Bias daripada Bus yang Bikin Jantung Nggak Aman!

Perjalanan Sragen-Madiun Lebih Nyaman Menggunakan KA Bias daripada Bus yang Bikin Jantung Nggak Aman!

Akhir minggu kemarin saya memiliki agenda tilik mbah ke Madiun. Walau lumayan jauh dari rumah saya di Sragen, saya tetap berangkat karena mendapat titah langsung dari orang tua. Untuk keberangkatan saya ke Madiun, kali ini saya mencoba naik KA Bias. Sebelumnya, beberapa kali saya ke Madiun, selalu menggunakan bus patas atau ekonomi, seperti Mira, Eka, atau Sugeng Rahayu.

Setelah menaiki Kereta Bias dari Sragen ke Madiun. Saya berpendapat lebih nyaman menggunakan KA Bias daripada bus seperti Mira, Eka, Sugeng Rahayu dll. Tentunya di antara kalian akan bertanya, atas dasar apa KA Bias lebih nyaman daripada bus?

Nah, biarkan saya menjelaskan.

Harga tidak terlalu jauh, tapi jantung aman

Harga tiket Kereta Bias dari Sragen ke Madiun Rp40.000, sedangkan bus Rp30.000-34.000. Jelas bus memiliki harga lebih murah, akan tetapi jantung kita dibuat tidak berhenti berdebar. Bus dengan rute Yogyakarta- Surabaya speed-nya konstan di angka maksimal, penumpang dibuat pontang-panting ke kanan dan ke kiri.

Sedangkan kereta, sudah kita ketahui bersama, merupakan salah satu moda transportasi yang sangat kencang. Akan tetapi tidak pernah membuat jantung para penumpangnya berdebar, karena mereka berjalan sudah pada relnya jadi tidak mungkin ugal-ugalan.

Ya gimana caranya juga kereta mau ugal-ugalan?

KA Bias lebih cepat sampai tujuan

Meskipun bus jarang mengurangi kecepatannya dan cenderung ugal-ugalan di jalan, tetap saja tidak bisa menandingi kecepatan kereta. Kereta pasti akan lebih cepat ketimbang bus, karena kereta sudah berjalan pada jalurnya tanpa ada yang menghalangi. Berbeda dengan bus yang sesekali terkena lampu merah dan terkadang menemui kemacetan.

Dengan menggunakan KA Bias, Sragen-Madiun hanya ditempuh dengan waktu satu jam. Sedangkan menggunakan bus, memakan waktu dua hingga dua setengah jam, tergantung lancar atau tidaknya jalan.

AC KA Bias yang dingin

Keberangkatan ke Madiun menggunakan KA Bias merupakan pengalaman pertama saya berdiri di transportasi umum. Adanya AC yang dingin sedikit menjadi penolong, karena membuat saya tidak berkeringat selama berdiri, walaupun kaki sedikit agak pegal. Akan tetapi itu tidak berlangsung lama, pasalnya ketika sampai Stasiun Ngawi saya sudah mendapatkan kursi.

Sementara naik bus, seperti bermain lotre, untung-untungan. Kalo beruntung bisa dapat bis yang AC-nya nyala, kalo nggak ya dapat bus yang AC-nya mati. Jika AC bis kedapatan mati rasanya seperti disiksa. Pengap, panas, dan diperparah kepulan asap rokok sopir atau kondektur yang kadang terbawa angin ke arah penumpang.

Lebih nyaman untuk tidur

Di kala sebagian orang lebih memilih untuk melihat sekeliling ketika sedang menaiki transportasi umum, saya lebih memilih untuk tidur di perjalanan. KA Bias ini terbilang cukup nyaman untuk dibuat tidur, karena AC-nya dingin dan tidak harus merasakan guncangan jalan.

Sedangkan bus, seperti yang saya sebutkan di atas, memilih bus seperti bermain lotre, kadang kita mendapatkan bus yang AC-nya nyala, kadang juga mati. Itu diperparah sopir bus kerap kali ugal-ugalan di jalan, yang menyebabkan tubuh merasakan guncangan, badan serasa dilempar ke sana kemari, sehingga tidak terlalu nyaman untuk digunakan untuk tidur.

Itulah pengalaman perjalanan saya menggunakan KA Bias dari Sragen ke Madiun. Jadi, kalau ada rencana melakukan perjalanan dari Sragen ke Madiun atau sebaliknya, pertimbangkan menggunakan KA Bias. Meskipun harganya lebih mahal, dijamin jantung kalian lebih tenang, badan tidak terguncang-guncang, lebih cepat sampai tujuan, dan yang terpenting, selamat sampai tujuan.

Penulis: Rihan Pratama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kereta Api Madiun Jaya, Andalan Baru Saya Perjalanan Madiun-Jakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version