Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Perhatikan 5 Hal Ini Kalau Nggak Mau Ditolak Responden Penelitian

A. Fikri Amiruddin Ihsani oleh A. Fikri Amiruddin Ihsani
25 September 2020
A A
Skripsi souvenir informan Perhatikan 5 Hal Ini Kalau Nggak Mau Ditolak Responden Penelitian terminal mojok.co

Skripsi souvenir informan Perhatikan 5 Hal Ini Kalau Nggak Mau Ditolak Responden Penelitian terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa dan akademisi, hakikat penelitian sudah serupa makanan sehari-hari. Dalam proses pencarian dan penggalian data penelitian, tentu kita akan menemukan beberapa hambatan ketika turun ke lapangan. Di antaranya adalah ditolaknya peneliti atau surveyor oleh masyarakat atau calon responden penelitian. 

Mungkin berdasarkan cerita yang beredar, masyarakat Indonesia terkenal ramah dan terbuka. Namun, hal itu ternyata tidak berlaku apabila kita ingin menjadikan mereka sebagai informan atau responden penelitian.

Bahkan kebanyakan dari mereka akan menolak mentah-mentah begitu saja. Nah, dalam tulisan sederhana ini saya akan memaparkan beberapa alasan seseorang menolak dijadikan responden atau informan penelitian sehingga kalian bisa menghindarinya agar nggak mengacaukan pengumpulan data.

#1 Kelengkapan surat izin penelitian

Alasan paling klasik yang biasa dilakukan oleh seseorang untuk menolak peneliti atau surveyor adalah tidak adanya surat penelitian atau surat pengantar. Hal ini biasanya berlaku di daerah perkotaan yang mayoritas masyarakatnya tahu betul birokrasi.

Berdasarkan pengalaman saya terjun ke lapangan, masyarakat tidak akan terbuka dan mau dijadikan responden penelitian apabila belum ada surat resmi dari RT/RW. Namun, hal ini biasanya tidak berlaku apabila calon responden tersebut teman atau kerabat kita sendiri.

Oleh karena itu, apabila kalian tidak mau ditolak mentah-mentah dan dianggurin begitu saja, alangkah baiknya sebelum turun ke lapangan, perhatikan kelengkapan surat izin penelitian. Bahkan kalau bisa lengkap sampai surat izin tingkat RT/RW. Lumayan hemat waktu, penelitian pun terlihat meyakinkan, dan nggak perlu bolak-balik melobi saat pengumpulan data sudah berlangsung.

#2 Tidak tertarik dengan isu terkait

Setelah menanyakan surat izin penelitian, biasanya beberapa orang akan menanyakan topik atau tema penelitian kita. Apabila tema atau topik itu tidak sesuai atau mungkin tidak menarik bagi mereka, biasanya akan ditolak atau dialihkan ke orang lain.

Berdasarkan pengalaman saya, responden kerap kali menolak tema atau topik penelitian yang berbau agama atau politik. Hal itu lantaran, menurut sebagian orang agama dianggap sebagai sesuatu yang privat.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Sedangkan beberapa yang lain menolak begitu saja tema atau topik penelitian tentang politik. Hal itu lantaran mereka beranggapan politik itu kotor, penuh kepentingan, dan tidak begitu banyak manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.

Makanya sebagai peneliti, kita perlu bekal keahlian mencari responden yang cocok dan mau terbuka. Jangan paksakan seseorang membantu penelitian kita jika ia terlihat tidak punya minta. Ujungnya, data yang diperoleh justru kurang valid dan terkendala.

#3 Menjaga privasi

Selain tidak tertarik dengan tema atau topik penelitian, biasanya seseorang akan menolak dijadikan responden atau informan dengan alasan menjaga privasi. Orang seperti ini biasanya takut sekali data diri mereka tersebar luas.

Padahal, dalam proses pencarian dan penggalian data, peneliti diharapkan untuk bisa mendapatkan data yang valid sesuai fakta di lapangan. Selain itu, peneliti atau surveyor biasanya sudah dilengkapi surat tugas dan keterangan bahwa semua data responden akan dirahasiakan.

Namun, realitasnya kebanyakan orang masih belum percaya sepenuhnya. Bahkan, beberapa beranggapan bahwa data diri mereka akan disalahgunakan untuk tujuan tertentu, misalnya diperjual-belikan. Kemampuan negosiasi diperlukan. Apalagi kalau peneliti perlu melakukan wawancara mendalam yang mengulik latar belakang responden penelitian. Pastikan perjanjian soal ini jelas di awal pertemuan.

#4 Tidak bisa diganggu

Selain menjaga privasi, biasanya beberapa orang akan beralasan sibuk atau tidak bisa diganggu. Beberapa orang memang sulit meluangkan waktu karena pekerjaan atau bisnis yang dijalaninya. Sedangkan sebagian yang lain tidak mau diganggu lantaran menurut mereka kedatangan peneliti atau surveyor hanya akan menyita waktu mereka.

Bahkan, pernah suatu ketika saya turun ke lapangan, dan kebetulan mendapatkan wilayah survei di perumahan elit. Setelah berjalan dari rumah ke rumah, tidak ada satu pun orang yang bersedia untuk diwawancarai, meskipun saya sudah menjelaskan durasi maksimal lima menit saja.

Kadang ini menjadi dilema. Sebagai peneliti, kita tidak bisa memaksa. Namun, sebagian orang telanjur tidak peduli dan tidak mau diganggu.

#5 Tidak ada suvenir

Ada beberapa orang yang menolak dijadikan responden penelitian lantaran tidak ada suvenir atau imbalan. Menurut sebagian orang, waktu dan data mereka harus ditukar oleh sesuatu.

Orang-orang seperti ini biasanya beranggapan bahwa mahasiswa, peneliti, atau surveyor adalah sinterklas yang datang membawa sesuatu. Sebab, biasanya ketika mereka bersedia diwawancarai, mereka akan mendapatkan suvenir sebagai gantinya.

Akhirnya muncul semacam tradisi yang berkembang di masyarakat untuk meminta suvenir ketika bersedia dijadikan responden. Oleh karena itu, sebagian orang akan menolak begitu saja apabila kita tidak menyediakan imbalan.

Keniscayaan ini memang tidak bisa dimungkiri. Beberapa peneliti kemudian menyiasatinya dengan undian pulsa dan meberi hadiah hiburan untuk responden penelitian. Diskusikan saja hal ini kepada pembimbing, kawan, atau teman yang sudah berpengalaman untuk mencari strategi yang tepat demi menarik minat calon responden.

Penolakan itu menyakitkan. Maka bekalilah diri kalian dengan sebanyak mungkin tips dan trik sebelum benar-benar turun ke lapangan. Semangat, ya!

BACA JUGA Pengalaman Jadi Surveyor: Dikira Minta Sumbangan Sampai Jualin Produk dan tulisan A. Fikri Amiruddin Ihsani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2020 oleh

Tags: MahasiswaPenelitian
A. Fikri Amiruddin Ihsani

A. Fikri Amiruddin Ihsani

Pendidik dan Peneliti Kajian Sosial Agama Independen. Fokus pada isu-isu sosial agama populer. Tinggal di Istanbul, namun menyempatkan menengok tanah air setiap libur musim panas.

ArtikelTerkait

Betapa Beruntungnya Mahasiswa ITB. Punya Kampus Estetik dan Adem. Institut Teknologi Bandung Punya Mata Kuliah Olahraga Juga. (Wikimedia Commons)

Sialan! ITB Itu Kampusnya Estetis, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung Bikin Iri Banget

1 Agustus 2023
kapan wisuda

Mahasiswa Tingkat Akhir dan Pertanyaan Kapan Wisuda

20 Mei 2019
skripsi

5 Hal yang Akan Kamu Rindukan dari Skripsi

12 April 2020
Dosa Purwokerto kepada Dunia Literasi (Unsplash) grendeng

Grendeng, Pusat Kemacetan di Purwokerto, Konsekuensi dari Peningkatan Jumlah Mahasiswa Tanpa Antisipasi

23 November 2023
Betapa Menderitanya Mahasiswa dari Jurusan Nggak Terkenal, Saat Lebaran Harus Menjelaskan Kuliahnya ke Keluarga Besar Mojok.co

Betapa Menderitanya Mahasiswa dari Jurusan Nggak Terkenal, Saat Lebaran Harus Menjelaskan Kuliahnya ke Keluarga Besar

14 April 2024
Kuliah di Mesir Memang Menarik, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana Mojok.co

Kuliah di Mesir Memang Prestisius, tapi Nggak Semua Orang Indonesia akan Cocok Hidup di Sana

10 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.