Informasi
ADVERTISEMENT

Ritual perbaikan jalan akhir tahun di Kabupaten Tangerang bikin warga belajar sabar, tapi juga gusar di waktu yang sama

Ritual perbaikan jalan akhir tahun di Kabupaten Tangerang bikin warga belajar sabar, tapi juga gusar di waktu yang sama

Bagi warga Kabupaten Tangerang, jalan mulus tanpa kerusakan adalah sebuah mitos khayalan. Yang abadi hanyalah debu, kemacetan, dan ritual perbaikan jalan.

Siapa yang tidak sepakat bahwa tinggal di kota yang jalannya minim kerusakan adalah suatu privilege yang patut disyukuri. Di saat hampir semua bidang pekerjaan menuntut serba cepat, apa yang bisa diharapkan dari jalanan yang justru selalu membuat kita datang terlambat?

Masalahnya, perbaikan jalan yang tidak pernah digarap dengan matang, hanya melahirkan kesengsaraan berulang. Dan kami warga Kabupaten Tangerang dipaksa untuk bersabar, di luar nurul memang!

Sebagai orang yang pernah merantau di beberapa kota yang kebetulan kondisi jalan perkotaannya masih relatif bagus, dada ini sering mendadak sesak oleh rasa iri yang paripurna. Membayangkan betapa bahagianya hidup di tempat yang ketika berangkat kerja, tidak perlu waswas dengan lubang jalanan. Tidak bersusah payah mencari rute alternatif ketika macet lantaran perbaikan.

Mungkin, memiliki jalan kota yang mulus hanya menjadi “mimpi basah” bagi warga Kabupaten Tangerang.

Siklus abadi sang proyek setengah hati di Kabupaten Tangerang

Saking seringnya perbaikan jalan dilakukan, sebagian warga Kabupaten Tangerang umumnya sudah hafal di luar kepala mengenai kapan musim proyek ini akan segera dilaksanakan. Perbaikan jalan biasanya akan dimulai di bulan-bulan akhir setiap tahunnya.

Lantas muncul sebuah tanya, mengapa perbaikan jalan selalu dilakukan ngebut di akhir tahun, kenapa tidak dicicil agar prosesnya lebih proper. Yah, jawabannya jelas karena proses birokrasi yang rumit. Pemerintah harus melakukan serangkaian proses lelang terlebih dahulu agar menemukan vendor yang “harganya cincai” dan itu memakan waktu berbulan-bulan. Sebab itulah biasanya pelaksanaan baru bisa direalisasikan menjelang tutup buku di akhir tahun.

Proses pencarian vendor yang tidak sebentar tentu bukan karena sulitnya mencari vendor berintegritas dan berkualitas. Justru di situlah letak permasalahannya, alih-alih mencurahkan waktu untuk mencari vendor berkualitas, pemerintah justru sibuk mencari vendor yang bisa diajak “kompromi”. Urusan pekerjaannya sesuai dengan standar atau tidak, itu pikir nanti.

Itulah sebabnya perbaikan jalan di Kabupaten Tangerang tidak pernah benar-benar diperbaiki, melainkan hanya menjadi agenda “pesta anggaran” tahunan.

Ada satu kejadian yang bikin mangkel bin dongkol, kejadian ini terjadi pada awal September 2026. Akibat pengerjaan yang ugal-ugalan, beberapa titik jalan yang baru dicor pada malam hari, justru mendadak rusak keesokan harinya. Jalan penuh dengan retakan bahkan sebelum kendaraan melintas, akhirnya jalan kembali dibongkar. Sungguh lelucon yang menyebalkan bukan?

Saya curiga para pekerja proyek saat itu keliru membaca resep, mereka mengira sedang membuat adonan rempeyek, bukan jalan yang kelak dilalui truk-truk proyek.

Sudah sepatutnya para kontraktor diberi gelar Master Chef karena berhasil mengubah material bahan baku jalan menjadi kerupuk rempeyek renyah dalam waktu kurang dari 12 jam.

Macet dan stres jadi makanan sehari-hari hingga spare part kendaraan yang pensiun dini

Kemacetan akibat sistem buka-tutup jalur menjadi pemandangan yang begitu akrab bagi sebagian masyarakat. Akibat perbaikan jalan yang terburu-buru dan minimnya koordinasi lalu lintas, tidak jarang beberapa jalur tidak bisa dilewati sama sekali. Alhasil beberapa jalur lainnya mengalami penumpukan tak masuk akal yang membuat kemacetan luar biasa.

Sebagai daerah Tangerang yang mayoritas penduduknya merupakan karyawan swasta dan buruh pabrik, tentu itu permasalahan yang tidak sepele. Sedikit kemacetan cukup menjadi alasan para pekerja mengumpat berjamaah di pagi yang gerah. Begitu pula ketika waktu pulang bekerja tiba, bukan ketenangan yang didapat selepas bekerja, justru macet yang kian mengular berhias debu yang makin tebal.

Hal lain yang membuat masyarakat jengah adalah ketika proses perbaikan berjalan. Di mana ketika jalanan sedang dalam proses breaker (pelubangan dan penghancuran aspal), jalan seketika makin tak karuan dengan lubang menyebar rapat di mana-mana, hampir tak ada celah dan nyaris mustahil dapat menghindar dari lubang sialan itu. Hanya pengendara yang mungkin diberkati Tuhan yang dapat lolos dari ratusan lubang laknat itu.

Pada akhirnya, bukan si pengendara saja yang dibuat geram sepanjang jalan di Kabupaten Tangerang. Jangan lupakan nasib kendaraan itu sendiri yang dipaksa mengaspal di jalan yang tak berperikemotoran itu. Pekerja yang mayoritas hanya mengandalkan motor semata wayangnya terpaksa harus bersabar dan belajar mengikhlaskan spare part kendaraanya yang sering pensiun dini.

Jalanan yang hancur akibat pembongkaran jalan membuat shockbreaker sudah lama melupakan sebuah arti kata “peredam”. Gaji yang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari justru habis separuh untuk pesangon onderdil yang memilih jadi veteran.

Namun, setidaknya onderdil ini lebih bijak dan memilih pensiun dini daripada pejabat korup yang enggan pensiun tak kenal kenyang “makan aspal jalanan”.

Penutup

Salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari warga Kabupaten Tangerang adalah apa itu arti kesabaran. Percayalah, bertahan di kondisi seperti ini sungguh tidak cocok untuk orang yang sabarnya amatiran. Jika ada nominasi kejuaraan kota yang sering mengadakan perbaikan jalan, saya tidak ragu bahwa Kabupaten Tangerang layak menjadi juara bertahan.

Tidak dapat disangkal bahwa kota ini memang merupakan kota industri, tempat di mana banyak kendaraan muatan berat berlalu-lalang. Namun hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk membangun jalan “seenak jidat” hingga pembangunan harus diulang setiap tahunnya. Justru dengan kesadaran akan hal itu, seharusnya pemerintah setempat lebih serius dan penuh perhitungan matang ketika merenovasi jalan. Sehingga jalan mampu bertahan untuk beberapa tahun.

Kami, warga Kabupaten Tangerang, tidak butuh perhatian palsu berupa renovasi semu tahunan. Kami hanya menuntut hak kami berupa pembangunan yang dilakukan dengan serius. Urusan teknis pelaksanaan seperti apa dan serumit apa, itu tugas dari kalian wahai pemerintah yang budiman, toh kami sudah bayar pajak untuk menggaji kalian. Jika tidak becus mengurusi permasalahan jalan, jangan ragu untuk segera menyusul onderdil kami yang sudah menikmati masa pensiun!

Penulis: Ahmad Ali Abdun Nasihi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nggak Semua Tangerang Itu Mewah dan Modern seperti BSD dan Alam Sutera, Masih Ada Kabupaten Tangerang!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 25 September 2026 oleh .

Ahmad Ali Abdun Nasihi

Warga sipil biasa yang gemar ngopi. Memiliki ketertarikan terhadap dunia seni, literasi, dan sosial politik. Seorang warga kabupaten yang sedang belajar menyuarakan keresahan lewat tulisan.

Exit mobile version