Thucydides (±460–400 SM), seorang sejarawan dan jenderal dari Athena yang terkenal karena menulis buku klasik “History of the Peloponnesian War” pernah menyatakan apa yang kemudian sering dikutip banyak ahli tentang perang yang melanda berbagai tempat akhir-akhir ini: “The strong do what they can and the weak suffer what they must.”
Perang antara Iran dan Amerika Serikat, jika benar-benar pecah, mungkin tidak akan pernah mencapai wilayah Indonesia. Tidak ada rudal yang meluncur ke Jakarta. Tidak ada kapal perang yang berpatroli di Laut Jawa. Namun dalam ekonomi global yang saling terhubung, perang tidak perlu datang dalam bentuk ledakan. Kadang ia datang dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: harga-harga yang perlahan naik.
Dan kelas menengah biasanya yang pertama merasakannya.
Setiap kali Timur Tengah memanas, pasar energi dunia langsung bergetar. Wilayah itu adalah jantung produksi minyak global. Ketika ketegangan meningkat—apalagi jika melibatkan Iran yang berada di dekat jalur vital perdagangan minyak—harga energi dunia hampir selalu melonjak.
Efeknya merambat dengan cepat. Harga minyak naik. Biaya transportasi naik. Ongkos logistik naik. Lalu harga barang-barang ikut naik.
*
Bagi negara seperti Indonesia yang masih mengimpor energi dalam jumlah besar, guncangan harga minyak dunia hampir selalu menjadi persoalan nasional. Pemerintah dihadapkan pada dilema klasik: mempertahankan subsidi energi dengan risiko membengkaknya anggaran negara, atau menyesuaikan harga energi domestik dengan konsekuensi tekanan sosial.
Apa pun pilihan yang diambil, masyarakat tetap merasakan dampaknya.
Namun dampak itu tidak dirasakan secara merata. Kelompok masyarakat miskin biasanya memiliki jaring pengaman sosial dari negara. Kelompok kaya memiliki cadangan aset yang cukup besar untuk menyerap guncangan ekonomi. Tetapi kelas menengah berada di wilayah yang lebih rentan: terlalu “mapan” untuk menerima bantuan luas, tetapi tidak cukup kuat untuk kebal terhadap krisis.
Selama dua dekade terakhir, kelas menengah Indonesia tumbuh bersama stabilitas ekonomi. Mereka membeli rumah melalui kredit jangka panjang, mencicil kendaraan, membayar sekolah anak, dan perlahan membangun tabungan masa depan.
Secara statistik mereka terlihat aman. Namun stabilitas itu sering kali berdiri di atas fondasi yang tipis: pendapatan tetap dan pengeluaran yang terus meningkat.
Ketika inflasi melonjak, ruang untuk bernapas menjadi semakin sempit. Cicilan rumah tetap harus dibayar. Biaya sekolah tidak turun. Harga makanan naik. Tagihan listrik naik. Ongkos transportasi ikut naik.
Pada titik tertentu, tabungan yang semula dirancang untuk masa depan berubah fungsi menjadi bantalan untuk bertahan hidup.
*
Sejarah ekonomi modern menunjukkan bahwa krisis jarang sekali menghancurkan kelas menengah secara tiba-tiba. Yang lebih sering terjadi adalah proses pengikisan perlahan.
Hari ini biaya hidup sedikit naik. Besok tabungan sedikit berkurang. Tahun depan kemampuan menabung semakin mengecil.
Sampai suatu hari kelas menengah menyadari bahwa mereka tidak lagi bergerak naik—mereka hanya berusaha tidak jatuh.
Ironisnya, dalam banyak krisis ekonomi, kelas menengah justru menjadi kelompok yang paling diam-diam menanggung beban. Mereka tetap bekerja, tetap membayar pajak, tetap menjaga stabilitas ekonomi domestik. Tetapi ruang ekonomi mereka semakin sempit.
Karena itu, jika ketegangan global benar-benar meningkat, pertanyaan yang relevan bukan hanya apa yang akan dilakukan pemerintah. Pertanyaan yang lebih dekat adalah: apa yang bisa dilakukan oleh rumah tangga biasa?
Jawabannya mungkin tidak dramatis, tetapi cukup realistis.
Pertama, memperkuat dana darurat. Dalam ekonomi yang tidak pasti, likuiditas adalah perlindungan pertama. Idealnya setiap keluarga memiliki cadangan biaya hidup selama tiga hingga enam bulan. Dana ini bukan untuk investasi, melainkan untuk menghadapi masa sulit.
Kedua, menahan diri dari utang konsumtif. Dalam masa stabil, cicilan terasa ringan. Dalam masa krisis, cicilan bisa berubah menjadi tekanan yang memerangkap.
Ketiga, menjaga nilai tabungan dari inflasi. Diversifikasi sederhana—misalnya sebagian tabungan dalam emas atau instrumen yang relatif stabil—dapat menjadi cara mempertahankan daya beli.
Keempat, meninjau ulang gaya hidup. Krisis sering kali memaksa kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam jangka panjang, kemampuan mengendalikan konsumsi sering menjadi kunci ketahanan ekonomi keluarga.
Namun ada satu hal yang lebih penting dari semua strategi finansial itu: ketenangan.
Dalam setiap krisis ekonomi, kepanikan hampir selalu memperburuk keadaan. Orang membeli barang berlebihan. Mengikuti rumor investasi. Atau mengambil keputusan keuangan secara emosional.
Padahal sebagian besar krisis tidak datang sebagai badai yang tiba-tiba. Ia lebih sering datang seperti air yang perlahan naik.
Perang Iran dan Amerika mungkin tidak akan pernah sampai ke wilayah Indonesia. Tetapi dampaknya bisa terasa di tempat yang jauh lebih dekat: di meja makan keluarga kelas menengah.
Dan di zaman ekonomi global seperti sekarang, kadang perang memang tidak datang sebagai dentuman bom.
Kadang ia datang sebagai harga bensin yang naik diam-diam.
