Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa (Pixabay.com)

Salah satu kategori konten di media sosial yang saya suka adalah konten soal balas dendam korban bully terhadap orang-orang yang mem-bully. When the bully gets bullied. Menyenangkan sekali menonton video-video atau konten seperti itu. Kita seakan ikut terbawa emosi. Ada semacam perasaan lega ketika melihat orang-orang atau anak-anak yang selama ini jadi pelaku bullying mendapatkan balasan yang setimpal.

Menonton video atau konten when the bully gets bullied itu memang menyenangkan, tapi sekaligus miris. Banyak video atau konten when the bully gets bullied yang latar belakangnya di sekolah, pelaku dan korbannya juga anak-anak sekolah. Sangat disayangkan bahwa ternyata praktik ini masih ada di sekolah, dan belum ada sistem atau regulasi yang mampu mengatasi persoalan ini.

Kalau kalian ketik di mesin pencari Google dengan kata kunci “bullying di sekolah”, kalian akan menemukan banyak sekali kasus-kasus serupa. Levelnya berbagai macam. Ada yang ringan, ada pula yang parah. Ada yang terselesaikan dengan baik, tapi ada juga yang “dipaksa” selesai hanya dengan minta maaf saat itu juga.

Inilah masalahnya. Kasus-kasus bullying yang ada di sekolah seakan nggak pernah dianggap serius. Pihak yang bertanggung jawab (dalam hal ini sekolah) merasa bahwa minta maaf itu sudah sangat cukup menuntaskan kasus-kasus tersebut. Padahal jawabannya jelas-jelas tidak!

Kasusnya mungkin selesai. Tapi bagaimana dengan trauma korban? Bagaimana dengan sistem pencegahan bullying ke depannya?

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman soal bullying

Melihat masih banyaknya kasus bullying di sekolah, kita bisa mengetahui bahwa pengetahuan masyarakat soal praktik bullying ini memang masih kurang. Orang tua, para guru, bahkan guru bimbingan konseling di beberapa sekolah, masih kerap menganggap bahwa praktik ini sebagai kenakalan anak-anak atau remaja saja. Bullying dianggap sebagai masalah sepele, yang bisa langsung beres hanya dengan minta maaf.

Padahal, bullying nggak sekadar masalah kenakalan anak-anak atau remaja saja. Tindakan ini adalah wujud kecil ketimpangan dan penyalahgunaan kuasa. Si besar merundung si kecil, si nakal merundung si diam. Bullying ini adalah bom waktu yang muncul dari kegagalan sistemik di ranah keluarga (rumah) dan pendidikan (sekolah), yang bisa merampas masa depan anak dan menciptakan trauma berkepanjangan.

Maka nggak heran kalau kasus-kasus bullying di sekolah selalu berakhir hanya dengan permintaan maaf saja. Ya karena kebodohan pihak-pihak terkait tentang bullying. Mereka menganggap ini hanya sekadar kenakalan biasa, yang bisa tuntas dengan minta maaf.

Belum ada (belum diterapkan) sistem yang mampu mencegah praktik bullying

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang bullying ini juga jadi alasan mengapa banyak sekolah yang belum punya sistem atau regulasi yang tegas soal praktik bullying. Ketiadaan sistem atau regulasi ini yang bikin para guru (termasuk orang tua) menganggap kasus bullying ini diselesaikan dengan minta maaf saja. Sebenarnya, ada Permendikbudristek no 46 tahun 2023 yang mengatur ketat tentang ini. Tapi, entah kenapa, hasilnya masih belum kelihatan.

Padahal, sekolah itu bisa banget untuk membuat sistem atau regulasi untuk mencegah kasus bullying. Mungkin bisa dimulai dengan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih nyaman, lebih inklusif, dan lebih peduli dengan para murid. Lalu sekolah juga bisa membuat aturan soal praktik bullying, menghukum pelaku bullying dengan hukuman yang tegas.

Bukan langkah yang mudah, tapi juga bukan langkah yang susah banget. Tinggal mau atau nggak. Gitu aja, sih.

Pihak sekolah nggak mau repot, nggak mau kasusnya jadi panjang, dan takut reputasinya jelek

Ini yang kerap jadi masalah. Kalau ada kasus bullying di sekolah, apalagi kasusnya naik (diberitakan) ke publik, pihak sekolah selalu segera pengin kasusnya beres, bagaimanapun caranya. Pihak sekolah pengin pelaku dan korban segera bertemu, segera dimediasi, dan pelaku segera meminta maaf ke korban.

Alih-alih menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, sikap atau langkah ini justru menunjukkan bahwa pihak sekolah nggak mau repot dengan adanya praktik bullying, nggak mau kasus yang melibatkan mereka jadi panjang. Pihak sekolah nggak mau repot, maunya cepat selesai, bagaimanapun caranya, yang penting kasus ini nggak berkepanjangan. Pihak sekolah takut reputasi sekolahnya jadi jelek karena kasus bullying ini nggak segera selesai.

Maka dipilihlah jalur kilat dengan dalih kekeluargaan itu. Segera pertemukan pelaku dan korban, suruh minta maaf, dan anggap masalahnya selesai. Kalau bisa selesai di hari yang sama biar nggak banyak orang yang tahu. Padahal, cara ini justru bikin reputasi sekolah akan jadi jelek. Sekolah tersebut malah terkesan nggak serius dalam mengatasi praktik bullying, nggak mencoba mencari tahu akar masalahnya di mana.

Memang tidak mudah, tapi harus diusahakan

Menyelesaikan masalah bullying di sekolah memang bukan tugas mudah. Ini adalah perjuangan kolektif yang panjang dan melelahkan. Musuh yang harus dilawan itu banyak. Mulai dari minimnya pengetahuan, keengganan untuk repot dan kerja keras, hingga kekuasaan (ketimpangan kuasa) yang ada dalam pusaran kasusnya.

Sayangnya, nggak semua pihak mau untuk benar-benar ambil jalan ini. Nggak semua pihak berniat untuk benar-benar menuntaskan kasus-kasus bullying di sekolah. Mereka lebih memilih ambil jalan kilat, jalan yang bikin masalah bullying terlihat selesai, bukan benar-benar selesai.

Maka dari itu, persoalan bullying di sekolah ini harus benar-benar segera diselesaikan sampai ke akarnya. Jangan hanya dengan minta maaf lalu dianggap selesai. Harus ada sistem atau regulasi yang mengatur secara tegas. Mumpung masih anak sekolah, mumpung masih bisa dikontrol, mumpung belum terlambat.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bullying Masih Subur karena Sekolah Lebih Fokus Ngurusin Rambut dan Kaos Kaki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version