Pengguna Angkot Bandung Perlu Lebih Proaktif, Jangan Acuh Tak Acuh, dong! – Terminal Mojok

Pengguna Angkot Bandung Perlu Lebih Proaktif, Jangan Acuh Tak Acuh, dong!

Artikel

Mungkin buat teman-teman yang tinggal di Bandung atau sering berkunjung ke Bandung, udah nggak asing, lah, sama julukan Bandung sebagai kota sejuta angkot. Ya nggak berlebihan juga sih, mengingat memang angkot merupakan salah satu transportasi paling diandalkan di sana. Jaringan transportasi angkot Bandung bak urat nadi di dalam tubuh, ada di seluruh bagian kotanya.

Sebelum masa pandemi, operasional angkot Bandung sudah mulai jarang saat jam menunjuk angka pukul 21.00. Akan tetapi, di Bandung Barat, angkot beroperasi 24 jam. Jadi tidak perlu khawatir perihal transportasi.

Sebab jumlah angkot yang banyak sekali, pastinya para sopir angkot akan berlomba untuk mengambil sebanyak mungkin penumpang. Kalau istilah bisnisnya mungkin semacam red ocean, deh, kondisi bisnis narik angkot Bandung Raya, hehehe. Untuk menyiasati agar makin banyak penumpang yang naik, kadang angkot berjalan lamban kalau ada orang yang kelihatan berdiri di tepi jalan. Entah apa tujuannya dia berdiri, pokoknya didekati dan ditawari angkot.

Sebagian besar orang yang ditawari angkot itu menghadap ke arah angkot dan berdiri diam. Sebetulnya sopir-sopir angkot Bandung ini sudah memberikan isyarat apabila akan menawarkan kepada calon penumpang yang berdiri di tepi jalan tadi. Isyarat yang pertama adalah membunyikan klakson dari kejauhan. Kedua, tangan kondektur mengisyaratkan jari telunjuk ke atas yang kalau diartikan kurang-lebih “mau ikut?”

Isyarat dari angkot Bandung itu sudah sangat kooperatif dan mudah dipahami bahkan oleh orang yang jarang naik angkot sekalipun. Nah, masalahnya justru ada di calon penumpang yang berdiri di tepi jalan. Sebagai penumpang angkot, saya sudah lama mengawasi kalau banyak sekali, bisa dibilang sebagian besar, calon penumpang itu tidak merespons isyarat yang diberikan angkot. Mereka diam saja, tidak menolak atau melambaikan tangan minta disamperin. Baik yang berniat menumpang maupun tidak, buanyak yang tidak merespon.

Tindakan tidak merespons ini bikin si sopir angkot harus mengurangi kecepatan, menepi, dan menawarkan apakah penumpang tadi mau ikut? Kalau akhirnya dia mau ikut menumpang, sih, mending ya. Tapi, bagaimana jadinya kalau dia tidak ikut menumpang? Ya boros waktu lah, bro. Coba bayangkan, sudah angkot ini berjalan di lajur kiri alias memang kecepatannya tidak terlalu cepat, masih ditambah pula dengan harus “memanjakan” calon penumpang yang entah mau ikut atau tidak. Not to mention, kadang sudah disamperin dan ditanyain saja masih tidak dijawab. Wassalamualaikum.

Coba ya, kalau mereka yang memang tidak berniat naik angkot sedari awal memberi isyarat penolakan, tentu perjalanan angkot-angkot Bandung ini kian efektif. Apa susahnya menolak angkot? Saya tahu kalau angkot Bandung itu trayeknya banyak sekali, tapi terus terang, ya, mereka beda-beda kok penampakannya. Highlight warnanya itu sudah tampak walaupun dari jauh. Mestinya tidak susah lah kalau dari jarak sekitar 20-50 meter bisa membedakan apakah angkot ini merupakan angkot trayek kita atau bukan.

Sekarang lihat dampaknya ke pengguna jalan yang lain, terutama motor. Sebab, jalur angkot kebanyakan dipakai untuk motor. Angkot yang mengurangi kecepatan bikin motor terjebak. Mereka tidak bisa ke kiri atau ke kanan langsung. Pengguna motor juga menjadi “korban” para calon penumpang angkot Bandung yang manja ini.

Kalau akhirnya si pengendara motor berhasil mlipir ke sisi kanan, pasti di belakang juga ikut macet karena adanya perubahan pola perjalanan si motor tadi. Apalagi kalau angkotnya posisi ngebut ya. Wah, bisa-bisa jalanan macet karena kecelakaan angkot dan motor.

Terus terang, sistem angkot Bandung ini sudah keren menurut saya. Di mana lagi ada angkot 24 jam dan bisa diandalkan seperti di Bandung? Akan lebih baik lagi apabila masyarakat yang menikmati moda transportasi angkot juga punya partisipasi aktif memberikan isyarat balik ke pengemudi angkot, baik isyarat menerima maupun menolak. Walau hanya sebuah gestur kecil, kita tidak pernah tahu kalau itu bisa memberikan perubahan besar dalam dunia bisnis angkot Bandung. Nggak ada salahnya menghargai orang lain, kan?

BACA JUGA Posisi Duduk di Angkot yang Paling Keren di Tingkat Kecamatan

Baca Juga:  Pelarangan Otoped di Jalan, Bukti Polisi Belum Berpihak ke Pengguna Transportasi Umum
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.