Kos angker Jogja terasa biasa aja untuk saya.
Saya ini tipe orang yang cukup luwes soal urusan tempat tinggal, pun saya juga hobi gonta-ganti kosan. Waktu empat tahun menempuh studi di Malang, tercatat sudah empat kali pindah tempat tinggal.
Begitu lanjut studi di Jogja selama dua tahun, kebiasaan itu berlanjut. Dua tahun, dua kali pindah tempat. Dan uniknya, dua kosan murah yang pernah saya huni di Jogja itu kebetulan sama-sama punya reputasi dan cerita horor yang pekat. Alias terkenal sebagai kos angker Jogja.
Jujur saja, saya pribadi bukan tipe orang yang peduli dengan hal-hal mistis semacam itu. Sering kali justru orang lain yang ngeh duluan, sementara saya lempeng-lempeng saja. Bagi saya, selama kosan itu harganya murah, lokasinya terjangkau, dan bisa dipakai tidur nyenyak, ya saya kerasan-kerasan saja.
Masalahnya, ketidaktahuan atau ketidakpekaan saya itu sering kali berbenturan keras dengan persepsi orang lain. Tinggal di kosan murah yang dianggap angker itu mungkin tidak mengganggu kesehatan jiwa saya, tapi sukses bikin kawan-kawan yang mampir jadi kapok bertamu.
Terdengar Mitos suara drumband tengah malam yang bikin tamu gelisah
Di kosan pertama saya di Jogja, ujian persepsi itu muncul dalam bentuk suara. Pada malam-malam tertentu kerap terdengar suara drumband samar-samar dari kejauhan.
Awalnya saya cuek saja. Maklum, di kampung halaman saya di Jawa Timur, sekolah latihan drumband malam hari itu perkara lumrah. Namun, ternyata suara itu adalah sinyal “bahaya”. Di Jogja, ada mitos urban legendaris bahwa tabuhan drumband tengah malam adalah genderang iring-iringan pasukan Nyi Roro Kidul dari Laut Kidul menuju Gunung Merapi.
Saya awalnya juga tidak tahu, dan setelah menceritakan ke teman, dia akhirnya mengurungkan niat untuk mampir ke kosan saya.
Teman kapok bertamu ke kos gara-gara aura mistis kamar depan
Memasuki kosan kedua saat masa pandemi, suasananya makin sunyi karena banyak kamar kosong mangkrak. Di tempat inilah momen teman kapok bertamu terjadi secara nyata di depan mata saya.
Suatu sore menjelang maghrib, seorang kawan mampir ke kamar saya untuk main dan ngobrol. Sepanjang duduk di kamar,gerak-geriknya tampak serba salah dan tidak nyaman. Matanya berulang kali melirik ke arah luar pintu, dan dia terlihat terburu-buru ingin mengakhiri obrolan untuk pamit pulang.
Begitu dia sampai di rumahnya, ia memberitahu saya kalau teramat terganggu dengan kamar depan kosan saya.
Usut punya usut dari penghuni senior, kamar di depan saya itu memang sudah dibiarkan kosong mangkrak lebih dari lima tahun. Buat saya, kamar kosong ya sekadar kamar kosong yang berdebu. Tapi, buat kawan saya yang bertamu, area itu memancarkan teror gaib yang bikin dia kapok untuk sekadar datang ngopi lagi.
Kesaksian kawan yang cuma bertahan tiga bulan di kos angker Jogja ini
Reputasi kos angker Jogja tidak cuma merembet ke tamu saja, tapi juga ke teman yang mencoba tinggal menetap.
Seorang kawan yang sempat menyewa kamar di sebelah saya mendadak pamit pindah padahal baru berjalan dua bulan. Dia bercerita dengan raut wajah serius kalau sering mendapat “gangguan” berupa suara-suara aneh di tengah malam. Dia juga beberapa kali melihat samar-samar sosok mistis perempuan di sudut kamarnya.
Dia memilih menyerah dan merelakan sisa uang sewanya demi pindah ke tempat lain. Sementara saya? Ya tetap bertahan di kamar sebelah sambil menikmati sewa murahnya dengan santai.
Disambut pertanyaan horor oleh ibu penjual nasi
Puncak cerita absurd yang makin melengkapi reputasi kso angker murah tempat saya tinggal ini sewaktu saya baru kembali dari kampung halaman setelah sebulan lebih pulang.
Di depan kamar kosan, ibu-ibu penjual nasi itu menatap saya dengan raut wajah heran dan bertanya, “Lho, Mas, baru balik tah?” Setelah saya iyakan, ia kemudian mengatakan “Tak kira sudah dari kemarin-kemarin. Soalnya kemarin-kemarin kamar sampean kok rame banget, kayak ada suara perempuan…”
Saya cuma bisa manggut-manggut dan tersenyum, kemudian masuk kamar dan menggantang debu di dalam kamar. Iya, saya tidak terlalu peduli, bagi saya tempat ini tetaplah tempat berlindung yang murah dan aman.
Pengalaman tinggal di kos angker Jogja yang murah ini makin menguatkan ungkapan ada harga, ada rupa. Kalau kamu menuntut tempat tinggal yang benar-benar terang, bersih, asri, dan ramah untuk bertamu, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam untuk kosan yang agak mahal.
Akan tetapi, kalau anggaranmu pas-pasan, tak apa-apa memilih yang murah. Bagi orang yang cuek seperti saya, suasana “seram” itu sama sekali tak membahayakan nyawa dan tetap bisa ditinggali dengan nyaman. Cuma ya itu tadi, kamu harus siap-siap gigit jari karena kamar kosmu bakal sepi dari kunjungan teman-teman yang sudah kadung kapok duluan!
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Suka duka jadi pengelola kos-kosan di Jogja: harga murah belum tentu mudah terisi, justru bisa sebaliknya dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.