Saya kira sebagai orang Medan, makanan ekstrem itu bukan hal yang menakutkan bagi saya. Tapi semua berubah sebelum kenal swike
Sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang berasal dari Medan, saya tumbuh dengan rasa percaya diri yang agak berlebihan soal makanan. Sejak kecil, saya sudah terbiasa mendengar dan melihat langsung bagaimana sebagian orang di kota saya mengonsumsi ular, monyet, bahkan biawak tanpa banyak pertimbangan. Dari situ, saya merasa bahwa standar “ekstrem” dalam urusan makan sudah tidak ada lagi yang bisa mengejutkan saya.
Keyakinan itu saya bawa merantau ke Semarang tanpa banyak revisi. Dalam bayangan saya, makanan di Jawa Tengah cenderung “aman” dan tidak akan memberikan kejutan berarti. Saya pikir, paling mentok hanya beda rasa atau bumbu, bukan jenis hewan yang dikonsumsi.
Ternyata, hidup punya cara sendiri untuk menertawakan kesombongan seperti itu. Saya kenal swike dengan cara paling konyol, dan reaksi saya tidak sepadan dengan kesombongan saya.
Ajakan soto yang terlalu biasa
Semua bermula dari ajakan teman yang terdengar sangat wajar dan tidak mencurigakan sama sekali. “Ayo makan soto,” katanya, dengan nada santai yang tidak menyimpan tanda bahaya. Sebagai anak kos yang sering hidup di antara mi instan dan lauk seadanya, ajakan itu terasa seperti berkah kecil di tengah rutinitas.
Saya langsung mengiyakan tanpa banyak tanya. Tidak ada upaya klarifikasi, tidak ada rasa curiga, apalagi pikiran buruk. Soto bagi saya adalah zona nyaman yang tidak perlu dipertanyakan. Justru di situlah letak kesalahan saya, karena terlalu percaya bahwa semua soto diciptakan setara. Saya juga tidak mendapati tanda-tanda bahwa ini warung swike.
Sesampainya di warung, saya mulai menangkap beberapa hal yang terasa janggal. Mayoritas pembeli di sana adalah orang Tionghoa, yang membuat saya sedikit bertanya-tanya meskipun tidak terlalu saya pikirkan. Selain itu, harga sotonya jauh lebih mahal dibandingkan soto di sekitar kampus, bahkan bisa mencapai empat kali lipat.
Namun, saya tetap berusaha berpikir positif. Mungkin ini memang soto spesial dengan kualitas premium. Saya sempat membayangkan ayamnya dipelihara dengan standar tinggi atau bumbunya diracik dengan resep turun-temurun. Logika saya masih berusaha menenangkan kecurigaan yang sebenarnya sudah mulai muncul. Pengalaman ngakunya soto aslinya swike ini, bikin hidup saya berubah ke arah yang tidak saya pernah kira.
Mangkuk yang mengubah segalanya
Ketika soto itu datang, saya langsung merasa ada yang tidak beres. Kuahnya memang terlihat seperti soto pada umumnya, tetapi isi di dalamnya membuat saya berhenti sejenak. Dagingnya tampak sangat berotot dan bentuknya tidak seperti ayam yang biasa saya makan.
Yang paling mencurigakan adalah potongannya yang hanya berupa bagian kaki. Tidak ada bagian lain yang biasanya menjadi ciri khas ayam seperti dada atau sayap. Saya mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar variasi soto biasa. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan di balik kuah itu.
Dengan perasaan yang campur aduk, saya akhirnya memberanikan diri bertanya kepada teman saya. Jawaban yang saya terima sangat singkat, tetapi cukup untuk membuat dunia saya berubah seketika. Soto itu ternyata adalah swike, atau dalam bahasa yang lebih jujur, katak.
Di titik itu, saya langsung membayangkan katak yang selama ini saya kenal sebagai hewan yang hidup di tempat lembap dan sering melompat di sekitar selokan. Rasa mual mulai muncul, disertai keinginan untuk berhenti makan. Namun, situasi tidak berpihak kepada saya karena makanan itu sudah terlanjur disajikan dan bahkan sudah dibayari.
Gengsi, tapi terpaksa menghabiskan swike karena menghargai
Saya berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi, saya merasa jijik dan tidak siap menerima kenyataan bahwa saya sedang makan katak. Di sisi lain, saya tidak ingin terlihat lemah, apalagi dengan latar belakang saya sebagai orang Medan yang sering dianggap tidak pilih-pilih soal makanan.
Akhirnya, saya memilih untuk tetap menghabiskan swike tersebut. Setiap suapan terasa seperti kompromi antara gengsi dan kenyataan. Walaupun saya tidak benar-benar menikmati rasanya, saya tetap menyelesaikannya sebagai bentuk menghargai teman yang sudah mentraktir.
Pengalaman itu membuat saya belajar bahwa tidak semua hal bisa dinilai dari penampilan atau namanya saja. Sejak saat itu, saya menjadi lebih berhati-hati setiap kali menerima ajakan makan. Karena saya sadar, terkadang kejutan terbesar dalam hidup datang dari sesuatu yang terlihat paling biasa, seperti semangkuk soto.
Penulis: Willyam B. Permana Purba
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
