Joki skripsi adalah borok dunia pendidikan yang mementingkan hasil, serta bukti bahwa uang bisa membeli apa saja, termasuk gelar sarjana
Di sebuah warmindo yang buka 24 jam di kawasan Seturan, Yogyakarta, asap rokok mengepul tebal, beradu dengan uap rebusan mie instan. Di pojok ruangan yang agak gelap, duduk seorang pemuda kurus dengan mata pandanya yang legendaris. Jari-jarinya menari di atas keyboard laptop yang huruf ‘A’ dan ‘S’-nya sudah pudar.
Namanya sebut saja Bimo (tentu bukan nama asli, dia bisa digantung Rektorat kalau ketahuan). Bimo bukan sedang mengerjakan tugasnya sendiri. Dia sudah lulus dua tahun lalu dengan predikat Cumlaude dari jurusan Sosiologi.
Malam itu, Bimo sedang mengerjakan Bab 4 Skripsi milik seorang mahasiswa Hukum dari universitas swasta elit di Jakarta.
“Ini skripsi kelima bulan ini, Mas,” kata Bimo sambil menyeruput kopi sachet yang sudah dingin. “Lumayan, buat bayar kos sama kirim orang tua di kampung. Kalau ngarepin kerja kantoran, ijazah saya cuma laku buat alas gorengan.”
Selamat datang di dunia bawah tanah pendidikan Indonesia. Jika tulisan Mojok sebelumnya membahas kos bebas sebagai saksi mahasiswa mesum tanpa modal, maka izinkan saya, Roh Widiono, mengajak Anda menyelami dunia joki skripsi. Sebuah ekosistem di mana otak encer diperjualbelikan seperti kacang goreng, dan gelar sarjana bisa dibeli semudah membeli paket data.
Pasar gelap akademik yang terang-terangan
Dulu, joki skripsi itu mainnya sembunyi-sembunyi. Transaksinya di lorong perpustakaan atau kos-kosan tertutup. Tapi sekarang? Coba buka Twitter atau Instagram. Ketik kata kunci “Jasa Bimbingan Skripsi” atau “Konsultan Tugas Akhir”.
Anda akan menemukan ratusan akun dengan desain feed pastel yang estetik, menawarkan jasa pembuatan skripsi “Full Paket Sampai Wisuda”. Testimoninya bertebaran. Screenshot chat mahasiswa yang bilang, “Makasih Kak, aku dapat A, dosennya nggak curiga sama sekali!”
Bimo adalah salah satu dari ribuan “hantu” di balik akun-akun itu.
“Klien saya macem-macem, Mas,” cerita Bimo. “Ada anak pejabat yang sibuk flexing di Instagram, ada aktivis kampus yang sibuk demo tapi lupa kuliah, sampai mbak-mbak selebgram yang butuh gelar biar kelihatan smart di bio medsos.”
Ironinya sungguh menampar ulu hati. Bimo, si jenius miskin, harus melacurkan otaknya demi mengerjakan tugas si kaya yang malas.
Ini bukan sekadar tolong-menolong. Ini adalah Pelacuran Intelektual. Bimo menjual idealismenya, menjual jam tidurnya, dan menjual kejujurannya demi nominal rupiah yang—kalau dihitung per jam—sebenarnya masih di bawah UMR.
Tarif dan paket joki skripsi
Berapa harga sebuah gelar Sarjana di pasar gelap ini?
“Tergantung jurusan dan tingkat kesulitan, Mas,” jelas Bimo. “Kalau Soshum kisaran 3 sampai 5 juta. Kalau Saintek bisa 7 sampai 10 juta, apalagi kalau butuh olah data lab yang rumit.”
Ada paket “Terima Beres”. Mahasiswa tinggal duduk manis, terima file jadi, lalu menghafal naskah saat sidang. Bahkan, Bimo menyediakan layanan “Simulasi Sidang”. Dia akan berakting jadi dosen penguji galak via Zoom, melatih kliennya cara menjawab pertanyaan biar nggak kelihatan bego-bego amat.
“Yang paling susah itu bukan ngerjain skripsinya,” keluh Bimo. “Tapi ngajarin kliennya buat paham apa yang saya tulis. Kadang saya mikir, ini anak kuliah 4 tahun ngapain aja? Definisi variabel aja nggak ngerti.”
Saya tertawa getir. Bayangkan, kelak anak-anak ini lulus, pakai toga, foto wisuda bareng orang tua yang bangga, lalu kerja di posisi strategis. Padahal skripsinya adalah hasil keringat dingin Bimo di pojokan Warmindo.
BACA JUGA: Pengalaman Saya Menjadi Joki Skripsi yang Penghasilannya Nggak Main-main
Dosen yang tutup mata
Pertanyaan terbesarnya adalah: Ke mana para dosen?
Apakah mereka tidak curiga melihat mahasiswa yang selama kuliah jarang masuk, tugasnya berantakan, tiba-tiba menyerahkan draf skripsi yang kalimatnya runut, teorinya mendalam, dan analisisnya tajam setara S2?
“Dosen itu sebenernya tahu, Mas,” kata Bimo sambil menyalakan rokok keduanya. “Tapi banyak dosen yang juga males. Males ngoreksi, males bimbingan. Asal formatnya bener, kutipannya ada, ya udah di-ACC biar cepet lulus. Akreditasi jurusan juga butuh kelulusan tepat waktu, kan?”
Di sinilah letak bobroknya sistem kita. Ini adalah simbiosis parasitisme yang sempurna.
Mahasiswa butuh gelar, Joki butuh uang, Dosen butuh mahasiswanya lulus biar administrasi beres. Semua senang. Yang menangis adalah Kualitas Pendidikan dan Kejujuran Akademik yang mati suri di sudut kampus.
Tragedi Mahasiswa Pintar yang Terpinggirkan
Bimo bukan satu-satunya. Di Jogja, Malang, Semarang, dan kota pendidikan lainnya, ada ribuan Bimo.
Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa pintar, penerima beasiswa, atau anak rantau yang uang bulanannya pas-pasan. Mereka punya otak, tapi tidak punya uang. Akhirnya, mereka terpaksa menjadi bayang-bayang.
Saya pernah mendengar cerita teman Bimo, sebut saja Rian. Rian pernah jadi joki skripsi milik seorang anak orang kaya. Saat wisuda, si anak orang kaya itu dapat predikat Wisudawan Terbaik berkat skripsi buatan Rian. Si anak kaya dielu-elukan, dapat bunga, dapat hadiah mobil dari bapaknya.
Sementara Rian cuma bisa melihat dari jauh, sambil makan nasi kucing teri, karena honor jokinya baru cair setengah.
“Sakit hati nggak?” tanya saya. “Awalnya sakit, Mas. Tapi lama-lama biasa. Hidup emang nggak adil. Yang penting besok bisa makan,” jawab Rian waktu itu.
Joki skripsi dan moralitas yang digadaikan demi susu anak
Jangan kira para joki skripsi ini tidak punya beban moral. Bimo mengaku sering merasa bersalah.
“Saya ngerasa dosa, Mas. Saya ngebantu orang bodoh dapet ijazah. Bayangin kalau klien saya ini anak Teknik Sipil, terus nanti dia bangun jembatan. Jembatannya roboh gimana? Kan saya yang ngerjain itungan bebannya,” ujar Bimo dengan tatapan kosong.
Tapi rasa bersalah itu langsung hilang begitu notifikasi M-Banking berbunyi. Ting! Transferan masuk.
Bagi Bimo yang harus membiayai adiknya sekolah dan membayar kos yang nunggak, moralitas adalah barang mewah yang tidak bisa dimakan. Idealisme tidak bisa dipakai buat beli token listrik.
Toga palsu dan masa depan yang suram
Malam semakin larut di Seturan. Suara motor knalpot brong sesekali terdengar. Bimo menutup laptopnya. Bab 4 sudah selesai. Besok tinggal olah data SPSS.
Fenomena joki skripsi ini adalah cermin retak wajah pendidikan kita. Kita terlalu memuja selembar kertas bernama ijazah, tapi abai pada proses mendapatkannya.
Selama kampus masih menjadi pabrik pencetak gelar, dan selama perusahaan masih mensyaratkan “Minimal S1 Segala Jurusan” tanpa tes kompetensi yang benar, maka profesi Joki Skripsi akan tetap abadi.
Mereka akan terus ada di warung kopi, di kamar kos sempit, menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi mahasiswa malas, dan menjadi penjahat bagi integritas akademik.
Saya meninggalkan Bimo yang sedang memesan Indomie telur kornet. Dalam hati saya berdoa, semoga kelak saat Bimo punya anak, anaknya tidak perlu menyewa jasa bapaknya sendiri untuk lulus kuliah.
Dan bagi kalian, mahasiswa yang sedang membaca tulisan ini sambil menunggu draf skripsi kalian dikerjakan orang lain: malu, woy, malu sama toga!
Penulis: Roh Widiono
Editor: Rizky Prasetya
