ADVERTISEMENT

Pemuda Blora tak punya pilihan pekerjaan di daerahnya sendiri, merantau adalah pilihan paling realistis

Pemuda Blora tak punya pilihan pekerjaan di daerahnya sendiri, merantau adalah pilihan paling realistis

Menjadi orang Blora membuat saya akrab dengan satu kenyataan: kalau ingin mencari pekerjaan dengan pilihan yang lebih beragam, maka kita perlu bersiap-siap meninggalkan kampung halaman. Bukan, bukan karena Blora tidak punya apa-apa, apalagi karena saya malu menjadi orang Blora. Saya dan mungkin banyak anak muda di Blora merasa, untuk urusan mencari penghidupan Blora belum cukup tangguh untuk diandalkan.

Terhitung sudah hampir satu dekade saya memutuskan merantau. Awalnya untuk kuliah, lalu berlanjut mencari pekerjaan. Saya kira merantau memang bagian dari proses menjadi dewasa. Namun, setelah menjalaninya bertahun-tahun, saya mulai berpikir bahwa bagi pemuda Blora seperti saya, merantau bukan lagi perkara ingin melihat dunia yang lebih luas. Justru memang dipaksa oleh keadaan.

ADVERTISEMENT

Saya tidak sedang menuntut Blora punya gedung pencakar langit atau kawasan industri sebesar kota-kota besar. Saya cuma masih penasaran, dengan segala potensi yang dimiliki, mengapa mencari pekerjaan yang layak di daerah sendiri masih terasa amat sulit ampun-ampunan?

Blora punya lahan pertanian luas, tetapi belum cukup menjanjikan untuk diandalkan

Kalau bicara soal keunggulan Blora, pertanian tentu tidak bisa dilewatkan. Saya tumbuh dengan kenyataan bahwa daerah ini punya lahan pertanian yang luas, hutan jati, peternakan, dan berbagai sumber penghidupan lainnya. Jadi, rasanya berlebihan kalau kita menyebut Blora tidak punya modal untuk maju dan berkembang.

BPS mencatat luas panen padi Blora pada 2025 mencapai 104.159 hektare, dengan produksi sekitar 526.724 ton gabah kering giling. Potensinya juga terlihat dari komoditas perkebunan. Data statistik perkebunan rakyat 2025 mencatat produksi tebu Blora mencapai 71.188 ton, sementara tembakau asepan mencapai 4.391 ton.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa Blora memiliki basis produksi pertanian yang besar. Maka Blora bukan daerah yang harus memulai pembangunan dari nol.

Namun, ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar berapa ton padi berhasil dipanen: berapa besar hasil pertanian itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya?

Sebab saya punya keyakinan bahwa anak muda Blora tidak semuanya ingin menjadi petani. Ada yang ingin berdagang, bekerja di kantor, mengembangkan bisnis digital, atau menekuni pekerjaan lain sesuai kemampuannya. Tentu itu semua bukan berarti mereka meremehkan peluang di sektor pertanian.

Yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana sektor pertanian bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang lebih luas. Hasil panen bisa diolah, dipasarkan, dan dikembangkan menjadi usaha yang menyerap tenaga kerja. Dengan begitu, peluang kerja tidak berhenti di sawah, tetapi dapat tumbuh dari berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan dengannya.

Kalau pertanian Blora jadi andalan, petaninya jangan dibiarkan berjuang sendirian

Saya tidak punya masalah jika pemerintah daerah menjadikan pertanian sebagai salah satu andalan pembangunan. Bahkan saya malah setuju soal gagasan tersebut. Justru akan aneh jika potensi di sektor pertanian diabaikan hanya demi mengejar citra sebagai daerah industri. Namun, menjadikan pertanian sebagai unggulan tentu tidak cukup dengan menyebutnya berulang kali dalam dokumen perencanaan atau hanya dengan memamerkan hasil panennya.

ADVERTISEMENT

Petani membutuhkan banyak hal yang lebih konkret: irigasi yang berfungsi, pupuk yang mudah diakses, pendampingan, akses modal, dan harga jual yang masuk akal. Sebab, menghasilkan panen saja tidak cukup jika keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya dan risiko yang ditanggung.

Dalam dokumen RKPD Kabupaten Blora yang ditulis di tahun 2026, pemerintah daerah rasanya memang sudah menyoroti rendahnya imbal hasil sektor pertanian dan tantangan regenerasi petani. Artinya, persoalan ini bukan sekadar keluhan orang yang kebetulan lewat sawah lalu mendadak merasa paling paham nasib petani.

Kalau pemerintah sendiri sudah mengenali masalahnya, tugas berikutnya adalah memastikan kebijakan benar-benar menjawab persoalan tersebut. Petani tidak cukup diberi semangat agar generasi muda mau meneruskan pekerjaan mereka. Anak muda juga perlu melihat bahwa pertanian bisa menjadi sumber penghidupan yang masuk akal.

Bayangkan jika hasil pertanian Blora dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, dipasarkan dengan lebih baik, dan melahirkan usaha-usaha baru. Akan ada kebutuhan tenaga kerja di bidang pengolahan pangan, distribusi, pemasaran, hingga pengembangan teknologi pertanian. Peluang seperti ini bukan mustahil bisa membuka jalan bagi anak muda yang ingin bekerja diberbagai sektor.

Jadi, persoalannya bukan menyuruh anak muda menetap dan mengolah sawahnya. Persoalannya adalah bagaimana membuat potensi pertanian benar-benar menghasilkan kesempatan hidup yang lebih baik bagi masyarakat Blora.

Sudah bekerja belum tentu hidupnya baik-baik saja

Ada satu hal yang sering luput ketika kita membicarakan pekerjaan: orang yang sudah bekerja belum tentu sudah sejahtera. Statistik pengangguran memang penting, tetapi angka itu tidak menceritakan seluruh keadaan orang-orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Blora pada Agustus 2025 sebesar 3,61 persen. Pada periode yang sama, sebanyak 553.710 penduduk tercatat bekerja. Namun, dari jumlah tersebut, 382.552 orang atau sekitar 69,09 persen bekerja di sektor informal.

Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa pekerjaan informal selalu buruk. Berdagang kecil-kecilan atau menjalankan usaha sendiri juga bisa menghasilkan pendapatan yang halal dan amat baik. Namun, besarnya proporsi pekerja informal layak menjadi bahan renungan tentang kepastian penghasilan, perlindungan kerja, dan keberlanjutan usaha.

Saya sendiri tahu bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang langsung memperoleh pekerjaan. Saya juga tidak pernah berpikir bahwa setelah kuliah, pekerjaan bagus harus datang mengetuk pintu rumah sambil membawa surat pengangkatan. Tetapi, bukankah wajar jika seseorang berharap pendidikan dan keterampilan yang dimilikinya bisa digunakan untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik?

Masalahnya, kesempatan tersebut tidak selalu mudah ditemukan di daerah sendiri. Akhirnya, warga Blora seperti saya mulai melirik kota lain. Di sana ada lebih banyak peluang karena tumbuhnya berbagai perusahaan, jenis pekerjaan, dan kemungkinan untuk mencoba hal baru. Tentu saja, semuanya tidak gratis. Ada biaya kos, makan, transportasi, dan pengeluaran lain yang harus dibayar dari penghasilan sendiri.

Kadang-kadang, merantau malah membuat sesorang sibuk bekerja hanya untuk membiayai kehidupan selama bekerja. Tetapi setidaknya ada peluang mendapatkan penghasilan yang mencukupi.

Perantau pasti ingin pulang ke kampung halaman tanpa harus kehilangan kesempatan mendatkan penghasilan layak

Saya tidak pernah menyesali keputusan merantau dari Blora. Namun, bukan berarti saya ingin selamanya berada di kota orang lain hanya demi mencari penghidupan yang layak. Saya ingin tujuan pulang ke Blora bukan sekadar untuk bertemu keluarga saat libur, tetapi juga karena ada kesempatan pekerjaan yang bisa diandalkan di kampung halaman sendiri.

Selanjutnya pesan saya, pemerintah daerah atau Pemkab tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan proker demi menjadikan Blora seperti kota-kota industri yang sudah besar. Cukup kelola potensi yang sudah ada dengan serius, dukung petani, kembangkan usaha lokal, dan buka kesempatan kerja yang lebih beragam. Sebab, keberhasilan pembangunan bukan diukur dari seberapa banyak program yang diluncurkan, melainkan seberapa banyak warga yang bisa hidup layak tanpa harus merantau ke luar  daerah.

Sebab bagi saya, merantau seharusnya menjadi pilihan untuk mencari pengalaman, bukan keterpaksaan karena kesempatan di daerah sendiri yang terbatas. Pun akan percuma jika terus mengajak anak muda mencintai kampung halaman kalau untuk menyambung hidup saja mereka harus pergi ke kota lain.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Privilege Jadi Warga Blora yang Susah Ditandingi Daerah Lain: Daerah Tersepi, tapi Justru Punya Kualitas Tiada Banding dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Dimas Junian Fadillah

Magister Administrasi Publik, tertarik menulis isu lokal, politik dan kebijakan publik.